Aug 25, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

factcheck

Sanatorium Pacet: Upaya Tangani Wabah TBC di Hindia Belanda

Puluhan tahun sebelum kemerdekaan, tuberkulosis menjadi salah satu ancaman kesehatan terbesar di wilayah yang saat itu bernama Hindia Belanda. Penyakit yang menyerang paru-paru itu menyebar luas di te...

Sanatorium Pacet: Upaya Tangani Wabah TBC di Hindia Belanda

Puluhan tahun sebelum kemerdekaan, tuberkulosis menjadi salah satu ancaman kesehatan terbesar di wilayah yang saat itu bernama Hindia Belanda. Penyakit yang menyerang paru-paru itu menyebar luas di tengah padatnya permukiman dan rendahnya kualitas gizi masyarakat. Di tengah wabah yang berlangsung lama tersebut, muncul gagasan membangun tempat perawatan khusus yang menjauhkan pasien dari keramaian kota. Dari gagasan itu lahirlah Sanatorium Pacet, sebuah fasilitas kesehatan di lereng pegunungan Mojokerto yang hingga kini masih dikenang dalam catatan sejarah kedokteran Indonesia.

Wabah TBC dan Respons Kesehatan Kolonial

Berdasarkan catatan sejarah kesehatan, tuberkulosis menjadi salah satu penyebab kematian utama di Hindia Belanda pada paruh pertama abad ke-20. Iklim tropis yang lembap, pemukiman yang padat, serta kesenjangan sosial ekonomi yang lebar membuat penyakit ini mudah menular, terutama di kalangan penduduk pribumi. Pemerintah kolonial kemudian menggandeng lembaga swasta untuk mendirikan sanatorium, sebuah fasilitas yang meniru model perawatan TBC yang berkembang di Eropa: mengisolasi pasien di tempat berudara segar dan bersuhu sejuk.

Salah satu lembaga yang mengambil peran besar adalah Nederlandsch-Indische Sanatorium Vereeniging, atau Perkumpulan Sanatorium Hindia Belanda. Lembaga ini menggagas pembangunan sanatorium di daerah pegunungan yang diyakini lebih baik bagi penderita penyakit paru-paru. Pacet, sebuah kecamatan di Kabupaten Mojokerto yang berada di kaki Gunung Welirang dan Penanggungan, dipilih karena udaranya yang sejuk serta jaraknya yang jauh dari hiruk-pikuk kota besar.

Sanatorium Pacet: Fasilitas untuk Berbagai Golongan

Sanatorium Pacet hadir sebagai fasilitas perawatan yang dirancang untuk melayani berbagai golongan. Pembangunannya menandai babak baru dalam penanganan TBC di tanah jajahan, karena perawatan tidak lagi hanya mengandalkan rumah sakit umum yang penuh sesak. Pasien yang diterima menjalani pengaturan pola hidup yang ketat: istirahat teratur, makanan bergizi, dan paparan udara segar pegunungan yang dianggap bagian penting dari terapi.

Namun, kehadiran sanatorium tersebut tidak lantas berarti semua lapisan masyarakat dapat dengan mudah mengaksesnya. Data menunjukkan bahwa kapasitas tempat tidur yang tersedia sangat terbatas jika dibandingkan dengan jumlah penderita yang terus bertambah. Antrean panjang calon pasien menjadi pemandangan yang nyaris tak terhindarkan, sementara mereka yang paling membutuhkan perawatan justru kerap kesulitan memperoleh giliran.

Keterbatasan Tempat Tidur dan Mahalnya Biaya

Persoalan terbesar bukan hanya pada jumlah tempat tidur, melainkan juga pada biaya perawatan. Biaya pengobatan di sanatorium tergolong tinggi dan jauh dari jangkauan mayoritas penduduk pribumi yang hidup dari upah rendah. Akibatnya, meskipun fasilitas itu secara formal terbuka untuk berbagai golongan, kenyataannya yang mampu menjangkaunya hanyalah mereka yang memiliki kemampuan finansial, termasuk kalangan Eropa dan priayi yang berkecukupan.

Kondisi ini menciptakan ironi yang sulit dihindari. Di satu sisi, sanatorium menjadi bukti bahwa penanganan TBC mulai dianggap serius oleh penguasa kolonial; di sisi lain, kebijakan yang berbiaya tinggi dan berkapasitas kecil membuat akses tetap menjadi persoalan yang belum tuntas. Bagi rakyat kebanyakan, pengobatan TBC masih sangat bergantung pada layanan kesehatan murah yang jumlahnya terbatas, atau bahkan pada pengobatan tradisional warisan leluhur.

Warisan Sejarah Sanatorium Pacet

Setelah kemerdekaan, Sanatorium Pacet tidak hilang dari peta kesehatan Indonesia. Bangunan dan kawasan tempat sanatorium itu berdiri kemudian dikelola oleh pemerintah dan menjadi bagian dari pengembangan layanan kesehatan masyarakat di Mojokerto. Nilai sejarahnya tetap relevan untuk dicermati: sanatorium adalah jawaban medis pada zamannya, tetapi sekaligus pengingat bahwa fasilitas kesehatan yang baik tidak banyak berarti bila tidak diimbangi dengan keterjangkauan bagi semua golongan.

Pelajaran dari Sanatorium Pacet sejalan dengan persoalan kesehatan masyarakat yang masih dihadapi hingga hari ini. Ketersediaan fasilitas saja tidak cukup; pemerataan akses dan biaya yang terjangkau adalah kunci agar layanan kesehatan benar-benar dinikmati seluruh lapisan masyarakat. Sejarah Sanatorium Pacet mengajarkan bahwa di tengah wabah, keberadaan rumah sakit bukanlah akhir dari persoalan, melainkan awal dari perjuangan panjang yang menuntut komitmen bersama.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS oky-pratista

Reporter Hukum. Fokus pada mafia peradilan, judicial corruption, dan reformasi hukum.

Comments (0)

User