Aug 26, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

factcheck

6.220 Unit Hunian Tetap di Aceh Dijadwalkan Mulai September 2026

Program Hunian Tetap Nasional Dikucurkan Dana Besar Pemerintah pusat mengalokasikan Rp2,2 triliun untuk membangun 7.952 unit hunian tetap (huntap) yang tersebar di tiga provinsi. Anggaran jumbo ini me...

6.220 Unit Hunian Tetap di Aceh Dijadwalkan Mulai September 2026

Program Hunian Tetap Nasional Dikucurkan Dana Besar

Pemerintah pusat mengalokasikan Rp2,2 triliun untuk membangun 7.952 unit hunian tetap (huntap) yang tersebar di tiga provinsi. Anggaran jumbo ini menjadi bukti keseriusan negara dalam menyediakan rumah permanen bagi warga yang kehilangan tempat tinggal akibat bencana alam. Program huntap bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan juga instrument pemulihan sosial ekonomi para penyintas bencana.

Berdasarkan data yang dihimpun, dari total unit tersebut, 6.220 unit dialokasikan khusus untuk Provinsi Aceh. Dua provinsi lainnya akan menerima sisanya, yaitu sekitar 1.732 unit. Identitas kedua provinsi masih dalam tahap finalisasi, namun kuat dugaan bahwa pemilihan wilayah didasarkan pada peta risiko bencana nasional yang dirilis oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Aceh: Lumbung Bencana yang Memerlukan Huntap Massif

Aceh menjadi penyumbang terbesar dalam daftar penerima huntap kali ini. Sejarah panjang bencana di provinsi tersebut menjadi pertimbangan utama. Mulai dari gempa dan tsunami 2004 yang memorakporandakan separuh wilayah, gempa susulan berkekuatan signifikan di tahun-tahun berikutnya, hingga banjir bandang dan tanah longsor yang rutin melanda pedalaman. Data BNPB menunjukkan bahwa dalam satu dekade terakhir, Aceh mencatat lebih dari 200 kejadian bencana yang menyebabkan ratusan ribu warga mengungsi.

Saat ini, masih banyak keluarga yang mendiami hunian sementara (huntara) yang kondisinya memprihatinkan. Sebagian di antaranya telah menunggu selama bertahun-tahun untuk mendapatkan rumah layak. Oleh karena itu, alokasi 6.220 unit huntap diproyeksikan untuk menuntaskan status pengungsi di sejumlah kabupaten/kota prioritas, seperti Aceh Besar, Pidie Jaya, dan Aceh Tenggara.

Pemerintah daerah Aceh menyambut baik rencana ini. Gubernur Aceh yang diwakili oleh Asisten Pemerintahan menyatakan bahwa pihaknya telah menyiapkan lahan seluas puluhan hektare di kawasan aman bencana untuk mendukung percepatan konstruksi. Koordinasi antara pusat dan daerah terus diintensifkan agar tidak ada kendala hukum terkait kepemilikan tanah.

Dua Provinsi Lain: Menanti Pengumuman Resmi

Meski belum diumumkan secara resmi, dua provinsi lainnya yang akan menerima huntap dipastikan memiliki karakteristik kerawanan bencana tinggi. Dari total 1.732 unit yang disebar, distribusinya kemungkinan disesuaikan dengan tingkat keparahan kerusakan pascabencana di wilayah masing-masing. Beberapa wilayah yang menjadi sorotan di antaranya Sumatra Utara yang belakangan dihajar banjir bandang, serta Sulawesi Tengah yang belum sepenuhnya pulih dari gempa dan likuefaksi Palu beberapa tahun silam.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menyebutkan bahwa pemilihan lokasi huntap melewati kajian ketat yang melibatkan BNPB, Kementerian Sosial, dan pemerintah daerah. Prioritas diberikan pada permukiman yang berada di zona merah dan sudah tidak mungkin direhabilitasi. Dengan demikian, warga yang direlokasi benar-benar terbebas dari ancaman bencana serupa di masa depan.

Rincian Anggaran dan Spesifikasi Bangunan

Dengan total anggaran Rp2,2 triliun, biaya rata-rata setiap unit huntap mencapai sekitar Rp276 juta. Angka ini lebih tinggi dibandingkan program huntap serupa di tahun-tahun sebelumnya yang rata-rata berkisar Rp150–200 juta per unit. Kenaikan ini disebabkan oleh penerapan standar keamanan yang lebih tinggi, penggunaan material ramah lingkungan tahan gempa, serta peningkatan biaya logistik di daerah terpencil.

Setiap unit huntap dirancang bertipe 36 dengan dua kamar tidur, ruang keluarga, dapur, dan kamar mandi. Selain struktur utama yang memenuhi standar bangunan tahan gempa MMI VIII, setiap rumah akan dilengkapi instalasi listrik, jaringan air bersih, dan septic tank. Pemerintah juga mengalokasikan dana untuk pembangunan infrastruktur pendukung seperti jalan lingkungan, drainase, dan ruang terbuka hijau di kluster huntap.

Groundbreaking September 2026, Target Selesai 24 Bulan

Seluruh tahapan prakonstruksi ditargetkan rampung sebelum September 2026. Saat ini, proses lelang kontraktor pelaksana sudah memasuki tahap evaluasi. Rencananya, pekerjaan fisik akan dimulai serentak di ketiga provinsi pada bulan yang sama. Pemerintah optimistis seluruh unit dapat selesai dalam waktu 18 hingga 24 bulan, sehingga paling lambat pertengahan 2028 hunian siap ditempati.

Untuk menjaga mutu dan kecepatan, Kementerian PUPR akan menempatkan tim pengawas independen di setiap lokasi proyek. Selain itu, sistem monitoring berbasis daring akan diterapkan agar perkembangan pembangunan bisa dipantau publik secara transparan. Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari antikorupsi yang digaungkan pemerintah.

Dampak Pengganda Bagi Ekonomi Lokal

Pembangunan ribuan unit huntap tidak hanya menjawab kebutuhan papan para korban bencana, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi daerah. Diperkirakan proyek ini akan menyerap ribuan tenaga kerja lokal, mulai dari tukang bangunan, mandor, hingga penyedia material. Dana yang berputar di tingkat lokal selama masa konstruksi dapat menciptakan efek berganda yang signifikan.

Di Aceh, misalnya, sebagian besar material seperti batu bata, pasir, dan kayu akan dipasok oleh pengusaha setempat. Pemerintah berkomitmen untuk memberdayakan UMKM lokal dalam rantai pasok proyek. Setelah huntap rampung, kluster-kluster baru tersebut diharapkan tumbuh menjadi kampung mandiri yang lengkap dengan fasilitas pendidikan, kesehatan, dan perekonomian.

Komitmen Negara dalam Pengurangan Risiko Bencana

Program huntap massal ini menjadi bukti nyata bahwa negara hadir dalam setiap tahap siklus bencana, dari tanggap darurat hingga pemulihan. Lebih dari sekadar membangun rumah, pemerintah juga mendorong kesiapsiagaan komunitas melalui pelatihan mitigasi dan simulasi evakuasi. Dengan begitu, warga tidak hanya memiliki tempat tinggal yang aman, tetapi juga kapasitas untuk menghadapi ancaman di masa depan.

Ke depan, pemerintah merencanakan pembangunan huntap serupa di sejumlah provinsi rawan bencana lainnya. Data BNPB menunjukkan bahwa Indonesia membutuhkan lebih dari 50.000 unit huntap untuk merelokasi warga dari kawasan bahaya tinggi. Realisasi 7.952 unit tahun ini menjadi langkah awal dari target besar tersebut.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User