Kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam pada 12 Rabiul Awwal Tahun Gajah menjadi salah satu peristiwa agung dalam sejarah umat manusia. Momen bersejarah itu, menurut sejumlah literatur sejarah Islam, tidak berlangsung sendirian — proses kelahirannya disebut disaksikan dan didampingi oleh tiga perempuan mulia yang memiliki peran penting di sekitar detik-detik kelahiran Rasulullah SAW.
Peristiwa kelahiran yang terjadi di Kota Makkah itu sarat dengan kisah menakjubkan, mulai dari tanda-tanda yang menyertainya hingga sosok-sosok yang hadir mendampingi ibunda Rasulullah, Sayyidah Aminah binti Wahb. Siapa sajakah tiga perempuan mulia tersebut?
Kronologi Menjelang Kelahiran
Rasulullah SAW dilahirkan pada hari Senin, 12 Rabiul Awwal, bertepatan dengan Tahun Gajah atau sekitar tahun 571 Masehi. Saat itu, kondisi Kota Makkah tengah diliputi dinamika besar — beberapa waktu sebelumnya, pasukan gajah yang dipimpin Abrahah baru saja gagal menghancurkan Kakbah.
Menjelang kelahiran, sang ayah, Abdullah bin Abdul Muthalib, telah lebih dulu wafat saat melakukan perjalanan dagang ke Madinah. Karena itu, Rasulullah SAW lahir dalam keadaan yatim, dan kelahiran itu disambut langsung oleh kakeknya, Abdul Muthalib, yang kemudian menamainya Muhammad.
Tiga Perempuan Mulia Penyaksi Kelahiran
Dalam sejumlah riwayat dan literatur sirah, proses kelahiran Rasulullah SAW disebut disaksikan oleh tiga perempuan mulia. Mereka hadir mendampingi Sayyidah Aminah di momen bersejarah tersebut dengan peran masing-masing:
- Sayyidah Aminah binti Wahb — ibunda Rasulullah SAW, perempuan mulia dari Bani Zuhrah yang menjadi pusat dari seluruh peristiwa kelahiran ini.
- Sayyidah Syifa' binti Auf — dalam sebagian riwayat disebutkan sebagai bidan yang membantu proses persalinan; ia dikenal sebagai sosok perempuan terhormat di kalangan Quraisy.
- Sayyidah Ummu Aiman (Barakah) — hamba sahaya setia yang mendampingi Sayyidah Aminah dan kelak menjadi perempuan yang merawat Rasulullah SAW hingga beliau dewasa.
Kehadiran mereka diyakini menjadi bagian dari kehendak Allah SWT untuk menjaga proses kelahiran manusia paling mulia itu agar berlangsung dengan baik dan penuh kemuliaan.
Tanda-Tanda Kebesaran Saat Kelahiran
Berbagai literatur sirah mencatat sejumlah tanda menakjubkan yang menyertai kelahiran Nabi Muhammad SAW. Diriwayatkan bahwa beliau lahir dalam keadaan suci, tali pusar telah terpotong dan sudah dikhitan — sebuah keadaan yang oleh para ulama dipandang sebagai kemuliaan istimewa.
Diriwayatkan bahwa saat kelahiran Rasulullah SAW, cahaya terang menyinari hingga ke istana-istana negeri Syam, dan bayi mulia itu lahir dalam keadaan bersujud.
Sayyidah Aminah juga disebut merasakan pengalaman spiritual yang luar biasa selama proses melahirkan. Cahaya yang memancar serta ketenangan batin yang ia rasakan menjadi penanda bahwa anak yang dilahirkannya kelak akan menjadi pembawa rahmat bagi seluruh alam.
Perjalanan Setelah Kelahiran
Setelah kelahiran, Rasulullah SAW pertama kali disusui oleh Tsuwaibah, hamba sahaya Abu Lahab, sebelum akhirnya dipercayakan kepada Halimah Sa'diyah dari Bani Sa'ad untuk disusui dan dibesarkan di pedesaan — sebuah tradisi orang-orang Quraisy terpandang saat itu.
Di masa-masa awal kehidupan beliau, Ummu Aiman terus mendampingi keluarga Rasulullah SAW. Kesetiaannya membuat Nabi SAW kelak menyebutnya sebagai "ibuku setelah ibuku", dan dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Ummu Aiman termasuk di antara perempuan yang dijamin masuk surga.
Kelahiran Nabi Muhammad SAW hingga kini diperingati umat Islam di seluruh dunia sebagai peristiwa yang membawa rahmat bagi semesta. Kisah para perempuan mulia yang menyaksikan kelahirannya menjadi pengingat bahwa di balik setiap peristiwa agung, selalu ada sosok-sosok setia yang Allah SWT kehendaki hadir di dalamnya.
[SOCIAL_TWEET]: Tiga perempuan mulia menyaksikan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Siapa saja mereka? Simak kisahnya di sini.[SOCIAL_TG]: Sirah: Tiga perempuan mulia penyaksi kelahiran Rasulullah SAW. Siapa saja dan apa peran mereka? Baca selengkapnya.
Comments (0)