Bulog Kembangkan 102 Ribu Hektare Lahan Pangan di Papua Selatan

Perum Bulog mengumumkan rencana ambisius pengembangan 102 ribu hektare lahan di Papua Selatan sebagai kawasan pangan nasional. Proyek bertajuk “Mandiri Pangan Timur” ini akan difokuskan di Kabupat...

Jul 11, 2026 - 17:03
0 0
Bulog Kembangkan 102 Ribu Hektare Lahan Pangan di Papua Selatan

Perum Bulog mengumumkan rencana ambisius pengembangan 102 ribu hektare lahan di Papua Selatan sebagai kawasan pangan nasional. Proyek bertajuk “Mandiri Pangan Timur” ini akan difokuskan di Kabupaten Merauke yang memiliki kontur tanah dan iklim cocok untuk budidaya padi, jagung, dan kedelai. Direktur Utama Bulog, Budi Waseso, menyatakan bahwa papua selatan bakal menjadi lokomotif baru ketahanan pangan Indonesia. “Kita sudah selesai memetakan 102 ribu hektare yang siap tanam dalam dua tahun ke depan. Target kita adalah surplus beras untuk Indonesia timur,” tegasnya dalam konferensi pers di Jakarta.

Kesuksesan uji coba modernisasi pertanian di Merauke menjadi fondasi optimisme Bulog. Di lahan percontohan seluas 5.000 hektare, hasil panen padi meningkat hingga 300% setelah penerapan mekanisasi, benih unggul, serta sistem irigasi pintar. Petani lokal dilibatkan langsung dalam program ini dan diberikan pelatihan teknis. “Kami tidak mau petani hanya jadi penonton. Mereka kita jadikan pelaku utama,” kata Kepala Divisi Pengembangan Bulog, Agus Sudaryanto. Pemerintah daerah pun menyambut baik karena program ini berpotensi membuka 20 ribu lapangan kerja baru dan menekan angka kemiskinan di wilayah perbatasan.

Tahap pertama pembukaan lahan akan dimulai pada Agustus 2026 dengan menggandeng TNI Angkatan Darat untuk pembersihan dan pengolahan tanah. Selanjutnya, 30 ribu hektare akan ditanami padi varietas Inpari 32, sementara sisanya untuk jagung dan kedelai guna mendukung program swasembada pakan ternak. Bulog juga membangun dua unit penggilingan besar serta lumbung pengering modern agar hasil panen tidak terbuang. “Selama ini kendala di Papua adalah rantai distribusi. Kita siapkan infrastruktur dari hulu ke hilir,” ujar Budi.

Dengan luasnya lahan yang dikelola, Bulog optimistis produksi beras dari Merauke bisa mencapai 600 ribu ton per tahun mulai 2028. Angka ini signifikan mengingat kebutuhan beras nasional diperkirakan meningkat seiring pertumbuhan penduduk. Para ahli pertanian menilai langkah ini sangat strategis, namun perlu diimbangi dengan pengelolaan lingkungan yang ketat mengingat sebagian area merupakan hutan adat dan habitat satwa endemik. Aktivis lingkungan sudah menyatakan kekhawatiran mereka. Menanggapi hal tersebut, Bulog berjanji akan menyisakan 20% lahan sebagai zona konservasi dan melibatkan masyarakat adat dalam pengelolaan.

Kepala Badan Pangan Nasional, Arief Prasetyo, mengunjungi langsung lokasi dan menyatakan dukungannya. “Kawasan ini akan menjadi sentra pangan yang bukan hanya untuk Papua, tapi seluruh Indonesia. Kita duplikasi sukses Merauke ke kabupaten lain di Papua Selatan,” ucapnya. Simulasi panen raya yang digelar pekan lalu menunjukkan hasil yang menggembirakan: rata-rata produksi 7,5 ton gabah kering per hektare, jauh di atas rata-rata nasional 5,2 ton. Keberhasilan ini diharapkan menarik minat investor swasta untuk turut serta membangun industri pangan di Bumi Cenderawasih.

[TAGS]: Bulog, Papua Selatan, Merauke, Ketahanan Pangan, Pertanian Modern [SOCIAL_TWEET]: 102 ribu hektare di Papua Selatan siap jadi lumbung pangan Indonesia. Bulog klaim sukses modernisasi di Merauke tingkatkan hasil panen 300%. #KetahananPangan #PapuaSelatan [SOCIAL_FB]: Breaking: Perum Bulog akan mengembangkan 102 ribu hektare lahan di Papua Selatan. Uji coba di Merauke berhasil mendongkrak hasil pertanian hingga 300%. Ini langkah besar menuju swasembada pangan. Baca detailnya. [SOCIAL_TG]: Bulog dorong Papua Selatan jadi kawasan pangan super. 102 ribu ha siap tanam, hasil percontohan melesat 300%. Laporan lengkap di sini. [SOCIAL_THREADS]: Merauke bersiap jadi sentra pangan nasional. Bulog buka 102 ribu hektare lahan baru dengan target produksi beras 600 ribu ton/tahun. Program ini juga melibatkan masyarakat adat dan sisakan zona konservasi. Detail di bawah.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User