Kepulan asap pekat dan bara api yang membakar tumpukan sampah di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Galuga, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, masih belum sepenuhnya dapat dikendalikan. Petugas gabungan lintas wilayah dari Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor terpaksa melipatgandakan personel serta armada pemadam kebakaran hingga dini hari guna melokalisasi titik api yang terus memicu polusi udara berbahaya.
Investigasi di lapangan menunjukkan bahwa karakter kebakaran di area pembuangan akhir memiliki tingkat kompleksitas tinggi. Api tidak hanya membakar material plastik dan sampah kering di permukaan, melainkan merambat di bawah permukaan akibat keberadaan gas metana alami yang tersimpan di dalam gunungan sampah puluhan meter.
Kronologi dan Eskalasi Api di TPAS Galuga
Berdasarkan catatan tim investigasi dan laporan operasional lapangan, eskalasi kebakaran terjadi melalui serangkaian tahapan kritis:
- Deteksi Titik Asap Awal: Percikan api pertama kali terpantau di salah satu zona pembuangan aktif, diduga terpicu oleh kombinasi cuaca terik ekstrem dan reaksi panas tumpukan gas metana.
- Perambatan Bawah Tanah: Angin kencang mempercepat penyebaran bara ke zona penyangga, sementara api bawah tanah (subsurface fire) menyebar tanpa terlihat dari permukaan.
- Mobilisasi Armada Gabungan: Puluhan unit mobil damkar dari sektor Kota dan Kabupaten Bogor dikerahkan untuk melakukan teknik penyiraman dan pendinginan (cooling down) secara intensif.
- Penetapan Status Darurat Lokal: Otoritas lingkungan hidup mulai memetakan zona bahaya asap tebal yang mengancam permukiman di sekitar kawasan Cibungbulang dan sekitarnya.
"Kondisi di TPAS berbeda dengan kebakaran pemukiman biasa. Begitu permukaan disiram padam, bara di lapisan bawah masih hidup dan bisa menyala kembali sewaktu-waktu tersapu angin kencang. Kami harus membongkar tumpukan sambil menyuntikkan air bertekanan tinggi," ungkap salah satu koordinator lapangan damkar.
Ancaman Gas Metana dan Kendala Lapangan
Tantangan utama yang dihadapi petugas adalah bahaya toksisitas asap serta kerentanan struktur gunungan sampah yang labil. Risiko longsor sampah sewaktu proses penyemprotan memaksa petugas menjaga jarak aman, yang pada akhirnya memperlambat proses pemadaman langsung ke titik inti panas.
- Akumulasi Gas Metana: Kantong gas metana yang terperangkap memicu ledakan-ledakan kecil di bawah tumpukan sampah.
- Keterbatasan Pasokan Air: Kebutuhan air skala masif mengharuskan truk tangki bolak-balik mengambil pasokan dari sumber air terdekat yang debitnya mulai menyusut.
- Jarak Pandang Minim: Ketebalan asap pekat membatasi visibilitas operator alat berat dan pengemudi armada pemadam pada malam hari.
Opsi Teknologi Modifikasi Cuaca Diusulkan
Melihat besarnya luasan area yang terbakar dan risiko kesehatan masyarakat sekitar yang semakin meningkat, pemerintah daerah kini mempertimbangkan langkah darurat non-konvensional. Otoritas teknis mengusulkan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau hujan buatan dengan menggandeng Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta BMKG.
Langkah intervensi cuaca ini dinilai paling efektif untuk membasahi seluruh permukaan dan pori-pori gunungan sampah secara serentak. Jika rekayasa atmosfer berhasil menurunkan hujan dengan intensitas lebat di atas kawasan Galuga, potensi kebakaran bawah tanah dapat dinonaktifkan secara permanen, sekaligus membersihkan partikel debu polutan yang mencemari udara Bogor bagian barat.
Comments (0)