Operasi pencarian dan pertolongan (SAR) terhadap rombongan jurnalis yang dinyatakan hilang kontak di perairan Selat Sunda kini memasuki hari keenam. Tim gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI Angkatan Laut, Polairud, serta kelompok nelayan lokal terus memperluas radius penyisiran hingga mencapai 350 mil laut persegi dari titik perkiraan awal hilangnya kapal.
Rombongan jurnalis yang berjumlah lima orang tersebut dilaporkan tengah melakukan peliputan lapangan mengenai dinamika ekosistem maritim dan aktivitas vulkanik di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau. Namun, pelayaran yang semula dijadwalkan berlangsung singkat tersebut berubah menjadi insiden darurat setelah kontak radio dan sinyal navigasi terputus secara mendadak.
Kronologi Hilang Kontak di Perairan Selat Sunda
Berdasarkan rekaman navigasi dan data manifes pelayaran yang dihimpun oleh tim investigasi Lurusin.com, berikut adalah urutan kejadian kronologis terkait hilangnya rombongan wartawan tersebut:
- Senin, Pukul 06.00 WIB: Rombongan jurnalis bertolak dari Pelabuhan Paku, Anyer, Kabupaten Serang, menggunakan kapal motor nelayan KM Bahari Mandiri yang disewa khusus untuk ekspedisi peliputan.
- Senin, Pukul 14.30 WIB: Komunikasi terakhir tercatat via ponsel satelit. Tim jurnalis melaporkan keberadaan mereka di posisi sekitar 12 mil laut sebelah timur Pulau Sangiang dengan kondisi gelombang laut yang mulai meningkat.
- Senin, Pukul 17.15 WIB: Sinyal darurat dari alat Emergency Position Indicating Radio Beacon (EPIRB) memancar secara singkat selama dua menit sebelum akhirnya mati total.
- Selasa, Pukul 01.00 WIB: Otoritas pelabuhan resmi memicu status darurat dan berkoordinasi dengan Basarnas Banten setelah kapal tidak kunjung bersandar sesuai jadwal yang ditentukan.
Jejak Terakhir dan Penyisiran Hari Keenam
Memasuki hari keenam operasi pencarian, tim penyelamat mulai menemukan titik terang berupa serpihan kayu dan tabung bahan bakar pelampung yang diduga kuat merupakan bagian dari kapal peliputan tersebut. Kendall demikian, keberadaan fisik badan kapal serta lima jurnalis di dalamnya masih terus dilacak.
"Kami telah mengerahkan kapal survei hidros-oseanografi KRI Rigel-933 yang memiliki kemampuan mendeteksi objek di dasar laut hingga kedalaman ratusan meter. Arus bawah laut yang sangat deras serta cuaca yang berubah cepat menjadi kendala terbesar di lapangan," tegas Kepala Kantor SAR Banten dalam keterangannya.
Adapun rincian kekuatan armada dan personel yang dikerahkan pada pencarian hari keenam ini mencakup:
- 2 Unit Kapal Perang KRI: Difokuskan untuk memindai area perairan dalam menggunakan teknologi multibeam echosounder.
- 1 Helikopter AW139: Melakukan pemantauan udara di sepanjang pesisir Pulau Panaitan hingga batas selatan Selat Sunda.
- 15 Kapal Patroli & RIB: Menyisir perairan dangkal, ceruk karang, dan pulau-pulau kecil tak berpenghuni.
- 150 Personel Gabungan: Disiagakan penuh di posko utama Pelabuhan Merak dan Anyer untuk pengolahan data lapangan.
Dugaan Penyebab dan Tantangan Geografis
Perairan Selat Sunda dikenal memiliki karakteristik hidrodinamika yang sangat kompleks. Pertemuan arus kuat antara Samudra Hindia dan Laut Jawa kerap memicu gelombang pasang mendadak dan pusaran air yang sangat berbahaya bagi kapal-kapal berukuran menengah.
Dugaan awal dari tim investigator menunjukkan bahwa kapal mengalami kegagalan mesin utama (blackout) saat dihantam cuaca buruk, sehingga kapal kehilangan kendali dan terbawa arus kuat menuju palung laut dalam di bagian selatan Selat Sunda. Tim SAR memastikan bahwa operasi pencarian akan terus dimaksimalkan hingga masa tanggap darurat selesai dimanfaatkan secara optimal.
Comments (0)