Sep 09, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

Sains

Badung — Sanggar Gita Kelangon Gembleng 250 Seniman Muda Gender Wayang

Riuh suara bilah-bilah perunggu berlaras slendro terdengar bergema di Wantilan DPRD Kabupaten Badung, Pusat Pemerintahan (Puspem) Badung, pada Minggu (5/7/

Badung — Sanggar Gita Kelangon Gembleng 250 Seniman Muda Gender Wayang

Riuh suara bilah-bilah perunggu berlaras slendro terdengar bergema di Wantilan DPRD Kabupaten Badung, Pusat Pemerintahan (Puspem) Badung, pada Minggu (5/7/2026). Sebanyak 250 peserta muda berkumpul untuk mengikuti pementasan Ujian Kenaikan Tingkat dan Lomba Gender Wayang. Langkah ini menjadi benteng pertahanan kebudayaan di tengah derasnya arus modernisasi yang mengikis minat generasi muda terhadap seni karawitan klasik Bali.

Kegiatan yang digagas oleh Sanggar Seni Gita Kelangon ini bukan sekadar pementasan seremonial, melainkan wujud nyata pengawasan dan pemetaan kualitas talenta muda secara terstruktur. Berdiri sejak 16 Februari 2012 di Banjar Perang, Desa Lukluk, Kecamatan Mengwi, sanggar ini terus konsisten mencetak penabuh generasi baru.

Kronologi dan Strategi Pembinaan Berkelanjutan

Proses panjang yang bermuara pada pementasan masal ini diawali dari persiapan matang sejak awal Juni 2026. Pemilik Sanggar Seni Gita Kelangon, I Wayan Febri Pratama Yasa, menjelaskan bahwa pengujian kemampuan peserta didik dilakukan secara sistematis untuk mengukur daya serap materi pembelajaran yang telah diberikan.

Guna memastikan kualitas lulusan sanggar tetap terjaga, pengelola menerapkan alur evaluasi yang ketat dan terukur melalui beberapa tahap:

  1. Fase Pemetaan Potensi (Bulan Ke-1 hingga Ke-3): Para siswa mendalami dasar-dasar teknik tabuhan dan penguasaan ritme dasar instrumen.
  2. Fase Intensifikasi Pembelajaran (Juni 2026): Persiapan khusus pementasan, pendalaman materi gending, dan penyelarasan harmonisasi antarpenabuh.
  3. Fase Ujian Terbuka dan Evaluasi Publik (5 Juli 2026): Uji keberanian dan teknik di depan dewan juri serta masyarakat umum di Wantilan DPRD Badung.

Febri, yang merupakan alumnus SMK Negeri 3 Sukawati (Kokar) dan Universitas Mahadewa/IKIP PGRI Denpasar, menegaskan pentingnya kontinuitas evaluasi ini. "Anak-anak tidak hanya latihan rutin, tetapi juga perlu mengetahui sejauh mana potensi dan bakat mereka terasah selama berlatih. Ujian berkala ini menjadi tolok ukur objektif perkembangan teknis maupun mental bertanding mereka," ujar Febri.

Analisis Dukungan Kelembagaan dan Matriks Pelatihan

Keberhasilan mengumpulkan 250 penabuh muda ini tidak lepas dari sinergi lintas sektor. Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung yang diwakili Kepala Bidang Kesenian, I Made Adi Adnyana, S.Sn., M.Si., bersama pimpinan LPD Desa Adat Lukluk-Mengwi, Made Andi Yuana, memberikan pengawalan penuh terhadap ekosistem pelestarian ini.

Penelusuran analitis menunjukkan bahwa Sanggar Gita Kelangon menerapkan sistem rotasi kurikulum berkala sekitar tiga kali dalam setahun. Langkah ini diambil untuk mencegah kejenuhan sekaligus memperluas wawasan karawitan peserta didik secara menyeluruh.

Kategori Pembinaan Fokus Materi Utama Target Kedalaman Teknis
Gender Wayang Pola rumit kotekan dan sinkronisasi tangan kiri-kanan Kecepatan, keharmonisan pasang (pasangan penabuh), dan dinamika gending.
Semar Pagulingan Melodi klasik laras pelog lima nada Ketepatan tempo masal dan keutuhan struktur gending agung.
Kendang Tunggal Struktur kendang dan aksentuasi ritmik Kepemimpinan tempo dan kepekaan rasa (angsel) penari atau tabuhan.

Langkah Gita Kelangon memanfaatkan fasilitas publik seperti Wantilan DPRD Badung juga memberikan dampak psikologis positif bagi para peserta. Panggung megah ini melatih mentalitas anak-anak agar siap tampil di ajang kompetitif yang lebih luas, baik di tingkat daerah maupun nasional.

“Preservasi budaya tidak cukup hanya dengan nostalgia, melainkan harus diikat dengan metode edukasi yang terstruktur, terukur, dan didukung oleh ekosistem finansial serta kelembagaan lokal yang solid.”

Melalui penguatan di tingkat tapak seperti Desa Lukluk, masa depan seni Gender Wayang kini tidak lagi bersandar pada kekhawatiran kepunahan, melainkan pada akselerasi kualitas para penerusnya yang teruji secara berkesinambungan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS hafiz-rahman

Data Journalist. Mengungkap fakta melalui data. Spesialisasi: analisis forensik digital.

Comments (0)

User