Aug 25, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

Cek Fakta

Waka MPR Dorong Penguatan Sistem Pembelajaran Adaptif Hadapi Bencana

Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat menekankan pentingnya mekanisme pembelajaran adaptif untuk pendidikan di tengah ancaman bencana alam di Indonesia.]]>

Waka MPR Dorong Penguatan Sistem Pembelajaran Adaptif Hadapi Bencana

Wakil Ketua MPR Dorong Penguatan Sistem Pembelajaran Adaptif Hadapi Bencana

Dalam upaya meningkatkan kesiapsiagaan bangsa menghadapi berbagai bencana alam yang semakin sering terjadi, Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Lestari Moerdijat, menekankan pentingnya memperkuat sistem pembelajaran adaptif. Menurutnya, pendidikan yang responsif terhadap perubahan lingkungan dan situasi darurat menjadi kunci utama dalam membangun ketahanan nasional.

Lestari menyampaikan hal ini saat membuka Forum Nasional "Pendidikan dan Tanggap Darurat" di Jakarta, Rabu (15/11/2023). Dalam forum yang dihadiri oleh para praktisi pendidikan, tokoh masyarakat, dan perwakilan lembaga pemerintahan tersebut, Lestari menyoroti perlunya transformasi cara pandang terhadap pendidikan di tengah semakin maraknya bencana alam.

Konteks Bencana dan Tantangan Pendidikan

"Kita hidup di era yang penuh ketidakpastian. Bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, banjir, dan longsor terjadi dengan frekuensi yang semakin meningkat. Situasi ini memaksa kita untuk merevisi konsep pendidikan yang selama lebih bersifat statis," ujar Lestari dalam sambutannya.

Ia menjelaskan bahwa bencana alam tidak hanya mengancam nyawa dan properti, tetapi juga mengganggu proses pembelajaran. Ribuan sekolah di berbagai daerah seringkali harus ditutup sementara akibat dampak bencana, sehingga berpengaruh terhadap kelancaran pendidikan siswa. Oleh karena itu, sistem pembelajaran yang adaptif diperlukan untuk memastikan proses belajar mengajar tetap berjalan meski dalam kondisi darurat.

Konsep Pembelajaran Adaptif

Pembelajaran adaptif, menurut Lestari, adalah pendekatan yang memungkinkan proses pendidikan berjalan secara fleksibel sesuai dengan kondisi lingkungan. Konsep ini meliputi beberapa aspek penting, antara lain penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), kurikulum yang modular, serta metode pengajaran yang berpusat pada peserta didik.

"Dengan teknologi digital, siswa dapat terus belajar meski tidak berada di ruang kelas. Kurikulum modular memungkinkan materi pembelajaran disesuaikan dengan kondisi setempat, sedangkan metode berpusat pada peserta didik memastikan kebutuhan belajar setiap individu terpenuhi," papar Lestari.

Ia mencontohkan beberapa negara yang telah menerapkan sistem pembelajaran adaptif dengan sukses, seperti Jepang yang telah mengembangkan kurikulum khusus tentang mitigasi bencana sejak tingkat sekolah dasar. Negara lain seperti Finlandia dengan pendekatan pendidikan holistik yang mengintegrasikan pengetahuan tentang keberlanjutan dan ketahanan lingkungan.

Inovasi dan Implementasi di Indonesia

Dalam forum tersebut, Lestari juga memaparkan beberapa inovasi yang telah dilakukan pemerintah dan komunitas pendidik di Indonesia dalam menghadapi tantangan bencana. Salah satunya adalah program "Sekul Aman" yang mengubah sekolah menjadi pusko darurat saat bencana terjadi.

"Program ini tidak hanya fokus pada fisik sekolah yang tahan gempa, tetapi juga melatih seluruh komponen sekolah dalam mengelola darurat. Guru, siswa, dan tenaga kependidikan dilatih untuk respons cepat dan koordinasi yang baik saat bencana," jelasnya.

Selain itu, Lestari juga menyebutkan pentingnya pengembangan literasi bencana di kalangan pendidik. "Guru harus menjadi agen perubahan yang memahami risiko bencana di daerahnya. Mereka tidak hanya mengajar akademik, tetapi juga membekali siswa dengan keterampilan bertahan hidup dan pemahaman tentang mitigasi bencana," tuturnya.

Dukungan dan Tindak Lanjut

Untuk mewujudkan sistem pembelajaran adaptif secara menyeluruh, Lestari mengajak seluruh pihak bersinergi. Pemerintah perlu menyediakan kebijakan dan anggaran yang memadai, sedangkan komunitas pendidikan dan masyarakat harus turut serta dalam implementasi.

"Kita perlu membangun ekosistem pendidikan yang responsif dan tangguh. Ini bukan tugas pemerintah semata, tapi tanggung jawab kita bersama. Generasi muda yang dilengkapi dengan pengetahuan dan keterampilan menghadapi bencana akan menjadi aset berharga untuk bangsa di masa depan," pungkas Lestari.

Forum yang diselenggarakan oleh MPR bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) ini diharapkan menghasilkan rekomendasi konkret untuk diterapkan dalam kebijakan nasional, sehingga sistem pendidikan Indonesia mampu beradaptasi dengan kondisi bencana yang terus meningkat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User