BCA Gelar Workshop Gastronomi untuk Pengelola Desa Bakti di Labuan Bajo
Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur – PT Bank Central Asia Tbk (BCA) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendorong pemberdayaan masyarakat melalui program D
Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur – PT Bank Central Asia Tbk (BCA) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendorong pemberdayaan masyarakat melalui program Desa Bakti BCA. Kali ini, BCA menggelar workshop pengembangan wisata gastronomi bagi para pengelola desa binaan yang berada di kawasan Labuan Bajo. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari di salah satu resor lokal ini diikuti oleh 25 perwakilan dari lima desa binaan di sekitar Taman Nasional Komodo.
Workshop ini menghadirkan Executive Vice President (EVP) Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, yang turut ambil bagian dalam sesi pelatihan. Kehadiran Hera menegaskan bahwa inisiatif ini merupakan bagian penting dari strategi tanggung jawab sosial perusahaan untuk mengembangkan potensi ekonomi lokal. "Kami ingin membekali pengelola desa dengan keterampilan menyajikan kuliner lokal secara profesional sehingga mampu menarik minat wisatawan," ujar Hera di sela kegiatan.
Pendekatan End-to-End: Dari Bahan Mentah hingga Plating
Berbeda dengan pelatihan kuliner biasa, workshop ini dirancang dengan pendekatan penyajian gastronomi end-to-end. Konsep ini mencakup seluruh rantai nilai penyajian makanan, mulai dari pemilihan bahan baku lokal berkualitas, teknik pengolahan, hingga cara penataan dan penyajian hidangan di atas piring (plating) yang estetis. Berikut tahapan yang diajarkan:
- Pemilihan bahan baku: fokus pada produk lokal segar seperti ikan, kelor, dan jagung bose yang mudah didapat namun belum diolah secara maksimal.
- Teknik memasak: pengenalan metode sous-vide sederhana, pengasapan tradisional yang higienis, serta fermentasi ringan untuk meningkatkan cita rasa.
- Plating dan presentasi: pelatihan menata hidangan dengan estetika modern, pemanfaatan edible flowers, dan penggunaan piring keramik lokal.
- Storytelling: cara menyusun narasi hidangan yang memikat untuk disampaikan kepada tamu, sehingga pengalaman bersantap menjadi lebih berkesan.
Hera menambahkan, "Wisata gastronomi bukan hanya soal rasa, tetapi juga bagaimana hidangan disajikan dengan cerita dan visual yang memikat. Dari bahan lokal seperti ikan segar, umbi-umbian, hingga rempah khas NTT, semua bisa diolah menjadi sajian premium jika ditangani dengan tepat."
Antusiasme Tinggi dan Praktik Langsung
Puluhan pengelola Desa Bakti BCA mengikuti sesi teori dan praktik dengan antusias. Mereka dibimbing oleh chef profesional yang mendemonstrasikan teknik memasak modern tanpa menghilangkan cita rasa tradisional. Peserta juga diajak berpikir kreatif memanfaatkan komoditas lokal yang selama ini mungkin hanya dijual mentah, seperti kelor, jagung bose, dan hasil laut.
Maria (42), pengelola homestay di Desa Binaan, mengaku baru pertama kali mendapatkan pelatihan sedetail ini. "Biasanya kami hanya masak biasa untuk keluarga. Sekarang kami tahu bahwa penampilan makanan bisa jadi nilai jual utama," tuturnya. Peserta lainnya, Yohanes (35), berencana mengembangkan menu khas desanya dengan sentuhan plating modern. "Saya sudah siapkan menu Ikan Kuah Asam dengan plating baru yang lebih segar," katanya.
Selain teknik memasak, aspek kebersihan dan keberlanjutan juga ditekankan. Peserta diajarkan meminimalkan limbah dapur dan memaksimalkan setiap bagian bahan pangan, sejalan dengan tren ekowisata yang semakin diminati wisatawan mancanegara.
Dukungan Infrastruktur dan Dampak Ekonomi
Workshop ini merupakan bagian dari program Desa Bakti BCA yang telah berjalan sejak 2019. Hingga kini, BCA telah membina lebih dari 30 desa di berbagai provinsi, dengan fokus pada sektor pariwisata, pertanian, dan ekonomi kreatif. Labuan Bajo dipilih karena statusnya sebagai Destinasi Super Prioritas (DSP) yang terus berkembang.
BCA tidak hanya memberikan pelatihan, tetapi juga mendukung infrastruktur seperti galeri kuliner, ruang kemas produk, hingga alat masak standar industri. "Kami ingin Desa Bakti BCA menjadi model desa mandiri yang mampu bersaing di pasar wisata, sekaligus melestarikan budaya lokal," tegas Hera.
Gastronomi jadi Magnet Wisatawan
Data Kementerian Pariwisata menunjukkan bahwa lebih dari 40% wisatawan memilih destinasi berdasarkan pengalaman kuliner. Dengan pelatihan ini, BCA berharap belanja wisatawan untuk kuliner di Labuan Bajo dapat meningkat 25% dalam dua tahun mendatang. Para peserta pun dibekali modul dan akses pendampingan daring untuk terus mengasah keterampilannya.
"Storytelling adalah bumbu rahasia dalam wisata gastronomi. Wisatawan akan lebih menghargai makanan jika mereka memahami cerita di baliknya," pungkas Hera.
[SOCIAL_TWEET]: BCA berdayakan pengelola Desa Bakti melalui workshop gastronomi di Labuan Bajo. Belajar dari bahan lokal hingga plating estetik, siap pikat wisatawan! #BCA #DesaBaktiBCA #GastronomiNusantara #LabuanBajo[SOCIAL_TG]: 🍲 Rasakan sensasi gastronomi NTT! BCA latih pengelola desa di Labuan Bajo untuk sajikan kuliner lokal dengan standar internasional. Yuk, kunjungi dan cicipi sendiri!
Comments (0)