Oct 04, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

factcheck

Asap Karhutla Hambat Penerbangan di Palembang

Kondisi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan kembali memberikan dampak langsung terhadap kegiatan penerbangan di wilayah Palembang. Penurunan kualitas udara yang disertai de...

Asap Karhutla Hambat Penerbangan di Palembang

Kondisi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan kembali memberikan dampak langsung terhadap kegiatan penerbangan di wilayah Palembang. Penurunan kualitas udara yang disertai dengan berkurangnya jarak pandang telah memaksa sejumlah operasional penerbangan untuk menyesuaikan jadwal, serta turut menghambat kegiatan pemadaman api yang memanfaatkan jalur udara. Kondisi ini menegaskan bahwa peristiwa kebakaran lahan tidak hanya berdampak pada lingkungan dan kesehatan, tetapi juga pada sektor transportasi dan upaya penanganan darurat.

Jarak Pandang yang Menurun Drastis

Salah satu faktor utama yang memengaruhi kelancaran penerbangan saat terjadi kabut asap adalah jarak pandang horizontal. Berdasarkan kondisi yang tercatat, jarak pandang di wilayah Palembang saat kabut asap memburuk tersisa sekitar 600 meter. Angka ini jauh di bawah batas jarak pandang minimum yang umumnya dibutuhkan untuk melakukan lepas landas dan mendarat secara aman, terutama pada penerbangan dengan prosedur penglihatan langsung. Semakin rendah jarak pandang, semakin terbatas pula kemampuan pilot untuk mengenali marka, landasan, rintangan, maupun posisi pesawat lain di sekitar bandara. Pembatasan ini berlaku tidak hanya bagi penerbangan komersial, tetapi juga bagi pesawat dan helikopter yang beroperasi untuk keperluan khusus, termasuk yang digunakan dalam kegiatan pemadaman kebakaran.

Dampak Terhadap Jadwal Penerbangan

Penurunan jarak pandang tersebut berdampak pada operasional penerbangan di Palembang. Setidaknya delapan penerbangan tercatat mengalami gangguan akibat kondisi ini. Gangguan tersebut dapat berupa penundaan keberangkatan, perubahan rute, maupun penundaan kedatangan, tergantung pada kebijakan operasional bandara dan ketersediaan waktu untuk menunggu perbaikan kondisi. Setiap penundaan semacam ini membutuhkan penyesuaian bagi maskapai, penumpang, serta pihak pengelola bandara agar keselamatan tetap menjadi prioritas utama. Di sisi lain, penumpukan jadwal akibat penundaan berpotensi berdampak beruntun pada penerbangan selanjutnya, terutama jika kondisi asap bertahan dalam jangka waktu yang lama.

Upaya Pemadaman Api Terhambat

Selain penerbangan reguler, kabut asap juga turut menghambat salah satu metode pemadaman yang paling efektif saat kebakaran lahan meluas, yaitu pemadaman melalui udara. Kondisi jarak pandang yang terbatas membuat helikopter yang dirancang untuk melakukan pemboman air tidak dapat mengangkasa sesuai rencana. Kegagalan lepas landas ini berdampak langsung pada kecepatan respon terhadap titik-titik api, terutama pada wilayah yang sulit dijangkau oleh tim pemadam di darat. Dengan tertundanya operasi udara, beban pemadaman akan semakin berfokus pada jalur darat yang membutuhkan waktu lebih lama untuk menjangkau lokasi kebakaran, terlebih pada lahan gambut yang cenderung sulit dipadamkan. Hal ini dapat memperpanjang durasi kebakaran dan berpotensi memperluas area yang terdampak.

Kaitan Antara Asap dan Keselamatan Operasional

Hambatan terhadap penerbangan dan operasi pemadaman udara merupakan konsekuensi logis dari penurunan jarak pandang akibat partikel asap. Asap dari kebakaran hutan dan lahan mengandung partikel halus yang dapat menyebar secara luas dan menurunkan visibilitas tanpa disertai hujan yang cukup untuk membersihkannya. Kondisi ini tidak dapat diatasi hanya dengan peralatan navigasi, karena banyak prosedur lepas landas dan pendaratan tetap bergantung pada kemampuan visual pilot, khususnya pada bandara yang belum sepenuhnya beroperasi dengan sistem panduan visibilitas rendah. Oleh karena itu, keputusan untuk menunda atau membatalkan penerbangan maupun operasi udara merupakan langkah pengamanan, bukan pembatasan yang berlebihan.

Implikasi Jangka Panjang

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa dampak karhutla bersifat multidimensi. Selain gangguan pernapasan dan penurunan kualitas udara, sektor transportasi udara serta upaya mitigasi bencana turut terdampak secara langsung. Ketergantungan terhadap operasi udara untuk pemadaman api menunjukkan pentingnya koordinasi antara berbagai pihak saat kondisi kritis, sekaligus menegaskan perlunya upaya pencegahan kebakaran lahan yang lebih konsisten. Dengan semakin seringnya kondisi serupa terjadi, penanganan terhadap kabut asap perlu dilihat sebagai bagian dari respons terintegrasi, bukan hanya sebagai gangguan lalu lintas udara semata.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS hafiz-rahman

Data Journalist. Mengungkap fakta melalui data. Spesialisasi: analisis forensik digital.

Comments (0)

User