Krisis kualitas air bersih yang sempat melanda ribuan pelanggan di Kota Pahlawan membuka tabir rapuhnya koordinasi pemantauan baku mutu air di Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas. Menyusul insiden pencemaran yang memicu air keruh, berbusa, dan berbau pada Minggu (6/9), Perusahaan Umum Daerah Air Minum (PAM) Surya Sembada Surabaya bergerak cepat memperketat benteng pengawasan dengan menuntut integrasi sistem pemantauan hulu.
Manajemen PAM Surya Sembada secara resmi meminta pembukaan akses penuh terhadap Sistem Peringatan Dini (Early Warning System/EWS) kualitas air yang dikelola oleh Perum Jasa Tirta I (PJT I). Langkah ini dinilai krusial untuk mencegah kelumpuhan instalasi pengolahan air minum saat limbah pekat menerjang Kali Surabaya.
Kronologi Pencemaran dan Gangguan Distribusi
Berdasarkan penelusuran tim investigasi lapangan, memburuknya kualitas pasokan air ke pelanggan bermula dari fluktuasi tajam beban polutan di badan air Kali Surabaya. Berikut rangkaian peristiwa yang terjadi:
- Minggu Dini Hari (6/9): Terjadi lonjakan polutan tak terduga di intake pengolahan air baku. Air Kali Surabaya tampak berbusa tebal dan mengeluarkan aroma menyengat, mengindikasikan masuknya buangan limbah organik atau kimia dari arah hulu.
- Minggu Pagi: Tingkat kekeruhan (turbiditas) dan senyawa polutan melampaui ambang batas normal kapasitas filtrasi standar, memaksa operator instalasi memperlambat debit pengolahan guna menjaga stabilitas kimiawi air.
- Minggu Siang hingga Malam: Tekanan distribusi ke pelanggan menurun drastis, disusul gelombang keluhan warga di sejumlah wilayah Surabaya terkait air keran yang berwarna kecokelatan serta berbau tidak sedap.
- Senin (7/9): Tim teknis berhasil menstabilkan proses pengolahan melalui injeksi bahan koagulan tambahan dan proses aerasi, namun keterlambatan mitigasi awal menjadi catatan evaluasi kritis.
"Keterlambatan data kualitas air dari hulu membuat respons pengolahan bersifat reaktif. Kami membutuhkan akses data sensor telemetri secara langsung agar mitigasi dapat dilakukan sebelum air terkontaminasi masuk ke pintu intake," ungkap perwakilan teknis PAM Surya Sembada.
Urgensi Transparansi Data Hulu demi Mutu Air
Ketergantungan Kota Surabaya terhadap pasokan Kali Surabaya mencapai lebih dari 90 persen dari total kebutuhan air baku harian. Ketika limbah industri atau domestik dari wilayah hulu terlepas tanpa pengawasan ketat, instalasi seperti IPAM Karangpilang dan IPAM Ngagel menanggung beban pengolahan yang sangat berisiko.
Melalui integrasi EWS milik PJT I, PAM Surya Sembada berharap dapat memantau parameter kunci secara real-time, antara lain:
- Dissolved Oxygen (DO): Penurunan kadar oksigen terlarut yang mendadak sebagai indikator utama lonjakan polutan organik.
- Tingkat Kekeruhan (NTU): Fluktuasi lumpur dan sedimen agar takaran koagulan dapat disesuaikan otomatis.
- Derajat Keasaman (pH) dan Konduktivitas: Mendeteksi anomali pembuangan limbah kimia industri sebelum mencapai pintu air intake.
Langkah kolaboratif ini mendesak direalisasikan bukan sekadar sebagai tindakan antisipatif teknis, melainkan wujud perlindungan hak dasar warga Surabaya atas akses air minum yang aman, bersih, dan higienis.
Comments (0)