Ade Safitri, Mahasiswi S2 Unpad Pelopor Literasi Digital Anti-Hoaks
Keresahan terhadap banjir informasi palsu di platform digital mendorong seorang mahasiswi pascasarjana untuk melakukan penelitian yang lebih dalam. Ade Safitri, yang kini menempuh studi Magister Ilmu ...
Keresahan terhadap banjir informasi palsu di platform digital mendorong seorang mahasiswi pascasarjana untuk melakukan penelitian yang lebih dalam. Ade Safitri, yang kini menempuh studi Magister Ilmu Komunikasi di Universitas Padjadjaran (Unpad), memilih menyelami fenomena disinformasi yang kian merajalela di kalangan generasi muda. Dengan bekal pemahaman teori komunikasi dan riset lapangan, ia bertekad menghadirkan solusi berbasis data untuk membentengi masyarakat dari jerat hoaks.
Dari Sarjana hingga Peneliti Muda
Sebelum melanjutkan pendidikan ke jenjang magister, Ade menyelesaikan program sarjana di bidang komunikasi dengan predikat cum laude. Keputusannya memilih Unpad didasari oleh rekam jejak riset komunikasi yang unggul serta keinginan untuk belajar langsung dari para akademisi yang fokus pada kajian media baru. Saat ini, ia berada di semester ketiga dan telah menyelesaikan proposal tesis yang mengangkat tema literasi digital dan ketahanan remaja terhadap konten menyesatkan.
Fokus Penelitian: Melawan Disinformasi dari Akar
Penelitian Ade bertajuk "Literasi Digital dan Resiliensi Remaja terhadap Hoaks di Jawa Barat". Dengan pendekatan campuran, ia menyasar 300 responden berusia 15-24 tahun di lima wilayah dengan penetrasi internet tinggi. Survei awal menunjukkan bahwa kepercayaan tinggi pada konten viral justru berkorelasi dengan rendahnya kebiasaan verifikasi. Wawancara mendalam pun dilakukan untuk menggali lebih jauh motif dan pola konsumsi media yang membuat remaja rentan terhadap informasi palsu.
"Remaja sering menjadi sasaran empuk konten manipulatif karena paparan media sosial yang masih dan minimnya keterampilan cek fakta," ungkap Ade saat ditemui di kampus Unpad, Jatinangor. Ia menambahkan, temuan sementara memperlihatkan bahwa algoritma yang mendorong konten sensasional ikut andil dalam mempercepat penyebaran hoaks di platform seperti TikTok dan WhatsApp.
Turun ke Lapangan: Edukasi dan Pendampingan
Tak hanya sibuk di laboratorium riset, Ade juga aktif menggerakkan program literasi digital di sekolah-sekolah. Bersama komunitas relawan "Cek Fakta Bandung", ia merancang modul interaktif yang mengajarkan teknik dasar seperti reverse image search, analisis sumber, hingga deteksi judul clickbait. Sejak awal tahun 2025, program bertajuk "Cerdas Bermedia" ini telah menjangkau delapan sekolah menengah di Kabupaten Sumedang dan sekitarnya.
Berdasarkan data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika, sepanjang tahun 2025 tercatat lebih dari 1.200 laporan hoaks setiap bulan. Angka tersebut menjadi pelecut semangat bagi Ade. "Saya ingin riset ini tidak berhenti di perpustakaan. Harus ada intervensi langsung agar literasi digital tumbuh dari bawah," tegasnya.
Dukungan Akademisi dan Hibah Riset
Proposal penelitian Ade berhasil meraih hibah internal dari Unpad, sebuah pengakuan atas relevansi dan kebaruan topik yang diusung. Prof. Dr. Andi Alimuddin, dosen pembimbing sekaligus pakar komunikasi digital, menyebut riset ini penting karena mengisi celah studi tentang efektivitas intervensi literasi pada remaja. "Kami di program magister sangat mendorong riset yang bersifat aksi, bukan hanya publikasi. Pendekatan Ade selaras dengan kebutuhan masyarakat saat ini," katanya.
Rencana ke Depan: Dari Kebijakan hingga Kecerdasan Buatan
Setelah menyelesaikan studi magister, Ade bercita-cita melanjutkan risetnya ke jenjang doktoral atau bergabung dengan lembaga riset kebijakan publik. Ia meyakini bahwa pendekatan akademis yang solid mampu melahirkan regulasi yang melindungi konsumen digital. Lebih jauh, bersama rekan-rekan dari lintas disiplin, ia mulai menjajaki pengembangan alat deteksi hoaks berbasis kecerdasan buatan yang ramah pengguna dan berbahasa Indonesia.
"Sains komunikasi harus hadir di tengah krisis informasi. Saya ingin menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar pengamat," tutupnya. Dengan ketekunan dan visi yang terarah, Ade Safitri membuktikan bahwa mahasiswa Ilmu Komunikasi dapat menjadi garda terdepan dalam menciptakan ekosistem digital yang sehat dan berintegritas.
Baca juga:
Comments (0)