Awak Kapal Pertamina Ungkap Gangguan GPS Saat Lintasi Selat Hormuz

Kesaksian para awak kapal milik PT Pertamina (Persero) mengungkap sisi lain dari pelayaran melintasi Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran paling strategis sekaligus paling rawan di dunia. Dalam pe...

Awak Kapal Pertamina Ungkap Gangguan GPS Saat Lintasi Selat Hormuz

Kesaksian para awak kapal milik PT Pertamina (Persero) mengungkap sisi lain dari pelayaran melintasi Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran paling strategis sekaligus paling rawan di dunia. Dalam pelayaran tersebut, kru kapal melaporkan adanya interferensi terhadap sistem pemosisian global atau GPS, sebuah gangguan elektronik yang memaksa seluruh jajaran anak buah kapal bekerja dalam tingkat kesiagaan ekstra demi menjaga keselamatan pelayaran.

Menurut pengakuan kru, gangguan yang dikenal dengan istilah GPS jamming itu terjadi saat kapal berada di kawasan perairan tersebut. Sinyal satelit yang menjadi tumpuan utama navigasi modern mendadak tidak dapat diandalkan sepenuhnya, sehingga perwira jaga di anjungan harus mencermati setiap perubahan data dengan lebih teliti. Kondisi semacam ini menuntut konsentrasi berlapis karena kesalahan membaca posisi di perairan sempit dapat berakibat fatal.

Kesaksian Kru di Tengah Gangguan Sinyal

Bagi awak kapal, pengalaman itu menjadi ujian nyata atas kesiapan mereka menghadapi situasi darurat di laut. Ketika sinyal GPS terganggu, prosedur keselamatan pelayaran internasional mengamanatkan kru untuk tidak bergantung pada satu sumber data navigasi. Perangkat radar, kompas, peta laut, hingga pengamatan visual terhadap objek di sekitar kapal menjadi rujukan silang untuk memastikan haluan tetap berada pada jalur aman.

Dalam praktik pelayaran niaga, gangguan elektronik terhadap navigasi bukan sekadar persoalan teknis. Kapal tanker yang mengangkut muatan energi bernilai besar harus tetap bergerak presisi mengikuti alur pelayaran yang telah ditetapkan, seraya menjaga jarak aman dari kapal lain yang hilir mudik di salah satu titik tersibuk di planet ini. Kewaspadaan yang ditingkatkan, sebagaimana dituturkan para kru, menjadi kunci agar pelayaran dapat diselesaikan tanpa insiden.

Selat Hormuz: Urat Nadi Energi Dunia

Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan menjadi satu-satunya jalur laut bagi ekspor minyak dari negara-negara produsen besar di kawasan Timur Tengah. Data Badan Informasi Energi Amerika Serikat (EIA) mencatat sekitar seperlima konsumsi minyak dunia, atau kurang lebih 20 juta barel per hari, melewati selat yang pada titik tersempitnya hanya selebar sekitar 33 kilometer ini. Alur pelayaran yang dapat dilayari kapal besar bahkan hanya beberapa kilometer di masing-masing arah.

Bagi Indonesia, koridor ini memiliki arti penting karena sebagian pasokan energi nasional, termasuk minyak mentah dan gas, bersumber dari kawasan Timur Tengah. Kapal-kapal yang dioperasikan perusahaan energi nasional rutin melintasi perairan tersebut untuk mengangkut muatan menuju kilang dan terminal di dalam negeri. Setiap gangguan di jalur ini, baik berupa ketegangan geopolitik maupun interferensi elektronik, berpotensi memengaruhi rantai pasok energi Tanah Air.

Pola Gangguan GPS yang Kian Sering Dilaporkan

Fenomena interferensi sinyal navigasi satelit di perairan Teluk bukanlah hal baru. Lembaga keamanan maritim seperti United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) berulang kali menerbitkan peringatan kepada kapal-kapal dagang mengenai laporan gangguan GPS di kawasan Selat Hormuz dan sekitarnya, terutama pada periode ketegangan antara Iran dan Israel. Sejumlah otoritas pelayaran internasional juga mencatat peningkatan insiden spoofing, yakni manipulasi sinyal yang membuat posisi kapal seolah-olah berada di lokasi berbeda.

Para pakar keselamatan maritim menilai gangguan semacam ini menambah lapisan risiko baru bagi pelayaran komersial. Selain potensi tabrakan dan kandas, kapal yang kehilangan acuan posisi akurat dapat tanpa sengaja memasuki perairan teritorial negara lain — sebuah situasi yang di kawasan sensitif seperti Teluk Persia dapat berkembang menjadi insiden diplomatik. Karena itu, organisasi pelayaran dunia terus mendorong kru kapal mengasah kembali keterampilan navigasi konvensional sebagai cadangan.

Kesiagaan Menjadi Taruhan Keselamatan

Pengalaman awak kapal Pertamina tersebut menggarisbawahi pentingnya kesiapan sumber daya manusia di atas kapal menghadapi era gangguan elektronik. Pelatihan navigasi tanpa ketergantungan penuh pada satelit, kedisiplinan menjalankan prosedur jaga, serta koordinasi dengan otoritas maritim menjadi benteng pertahanan utama ketika teknologi justru tidak dapat dipercaya.

Hingga kini, pelayaran melintasi Selat Hormuz tetap berlangsung meski bayang-bayang risiko terus menyertai. Kesaksian para kru menjadi pengingat bahwa di balik setiap kargo energi yang tiba dengan selamat di pelabuhan, ada kewaspadaan tanpa henti yang dijaga sepanjang pelayaran.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
ramadiansyah

Editor Investigasi. Pemenang penghargaan jurnalisme investigasi. Spesialisasi: korupsi, kolusi, dan maladministrasi.

Comments (0)

User