Awal Safar 1448 H di Juli 2026 dan Amalan Sunnahnya

Umat Islam akan segera menyambut kedatangan bulan Safar 1448 Hijriah yang bertepatan dengan pertengahan tahun 2026. Berdasarkan perhitungan kalender Islam, 1 Safar 1448 H diperkirakan jatuh pada Kamis...

Jul 15, 2026 - 20:41
0 0
Awal Safar 1448 H di Juli 2026 dan Amalan Sunnahnya

Umat Islam akan segera menyambut kedatangan bulan Safar 1448 Hijriah yang bertepatan dengan pertengahan tahun 2026. Berdasarkan perhitungan kalender Islam, 1 Safar 1448 H diperkirakan jatuh pada Kamis, 16 Juli 2026. Penetapan tanggal ini mengacu pada metode hisab yang lazim digunakan oleh otoritas keagamaan di berbagai negara, meskipun kepastian resminya tetap menunggu rukyatul hilal yang dilakukan menjelang akhir bulan Muharram 1448 H.

Masyarakat Muslim kerap menyimpan pertanyaan seputar peralihan bulan ini, mulai dari kepastian tanggal hingga tuntunan ibadah yang dapat dikerjakan. Tidak sedikit pula yang tertarik memahami lebih jauh mengenai status bulan Safar dalam literatur Islam, termasuk meluruskan beberapa mitos yang masih berkembang di tengah-tengah masyarakat.

Pergantian Kalender Hijriah ke Masehi pada Safar 1448 H

Kalender Hijriah dan Kalender Masehi memiliki selisih waktu sekitar sepuluh hingga dua belas hari setiap tahunnya. Hal inilah yang menyebabkan tanggal-tanggal penting dalam Islam selalu bergeser lebih cepat jika dilihat dari sisi penanggalan Masehi. Saat ini, tahun 1448 H bertepatan dengan rentang waktu dari akhir Juni 2026 hingga pertengahan Juni 2027. Bulan Safar yang merupakan bulan kedua dalam susunan kalender Hijriah pun berada pada Juli hingga Agustus 2026.

Jika menggunakan Kalender Islam Global yang berbasis pada kriteria visibilitas hilal, 1 Safar 1448 H jatuh pada 16 Juli 2026. Adapun tanggal 30 Safar 1448 H akan bertepatan dengan 14 Agustus 2026. Rentang waktu tersebut memberikan kesempatan bagi umat Islam untuk memperbanyak amal kebaikan selama sebulan penuh.

Status Bulan Safar dalam Pandangan Syariat

Di masa jahiliyah, masyarakat Arab memiliki pandangan negatif terhadap bulan Safar. Mereka menganggap bahwa bulan ini membawa kesialan dan berbagai bentuk malapetaka. Namun, anggapan tersebut telah dikoreksi secara tegas oleh Rasulullah SAW. Dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim, termaktub hadis yang menyatakan bahwa tidak ada istilah penularan penyakit dengan sendirinya, tidak ada keyakinan terhadap kesialan dari burung, dan tidak pula kesialan dari bulan Safar. Pesan ini menekankan bahwa seluruh waktu pada hakikatnya adalah ciptaan Allah SWT yang netral, tidak ada satu pun yang memiliki sifat pembawa celaka secara inheren.

Para ulama menyepakati bahwa meyakini bulan Safar sebagai sumber kemalangan termasuk dalam kategori tathayyur atau keyakinan terhadap kesialan yang dilarang dalam Islam. Praktik-praktik ritual khusus yang dilakukan sebagian masyarakat untuk menolak bala selama Safar, seperti tradisi Rebo Wekasan di beberapa wilayah, termasuk ke dalam perkara yang perlu diteliti ulang keabsahannya berdasarkan timbangan syariat. Sebab, tata cara ibadah yang tidak dilandasi dalil sahih berpotensi masuk ke dalam wilayah bid'ah.

Keutamaan Bulan Safar yang Terlupakan

Safar bukanlah bulan yang kosong dari keistimewaan. Sejarah mencatat sejumlah peristiwa penting yang terjadi pada bulan ini. Di antaranya adalah pernikahan Rasulullah SAW dengan Sayyidah Khadijah binti Khuwailid, hijrah pertama kaum Muslimin ke Habasyah yang dipimpin oleh Utsman bin Affan dan istrinya Ruqayyah binti Rasulullah, serta beberapa ekspedisi militer kecil yang dipimpin langsung oleh Nabi. Peristiwa-peristiwa tersebut menunjukkan bahwa bulan Safar adalah masa yang penuh dinamika dan pelajaran berharga bagi umat Islam.

