Di bawah naungan langit Tabanan, Bali, suara dengung baling-baling udara memecah ketenangan kawasan pertanian Subak Jaka, Tempek Tirtanadi. Pertunjukkan teknologi modern ini bukan sekadar atraksi visual, melainkan sebuah pertaruhan di tengah keputusasaan. Sebuah drone pertanian tampak melayang presisi di atas lahan seluas 35 are, menyemprotkan cairan pupuk organik dalam upaya mempertahankan napas terakhir sistem pertanian ramah lingkungan yang kian terhimpit zaman.
Uji coba yang dilakukan sekitar sepuluh hari lalu itu menjadi cermin kenyataan pahit di lapangan. Sistem subak yang diakui dunia sebagai warisan budaya kini harus menyaksikan benteng pertanian organiknya tergerus secara masif. Tingginya beban operasional membuat para petani satu per satu menyerah dan kembali ke pola tanam konvensional.
Tragedi Penyusutan: Tergerus Hingga Tersisa 3 Hektare
Berdasarkan data yang dihimpun, fenomena penurunan luas lahan organik di Subak Jaka terjadi amat cepat dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Dari kawasan bentangan Subak Jaka yang memiliki total luas mencapai 48 hektare, porsi lahan organik bersertifikat kini berada pada titik yang sangat mengkhawatirkan.
| Tahun | Luas Lahan Organik | Status Pertanian |
|---|---|---|
| 2019 | 10 Hektare | Akselerasi Sertifikasi Organik |
| 2023 | 5 Hektare | Penyusutan 50 Persen |
| 2026 | 3 Hektare | Kritis / Terancam Punah |
Penyusutan drastis dari 10 hektare pada 2019 menjadi hanya 3 hektare saat ini menggarisbawahi kegagalan ekosistem pendukung dalam menjaga keberlanjutan komoditas pangan hijau. Petani tak lagi sanggup memikul beban pemeliharaan yang terus membengkak tanpa adanya kepastian margin keuntungan.
Ketimpangan Ekonomi dan Subsidi yang Minim
Pekaseh Subak Jaka, Ir. I Wayan Yusa, mengungkapkan bahwa akar permasalahan utama terletak pada tingginya biaya produksi yang harus ditanggung secara swadaya oleh para petani.
"Memang sulit mempertahankan organik, tidak hanya di Subak Jaka, tetapi di semua tempat. Salah satu kendalanya biaya produksi dan pemeliharaan cukup tinggi," ujar Yusa saat memberikan keterangan resminya.
Secara rincian ekonomi, harga pupuk organik pasar mencapai sekitar Rp1.800 per kilogram. Kebutuhan pupuk yang sangat besar disesuaikan dengan tahapan pertumbuhan tanaman padi membuat pengeluaran petani membengkak signifikan. Di sisi lain, meski harga jual produk organik tergolong tinggi—yakni gabah organik seharga Rp8.500 per kilogram dan beras organik mencapai Rp30.000 per kilogram—angka tersebut belum memadai untuk menutupi seluruh modal kerja.
Kondisi ini diperparah oleh skema bantuan pemerintah yang dinilai belum optimal. Bantuan pupuk organik yang disalurkan selama ini tak cukup untuk menopang kebutuhan pola tanam petani sepanjang tahun, sehingga sisa biaya operasional harus ditutup dari kantong pribadi petani sendiri.
Dronemisasi: Solusi Efisiensi atau Sekadar Obat Penawar Sementara?
Langkah meletakkan asa pada teknologi drone merupakan respons atas kelangkaan dan tingginya biaya tenaga kerja manual. Dengan modernisasi pemupukan udara, petani berharap mampu menekan efisiensi waktu, meratakan distribusi nutrisi, serta memangkas biaya pemeliharaan harian.
Namun, di balik kecanggihan baling-baling drone yang melayang, tantangan mendasar tetap menganga di atas tanah: tanpa intervensi subsidi pupuk yang berkelanjutan dan jaminan tata niaga yang adil, efisiensi teknologi hanyalah penahan sementara dari ancaman kepunahan total pertanian organik di Bali.
Comments (0)