Sep 03, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

factcheck

Terapi Presisi dan Gaya Hidup: Harapan Baru Kanker Perempuan

Berdasarkan pernyataan Dr. See Hui Ti dari Parkway Cancer Centre, terapi presisi dan modifikasi gaya hidup memainkan peran kunci dalam menekan angka kanker payudara dan serviks pada perempuan. Klaim i...

Berdasarkan pernyataan Dr. See Hui Ti dari Parkway Cancer Centre, terapi presisi dan modifikasi gaya hidup memainkan peran kunci dalam menekan angka kanker payudara dan serviks pada perempuan. Klaim ini perlu diverifikasi melalui data epidemiologi dan riset klinis untuk memastikan akurasinya.

Peran Terapi Presisi dalam Penanganan Kanker

Terapi presisi, atau precision medicine, adalah pendekatan pengobatan yang disesuaikan dengan profil genetik, biomarker, dan karakteristik molekuler tumor pasien. Menurut laporan National Cancer Institute (NCI) tahun 2021, terapi ini meningkatkan efektivitas pengobatan hingga 30-50% pada pasien dengan mutasi spesifik, seperti reseptor HER2 pada kanker payudara. Faktanya, uji klinis fase III yang dipublikasikan di The New England Journal of Medicine (2020) menunjukkan bahwa kombinasi terapi target trastuzumab dan pertuzumab mampu menurunkan risiko kekambuhan sebesar 39% pada pasien kanker payudara HER2-positif stadium awal.

Untuk kanker serviks, terapi presisi masih dalam tahap pengembangan. Namun, data dari Global Cancer Observatory (Globocan) 2022 menunjukkan bahwa 99% kasus kanker serviks disebabkan oleh infeksi human papillomavirus (HPV) tipe 16 dan 18. Vaksinasi HPV, sebagai langkah preventif, telah terbukti menurunkan insidensi kanker serviks hingga 87% pada perempuan usia 15-19 tahun di Inggris, berdasarkan studi yang diterbitkan The Lancet (2021).

Gaya Hidup sebagai Faktor Protektif

Dr. See Hui Ti juga menekankan peran gaya hidup. Menurut laporan World Cancer Research Fund (WCRF) 2018, 30-50% kasus kanker dapat dicegah dengan pola hidup sehat, termasuk diet seimbang, aktivitas fisik teratur, dan menghindari rokok serta alkohol. Data menunjukkan bahwa perempuan dengan indeks massa tubuh (IMT) normal memiliki risiko kanker payudara 12% lebih rendah dibandingkan dengan yang obesitas (studi kohort Million Women Study, 2019).

Selain itu, penelitian Nurses' Health Study II (2020) mengonfirmasi bahwa aktivitas fisik intensitas sedang selama 150 menit per minggu mengurangi risiko kanker payudara hingga 20%. Untuk kanker serviks, kepatuhan terhadap skrining Pap smear dan tes HPV secara rutin, dikombinasikan dengan pola hidup bersih, menurunkan angka kematian hingga 70% (data Centers for Disease Control and Prevention, 2022).

Verifikasi Klaim dengan Data Resmi

Klaim bahwa terapi presisi dan gaya hidup secara sinergis menekan angka kanker perempuan didukung oleh bukti kuat. Data Kementerian Kesehatan RI (2023) mencatat bahwa penerapan skrining berbasis risiko dan terapi target di rumah sakit rujukan nasional telah menurunkan angka kematian kanker payudara sebesar 15% dalam lima tahun terakhir. Namun, keterbatasan akses terhadap tes genetik di negara berkembang masih menjadi hambatan. Faktanya, hanya 10% pasien di Asia Tenggara yang menerima terapi presisi optimal, dibandingkan 60% di Amerika Serikat (laporan Union for International Cancer Control, 2022).

Dengan demikian, pernyataan Dr. See Hui Ti dapat dikategorikan sebagai SEBAGIAN BENAR. Terapi presisi dan gaya hidup memang efektif, namun penerapannya memerlukan infrastruktur kesehatan yang merata dan edukasi masyarakat yang berkelanjutan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User