Di sisi lain, Safar merupakan kelanjutan dari semangat bulan Muharram. Jika Muharram adalah bulan yang dimuliakan, maka Safar adalah bulan yang menjadi medan pembuktian. Setelah melewati momen-momen sakral seperti puasa Asyura pada 10 Muharram, seorang Muslim dituntut untuk menjaga konsistensi amalnya. Safar adalah ujian sejauh mana ibadah yang telah dilakukan tetap terjaga dan tidak mengendur, terlepas dari anggapan negatif yang masih melekat di benak sebagian orang.

Amalan yang Dianjurkan selama Bulan Safar

Ulama menganjurkan agar umat Islam mengisi hari-hari di bulan Safar dengan berbagai ibadah yang telah memiliki landasan kuat. Tidak ada amalan spesial yang hanya dikhususkan pada bulan ini selain dari ibadah-ibadah umum yang berlaku pada bulan-bulan lainnya. Beberapa amalan yang ditekankan antara lain:

Pertama, memperbanyak puasa sunnah. Puasa Senin dan Kamis tetap menjadi pilihan utama karena merupakan sunnah yang telah dikerjakan secara rutin oleh Rasulullah SAW. Selain itu, puasa Ayyamul Bidh atau puasa pada tanggal 13, 14, dan 15 bulan Hijriah juga dapat dijadwalkan. Pada Safar 1448 H, Ayyamul Bidh jatuh pada rentang tanggal 28 hingga 30 Juli 2026, yang bertepatan dengan hari Selasa hingga Kamis. Kombinasi antara puasa Ayyamul Bidh dan puasa Kamis di akhir bulan tersebut memberikan pahala yang berlimpah bagi yang mengamalkannya.

Kedua, memperbanyak sedekah. Sedekah tidak terikat oleh waktu, namun momentum awal bulan Hijriah dapat dijadikan titik tolak untuk melatih kedermawanan secara lebih konsisten. Sedekah di bulan Safar memiliki dimensi tambahan berupa penolakan terhadap mitos kesialan. Dengan bersedekah, seorang Muslim menunjukkan keyakinan bahwa hanya Allah SWT yang Maha Mengatur risiko dan nasib, bukan bulan atau benda-benda langit.

Ketiga, memperbanyak membaca Al-Qur'an. Tadarus harian adalah kebiasaan yang perlu dijaga kontinuitasnya. Dalam konteks Safar, kegiatan ini menjadi penegasan bahwa waktu-waktu yang dianggap sial oleh sebagian orang sesungguhnya adalah waktu yang diberkahi jika diisi dengan firman-Nya.

Keempat, berdoa dan berdzikir. Doa pagi dan petang yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW mengandung perlindungan dari segala keburukan yang mungkin muncul. Amalan ini menjadi perisai yang lebih kuat dibandingkan dengan ritual-ritual tidak berdasar yang dikaitkan dengan bulan tertentu.

Kelima, menjauhi segala bentuk keyakinan sesat. Ini adalah amalan hati yang sangat penting. Seorang Muslim wajib membersihkan akidahnya dari keyakinan bahwa bulan Safar adalah bulan sial atau bahwa ada amalan-amalan tertentu yang harus dikerjakan secara khusus agar terhindar dari marabahaya. Tauhid yang murni meniscayakan pengosongan hati dari ketergantungan kepada selain Allah SWT, termasuk ketergantungan terhadap hari, tanggal, atau bulan tertentu sebagai penentu nasib.

Dengan mengetahui kapan 1 Safar 2026 dan apa saja amalan yang dianjurkan, diharapkan umat Islam dapat menyambut bulan ini dengan perspektif yang benar, tanpa terbebani oleh mitos yang telah dimentahkan oleh syariat. Bulan Safar adalah bagian dari waktu yang Allah SWT anugerahkan, dan setiap detiknya adalah kesempatan untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
ramadiansyah

Editor Investigasi. Pemenang penghargaan jurnalisme investigasi. Spesialisasi: korupsi, kolusi, dan maladministrasi.

Comments (0)

User