Sep 11, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

Sains

ARGENTINA — Guru Butuh Waktu 15 Tahun Demi Meraih Status Tetap

Ruang kelas yang riuh dengan suara anak-anak sering kali menyembunyikan perjuangan sunyi di balik meja guru. Di Argentina, profesi pengajar—yang didominasi

ARGENTINA — Guru Butuh Waktu 15 Tahun Demi Meraih Status Tetap

Ruang kelas yang riuh dengan suara anak-anak sering kali menyembunyikan perjuangan sunyi di balik meja guru. Di Argentina, profesi pengajar—yang didominasi oleh kaum perempuan hingga 90 persen—bukan sekadar tentang mentransfer ilmu, melainkan sebuah pertarungan panjang melawan ketidakpastian karir dan lambatnya kenaikan kesejahteraan. Data terbaru dari laporan Argentinos por la Educación bertajuk “La trayectoria profesional docente en Argentina” membedah realitas pahit ini: angka-angka statistik tersebut sesungguhnya adalah potret kehidupan nyata ratusan ribu pengajar yang terperangkap dalam sistem birokrasi yang lamban.

Jalan Terjal Pengabdi Muda

Bayangkan seorang wanita muda yang memilih mendedikasikan hidupnya untuk dunia pendidikan pada usia 18 tahun. Seperti 96 persen rekan sejawatnya, ia menempuh pendidikan di institut perguruan tinggi keguruan. Semangat membara itu mulai diuji ketika ia melangkah ke ruang kelas pertama kali pada usia 25 tahun. Namun, status yang disandang bukanlah guru tetap, melainkan sekadar guru pengganti atau suplente.

Selama bertahun-tahun, ia harus berpindah dari satu sekolah ke sekolah lain, menanti peluang di tengah ketidakpastian. Di Argentina, fenomena ini adalah hal lumrah; lebih dari 50 persen guru di bawah usia 25 tahun berada dalam posisi rentan tanpa jaminan kerja harian yang pasti. Untuk mendapatkan posisi yang lebih stabil, mereka terjebak dalam sistem perolehan poin—sebuah mekanisme birokrasi di mana senioritas, ijazah tambahan, dan sertifikat pelatihan dikalkulasi untuk memperebutkan posisi tempat mengajar.

"Setiap tahun kami harus terus mengumpulkan sertifikat dan berpindah sekolah hanya untuk memastikan kami tetap memiliki jam mengajar bulan depan," ungkap seorang guru mengutarakan ketidakpastian yang dialaminya.

Perburuan Poin dan Jebakan Status Sementara

Memasuki usia kepala tiga, nasib mayoritas pengajar belum tentu membaik. Data menunjukkan bahwa pada rentang usia 30-an, hanya 4 dari 10 guru yang berhasil mengamankan posisi sebagai tenaga pengajar tetap (titular). Sisanya tetap bertahan dengan status interin atau kontrak sementara yang rentan terhadap pemutusan hubungan kerja sewaktu-waktu.

Demi meningkatkan skor dalam sistem poin, para guru tidak memiliki pilihan selain terus mengikuti berbagai kursus pelatihan. Sebanyak 97 persen guru tercatat aktif mengikuti pelatihan dalam tiga tahun terakhir. Sayangnya, motivasi di balik pelatihan ini sering kali terbelah antara dorongan murni untuk belajar dan tuntutan pragmatis demi menambah poin birokrasi.

Usia / Tahap Status Karir Mayoritas Tantangan Utama
18-25 Tahun Mulai Mengajar / Guru Pengganti (Suplente) Ketidakpastian lokasi kerja dan jam mengajar
30 Tahun Guru Interin / Kontrak Temporer Hanya 40% yang mencapai status tetap; tekanan berburu poin pelatihan
40 Tahun Guru Tetap (Titular) Menunggu 15 tahun; opsi promosi terbatas (Jabatan manajerial hanya 10%)

Menunggu 15 Tahun demi Kepastian Status

Status sebagai guru tetap baru berhasil diraih rata-rata saat pengajar menyentuh usia 40 tahun—artinya butuh waktu 15 tahun sejak kelas pertama yang mereka ajar. Masa tunggu yang sangat panjang ini mencerminkan lambatnya mobilitas vertikal dalam struktur pendidikan negara tersebut.

Namun, setelah status tetap dicapai, tembok penghalang baru telah menanti. Struktur karir guru di Argentina sangat terbatas. Jalur utama untuk naik pangkat dan memperoleh kenaikan gaji yang signifikan adalah berpindah ke jabatan struktural atau manajerial. Masalahnya, porsi jabatan kepala sekolah dan pengawas hanya 10 persen dari total keseluruhan posisi yang ada.

Bagi mereka yang ingin tetap berada di depan kelas dan murni mengajar, peningkatan kesejahteraan finansial bergerak sangat lambat. Sistem ini seolah menghukum mereka yang mencintai profesi mengajar dengan membatasi ruang tumbuh tanpa harus menjadi administrator sekolah. Reformasi sistem karier guru menjadi hal yang mendesak agar dedikasi para pendidik tidak habis tergerus oleh birokrasi yang melelahkan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS khrisna-pertiwi

Reporter Kebijakan Publik. Menganalisis dampak kebijakan terhadap masyarakat.

Comments (0)

User