Suasana akademis di Kampus Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya mendadak lumpuh total. Lorong-lorong gedung fakultas yang biasanya dipenuhi riuh diskusi ilmiah kini berganti dengan gema teriakan orator dan spanduk tuntutan yang membentang di setiap sudut strategis. Ribuan mahasiswa turun ke jalan menyuarakan mosi tidak percaya terhadap kepemimpinan kepemimpinan rektor saat ini, menciptakan kelumpuhan aktivitas belajar mengajar yang tak terelakkan.
Penolakan terhadap kepemimpinan Prof. Akh. Muzakki, M.Ag., SEA., Ph.D. sebagai Rektor UINSA memuncak dalam gelombang aksi massa yang masif. Berdasarkan investigasi lapangan, mayoritas ruang kelas di gedung perkuliahan bersama tampak kosong melompong. Para dosen yang sejatinya dijadwalkan mengajar terpaksa menunda perkuliahan akibat situasi yang tidak kondusif, sementara fasilitas administrasi kampus menghentikan pelayanannya secara sementara.
Akar Kekecewaan dan Gelombang Penolakan
Gelombang protes ini tidak muncul dalam ruang hampa. Kekecewaan mahasiswa telah terakumulasi selama bertahun-tahun terkait berbagai kebijakan internal yang dinilai tidak berpihak pada transparansi tata kelola kampus dan kebebasan berorganisasi. Pembatasan ruang berekspresi serta tingginya komersialisasi pendidikan menjadi pemantik utama meluapnya kemarahan massa aksi di lingkungan UINSA Surabaya.
"Kami menuntut transparansi total dan evaluasi menyeluruh terhadap gaya kepemimpinan rektorat. Kampus seharusnya menjadi kawah candradimuka demokrasi, bukan ruang otoriter yang membungkam suara kritis mahasiswa," ujar salah satu koordinator lapangan dalam orasinya di depan Gedung Rektorat.
Kondisi ini memicu keprihatinan mendalam dari berbagai kalangan pengamat pendidikan. Mereka menilai bahwa ketegangan yang berlarut-larut antara birokrasi kampus dan mahasiswa dapat mencoreng reputasi akademik UINSA sebagai salah satu Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) terkemuka di Indonesia. "Ketika komunikasi tersumbat, kekerasan simbolik dan kekacauan administratif adalah dampak nyata yang harus dibayar mahal oleh institusi," ungkap seorang peneliti kebijakan publik setempat.
Dampak Operasional dan Peta Konflik Kampus
Aksi demonstrasi yang berlangsung intensif ini melumpuhkan berbagai sektor vital operasional kampus. Berikut adalah gambaran dampak ketegangan birokrasi terhadap aktivitas harian di UINSA Surabaya:
| Sektor Kehidupan Kampus | Kondisi Normal | Kondisi Saat Aksi Berlangsung |
|---|---|---|
| Perkuliahan Tatap Muka | Berjalan 100% di ruang kelas | Lumpuh total / Dibatalkan |
| Layanan Administrasi | Buka penuh 08.00 - 16.00 WIB | Tutup / Terbatas demi keamanan |
| Aktivitas Organisasi Kampus | Berjalan sesuai program kerja | Terkonsentrasi pada gerakan aksi |
Ketimpangan dalam tata kelola ini berdampak langsung pada lebih dari 15.000 mahasiswa yang mengakses fasilitas pendidikan harian. Banyak di antara mereka yang terpaksa membatalkan ujian, seminar proposal, hingga agenda riset laboratorium karena kebuntuan akses fisik maupun teknis di lingkungan kampus.
Menanti Ketegasan dan Solusi Konkrit Birokrasi
Hingga berita ini diturunkan, gelombang massa masih bertahan di sekitar area rektorat. Mereka menegaskan tidak akan menghentikan aksi mogok dan pemblokiran aktivitas kampus sebelum ada pernyataan resmi dari pihak Kementerian Agama maupun komitmen tertulis dari Rektor Achmad Muzakki untuk memenuhi tuntutan reformasi internal.
Kini, publik menunggu langkah nyata dari pihak birokrasi UINSA Surabaya. Tanpa adanya dialog terbuka yang transparan dan bersikap akomodatif, kampus dipastikan akan terus terombang-ambing dalam ketidakpastian akademis yang merugikan seluruh civitas hospitalia.
Comments (0)