Aug 27, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

factcheck

Anak Suka Dipuji dan Jadi Pusat Perhatian: Benarkah Tanda Narsis?

Perilaku anak yang senang menerima pujian dan ingin selalu menjadi pusat perhatian kerap memicu kekhawatiran orang tua. Pertanyaan yang muncul adalah apakah kebiasaan tersebut merupakan tahap perkemba...

Anak Suka Dipuji dan Jadi Pusat Perhatian: Benarkah Tanda Narsis?

Perilaku anak yang senang menerima pujian dan ingin selalu menjadi pusat perhatian kerap memicu kekhawatiran orang tua. Pertanyaan yang muncul adalah apakah kebiasaan tersebut merupakan tahap perkembangan yang wajar, atau justru indikasi awal kecenderungan narsis. Berdasarkan verifikasi terhadap literatur psikologi perkembangan, jawabannya tidak sesederhana itu: konteks, intensitas, serta cara anak bereaksi ketika pujian tidak datang menjadi pembeda utama antara kebutuhan emosional yang sehat dan pola yang perlu diwaspadai.

Apa yang Dimaksud dengan Kecenderungan Narsis pada Anak

Narsisisme dalam kajian psikologi bukan sekadar rasa percaya diri yang tinggi. American Psychiatric Association melalui DSM-5 menggambarkan narsisisme patologis sebagai pola kebesaran diri, kebutuhan berlebihan akan kekaguman, dan minimnya empati. Pada anak-anak, diagnosis gangguan kepribadian tidak dapat ditegakkan secara prematur karena kepribadian masih dalam proses pembentukan, tetapi sejumlah penanda perilaku dapat diamati sejak dini. Faktanya adalah, keinginan untuk dipuji pada usia prasekolah merupakan bagian normal dari perkembangan identitas diri, bukan otomatis tanda gangguan.

Penelitian Eddie Brummelman dan kolega yang dipublikasikan di Proceedings of the National Academy of Sciences pada 2014 menunjukkan bahwa pujian yang dilebih-lebihkan, misalnya memuji kemampuan anak secara berlebihan, justru berasosiasi dengan meningkatnya kecenderungan narsis pada anak yang memang sudah memiliki kecenderungan tersebut. Sebaliknya, pujian yang ditujukan pada usaha dan proses terbukti menumbuhkan motivasi yang sehat. Data menunjukkan bahwa kualitas pujian, bukan sekadar frekuensinya, yang menentukan arah perkembangan psikologis anak.

Reaksi Berlebihan Saat Pujian Tidak Datang

Salah satu penanda yang paling sering diabaikan adalah cara anak merespons ketika pujian tidak diberikan. Berdasarkan verifikasi para praktisi psikologi anak, anak dengan kecenderungan narsis cenderung memberikan reaksi yang tidak proporsional terhadap ketiadaan pujian, baik dalam bentuk kemarahan yang meledak-ledak maupun penarikan diri total dari interaksi sosial. Kedua kutub respons ini sama-sama mencerminkan ketergantungan harga diri pada validasi eksternal dari orang lain.

Perbedaan dengan anak yang sehat terletak pada proses pemulihan. Anak dengan harga diri yang stabil dapat kecewa sesaat, lalu kembali beraktivitas normal. Anak dengan kecenderungan narsis cenderung menyimpan kekecewaan, menyalahkan lingkungan, atau menuntut perhatian dengan cara yang semakin meningkat. Ini bertentangan dengan anggapan populer bahwa sikap semacam itu hanyalah perilaku manja yang akan hilang dengan sendirinya seiring bertambahnya usia.

Membedakan Kebutuhan Wajar dan Penanda yang Perlu Diwaspadai

Para ahli membedakan dua hal yang sering tertukar: kebutuhan akan pengakuan yang wajar dan kebutuhan akan kekaguman yang kompulsif. Anak yang sehat menerima pujian dengan senang, tetapi tetap mampu berbagi perhatian dengan teman sebaya, menerima kritik, dan merasakan empati terhadap orang lain. Sementara itu, penanda yang mengarah pada kecenderungan narsis meliputi perasaan berhak yang menetap, kesulitan menerima kekalahan, merendahkan orang lain, serta reaksi berlebihan ketika pujian tidak hadir.

Faktanya adalah, satu perilaku tunggal tidak cukup untuk menyimpulkan apa pun tentang kondisi psikologis seorang anak. Evaluasi harus melihat pola yang berlangsung lintas situasi dan lintas waktu. Orang tua yang khawatir disarankan mengamati konsistensi perilaku di rumah, di sekolah, dan di lingkungan bermain sebelum menarik kesimpulan apa pun.

Peran Pola Asuh dalam Membentuk Respons Terhadap Pujian

Lingkungan memiliki andil besar dalam membentuk cara anak memaknai pujian. Pujian yang disampaikan secara berlebihan dan tanpa kaitan dengan usaha nyata dapat menanamkan ekspektasi bahwa dirinya istimewa secara permanen tanpa perlu berbuat apa pun. Sebaliknya, pujian yang spesifik terhadap usaha, strategi, dan proses, sebagaimana dikembangkan dalam kerangka pola pikir berkembang oleh Carol Dweck, membantu anak membangun harga diri yang stabil dan tidak bergantung pada sorotan orang lain.

Data menunjukkan bahwa anak belajar membaca isyarat sosial dari orang dewasa di sekitarnya. Jika lingkungan keluarga terbiasa menjadikan anak satu-satunya pusat perhatian tanpa batas, maka ketergantungan terhadap pujian dapat menguat. Sebaliknya, ruang untuk gagal, dikoreksi, dan berbagi perhatian dengan orang lain merupakan latihan penting bagi ketahanan psikologis anak dalam jangka panjang.

Kesimpulan Verifikasi

Berdasarkan verifikasi terhadap literatur psikologi dan penelitian perkembangan anak, klaim bahwa anak yang suka dipuji dan menjadi pusat perhatian merupakan pertanda narsis tidak sepenuhnya akurat. Perilaku tersebut baru bermakna sebagai penanda ketika disertai pola reaksi berlebihan, seperti kemarahan atau penarikan diri total saat pujian tidak datang, yang berlangsung konsisten lintas situasi dan lintas waktu.

Kesimpulannya: SEBAGIAN BENAR. Keinginan dipuji adalah hal yang wajar pada tahap perkembangan tertentu, tetapi intensitas reaksi terhadap ketiadaan pujian, kualitas pujian yang diterima, dan respons emosional anak merupakan kunci penentu. Orang tua yang mencurigai pola ini disarankan berkonsultasi dengan psikolog anak untuk evaluasi lebih lanjut, alih-alih menarik kesimpulan dari satu perilaku tunggal tanpa dukungan bukti yang memadai.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS hafiz-rahman

Data Journalist. Mengungkap fakta melalui data. Spesialisasi: analisis forensik digital.

Comments (0)

User