Sep 14, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

Sains

BULELENG — 850 Murid SD Semarakkan Lomba Olahraga Tradisional FOK Undiksha

Di tengah kepungan gawai yang kian mendominasi aktivitas anak usia dini, aroma tanah dan gelak tawa kembali membuncah di Kabupaten Buleleng, Bali. Sebanyak

BULELENG — 850 Murid SD Semarakkan Lomba Olahraga Tradisional FOK Undiksha

Di tengah kepungan gawai yang kian mendominasi aktivitas anak usia dini, aroma tanah dan gelak tawa kembali membuncah di Kabupaten Buleleng, Bali. Sebanyak 850 murid sekolah dasar dari berbagai penjuru wilayah turun ke lapangan untuk menguji ketangkasan dalam kejuaraan permainan tradisional. Langkah ini menjadi antitesis nyata terhadap fenomena adiksi layar digital yang kian meresahkan para pendidik dan orang tua.

Gelaran yang diinisiasi oleh Fakultas Olahraga dan Kesehatan Universitas Pendidikan Ganesha (FOK Undiksha) ini bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Buleleng serta Kelompok Kerja Guru Olahraga (KKGO) Kecamatan Buleleng. Penyelenggaraan event ini tidak sekadar mengejar piala, tetapi membedah kembali nilai-nilai kearifan lokal yang mulai luntur di era modernisasi.

Menggali Akar Budaya di Tengah Gempuran Gadget

Kompetisi ini melibatkan kontingen dari lima kecamatan krusial, yaitu Tejakula, Sawan, Sukasada, Buleleng, dan Gerokgak. Terdapat empat jenis cabang olahraga tradisional yang dipertandingkan: terompah panjang, estafet lari balok, hadang (yang akrab dikenal warga lokal sebagai megala-gala), serta tarik tambang. Seluruh cabang menuntut kombinasi antara ketangkasan fisik, konsentrasi tinggi, strategi taktis, dan kekompakan tim yang solid.

Dalam format pertandingan, kategori terompah panjang membagi persaingan secara eksplisit untuk kelompok putra dan putri. Sementara itu, tiga cabang lainnya—estafet lari balok, hadang, dan tarik tambang—mengusung konsep kategori campuran. Pendekatan inklusif ini dinilai efektif dalam membangun komunikasi gender sejak dini di lingkungan sekolah.

"Permainan tradisional bukan sekadar nostalgia masa lalu, melainkan laboratorium sosial di mana anak-anak belajar kepemimpinan, kepatuhan pada aturan, dan empati secara simultan. Nilai-nilai ini yang sering hilang ketika mereka berhadapan dengan layar gawai," ungkap salah satu pengamat pendidikan olahraga yang menyoroti jalannya kompetisi.

Dominasi SDN 3 Banjar Jawa dan Peta Persaingan

Persaingan sengit berdurasi penuh keringat ini akhirnya menempatkan SDN 3 Banjar Jawa sebagai sekolah tersukses dalam mengumpulkan medali. Sekolah dasar urban tersebut berhasil membawa pulang dua medali emas dan satu medali perunggu. Dua medali emas dipersembahkan dari nomor terompah panjang putri dan tarik tambang campuran, sedangkan medali perunggu disumbangkan oleh tim terompah panjang putra.

Kejutan juga terjadi di beberapa kategori lain. Pada cabang terompah panjang putra, gelar juara pertama disabet oleh SDN 1 Kampung Baru, disusul SDN 1 Banjar Jawa di peringkat kedua, dan SDN 3 Banjar Jawa di posisi ketiga. Sementara itu, SD Dana Punia Singaraja harus puas menduduki posisi juara harapan.

Berikut adalah perincian raihan posisi terdepan dalam kejuaraan olahraga tradisional Buleleng:

Kategori Lomba Juara 1 Juara 2 Juara 3
Terompah Panjang Putra SDN 1 Kampung Baru SDN 1 Banjar Jawa SDN 3 Banjar Jawa
Terompah Panjang Putri SDN 3 Banjar Jawa SDN 2 Petandakan SDN 1 Banjar Jawa
Estafet Lari Balok (Campuran) SDN 2 Petandakan SDN 2 Penglatan -

Investigasi Lapangan: Menjaga Keberlanjutan Tradisi

Fenomena menarik terlihat dari bagaimana sekolah-sekolah di luar pusat kota seperti SDN 2 Petandakan menunjukkkan dominasi pada cabang estafet lari balok campuran. Hal ini membuktikan bahwa potensi atletis anak-anak di kawasan sub-urban Buleleng sangat merata jika diberikan panggung yang memadai.

Namun, tantangan terbesar pasca-kejuaraan ini adalah menjaga keberlanjutan tradisi tersebut. Para akademisi dari FOK Undiksha mendorong agar permainan tradisional tidak hanya hadir saat gelaran seremonial atau lomba tahunan, melainkan diintegrasikan secara masif ke dalam kurikulum muatan lokal dan aktivitas ekstrakurikuler sekolah.

Tanpa adanya intervensi kebijakan pendidikan yang konkret dari dinas terkait, momentum emas membangkitkan megala-gala dan terompah panjang ini dikhawatirkan akan kembali redup, terkikis oleh derasnya arus digitalisasi hiburan anak-anak modern.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS dina-aulia

Reporter Investigasi. Meliput isu lingkungan, tambang ilegal, dan deforestasi.

Comments (0)

User