Bener Meriah — Mendagri Apresiasi Swadaya Warga Perbaiki Jalan Pascabanjir
Aroma tanah basah masih menyelimuti udara di sepanjang ruas Jalan Enang-Enang, Kabupaten Bener Meriah, Aceh. Genangan air telah surut, tetapi jejak destruk
Aroma tanah basah masih menyelimuti udara di sepanjang ruas Jalan Enang-Enang, Kabupaten Bener Meriah, Aceh. Genangan air telah surut, tetapi jejak destruktif banjir dan tanah longsor yang menerjang pada akhir November 2025 masih membekas dalam: aspal terkelupas, badan jalan amblas, dan retakan selebar puluhan sentimeter menganga di beberapa titik. Di tengah keterbatasan akses dan menunggu datangnya alat berat, warga setempat memilih turun tangan. Dengan peralatan seadanya—cangkul, sekop, dan karung pasir—mereka bergotong royong menambal lubang dan membersihkan material longsor yang menutup badan jalan.
Bencana yang Melumpuhkan Akses
Hujan deras dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah Bener Meriah dan sekitarnya selama tiga hari berturut-turut pada minggu terakhir November 2025. Curah hujan ekstrem ini memicu banjir bandang dan tanah longsor di beberapa kecamatan. Ruas Jalan Enang-Enang, yang merupakan jalur vital penghubung antar-kecamatan dan akses utama menuju pusat kabupaten, menjadi salah satu korban paling parah. Material longsor berupa batu, lumpur, dan pepohonan tumbang menutup total badan jalan di dua titik, sementara di titik lain fondasi jalan tergerus arus sungai yang meluap.
Data sementara dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mencatat, sedikitnya lima desa terisolasi selama hampir sepekan akibat putusnya akses jalan ini. Distribusi logistik bantuan sempat terhambat, kendaraan roda empat tidak dapat melintas, dan warga terpaksa berjalan kaki melintasi medan berlumpur untuk mencapai fasilitas kesehatan dan pasar terdekat.
Inisiatif Warga: Dari Gotong Royong ke Solusi Darurat
Tanpa menunggu instruksi dari atas, warga Desa Enang-Enang dan desa-desa sekitar pada awal Desember 2025 mulai mengorganisir diri. Mereka membentuk kelompok kerja bergilir: sebagian bertugas membersihkan puing dan material longsor, sebagian lain menambal lubang dengan batu dan tanah yang dipadatkan. Perempuan dan lansia turut serta dengan menyediakan makanan dan minuman bagi para pekerja.
"Kami tidak bisa hanya duduk menunggu bantuan. Jalan ini urat nadi kami. Kalau putus terlalu lama, anak-anak tidak bisa sekolah, orang sakit susah dibawa ke puskesmas," ujar salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Langkah swadaya ini bersifat sementara dan darurat—perbaikan dilakukan agar kendaraan roda dua dan kendaraan darurat dapat melintas dengan hati-hati. Para warga sadar bahwa perbaikan permanen membutuhkan alat berat dan kajian teknis yang memadai. Namun, inisiatif mereka berhasil memulihkan akses dasar dalam waktu kurang dari satu minggu setelah air surut sepenuhnya.
Apresiasi dari Pemerintah Pusat
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menyampaikan apresiasi secara langsung terhadap langkah swadaya masyarakat Bener Meriah. Dalam pernyataan tertulis yang dirilis pada Kamis pekan ini, Mendagri menekankan bahwa inisiatif warga tersebut mencerminkan ketangguhan sosial dan semangat gotong royong yang menjadi karakter bangsa.
Tito juga menginstruksikan pemerintah daerah setempat untuk segera melakukan asesmen kerusakan secara menyeluruh dan mengalokasikan anggaran perbaikan permanen. Ia menegaskan, jalur Enang-Enang merupakan infrastruktur strategis yang harus segera direhabilitasi guna memulihkan aktivitas ekonomi dan mobilitas warga secara penuh. Pemerintah pusat, melalui kementerian terkait, akan mendukung percepatan proses tersebut sesuai mekanisme yang berlaku.
Langkah Selanjutnya: Menanti Perbaikan Permanen
Hingga saat ini, alat berat dari Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Bener Meriah telah mulai dikerahkan ke lokasi untuk membersihkan sisa material longsor dan menyiapkan lahan bagi rekonstruksi jalan. Namun, perbaikan permanen diperkirakan memakan waktu beberapa minggu mengingat tingkat kerusakan fondasi jalan yang cukup parah di beberapa segmen.
Sementara itu, warga berharap agar pemerintah daerah dan pusat dapat mempercepat realisasi perbaikan, mengingat musim hujan diperkirakan masih akan berlangsung hingga awal tahun 2026, yang berpotensi kembali memicu longsor dan memperparah kerusakan yang ada.
Comments (0)