Verifikasi Video Erupsi Anak Krakatau
Klaim yang BeredarSebuah video yang menampilkan kolom abu setinggi ratusan meter dengan latar suara gemuruh beredar luas di platform media sosial. Video tersebut diklaim sebagai rekaman erupsi Gunung ...
Klaim yang Beredar
Sebuah video yang menampilkan kolom abu setinggi ratusan meter dengan latar suara gemuruh beredar luas di platform media sosial. Video tersebut diklaim sebagai rekaman erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi pada awal tahun 2025. Narasi yang menyertainya menyebut bahwa aktivitas vulkanik meningkat dan status gunung telah dinaikkan menjadi waspada. Tangkapan layar video itu dibagikan oleh beberapa akun Twitter dan grup WhatsApp, menimbulkan kepanikan di kalangan masyarakat pesisir Lampung dan Banten.
Sumber klaim tidak mencantumkan tanggal pengambilan video secara jelas, tetapi sebagian besar unggahan mencantumkan waktu yang merujuk pada pekan ketiga Januari 2025. Beberapa akun bahkan menambahkan imbauan untuk mengungsi, meskipun tidak ada peringatan resmi dari pihak berwenang. Viralnya video ini mendorong sejumlah warganet untuk meminta klarifikasi dari institusi terkait.
Hasil Verifikasi
Berdasarkan verifikasi yang dilakukan dengan metode forensik digital dan penelusuran data resmi, ditemukan bahwa video tersebut bukanlah rekaman erupsi Gunung Anak Krakatau terkini. Faktanya adalah video tersebut identik dengan rekaman erupsi Gunung Semeru yang terjadi pada Desember 2021 silam. Perbandingan frame menunjukkan kemiripan bentuk kolom abu dan pola sebaran material piroklastik yang tidak sesuai dengan karakteristik erupsi Anak Krakatau.
Data resmi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyatakan bahwa hingga 23 Januari 2025, Gunung Anak Krakatau berada pada Level II (Waspada) dan tidak menunjukkan peningkatan aktivitas yang signifikan. Sumber resmi dalam laporan harian PVMBG (pvmbg.kebudayaan.kemdikbud.go.id) mencatat bahwa pada periode tersebut hanya terjadi hembusan asap tipis setinggi 50–100 meter dari kawah, bukan erupsi eksplosif seperti yang ditampilkan dalam video. Selain itu, status gunung tidak diubah sejak Oktober 2024.
Selain itu, tim juga menemukan bahwa video yang beredar telah diedit dengan menambahkan suara gemuruh dan teks overlay yang menyesatkan. Bertentangan dengan klaim yang menyebutkan lokasi di Selat Sunda, analisis geospasial menunjukkan bahwa topografi pantai dalam video tidak cocok dengan garis pantai Anyer atau Kalianda. Sebaliknya, pohon-pohon dan tebing yang muncul di latar belakang identik dengan area Gunung Semeru di Jawa Timur.
Kesimpulan
Berdasarkan verifikasi yang dilakukan, klaim bahwa video tersebut menunjukkan erupsi Gunung Anak Krakatau adalah HOAX. Video merupakan rekaman erupsi Gunung Semeru tahun 2021 yang diambil dari sudut pandang yang sama dan diedit ulang. Data menunjukkan tidak ada erupsi besar Anak Krakatau pada waktu yang diklaim, dan PVMBG tidak mengeluarkan peringatan evakuasi. Masyarakat diimbau untuk selalu merujuk pada sumber resmi seperti PVMBG, BMKG, dan BNPB sebelum menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
Comments (0)