Pada awal abad ke-20, tuberkulosis menjadi salah satu ancaman kesehatan terbesar di Hindia Belanda. Penyakit yang menyerang paru-paru ini menyebar luas di kota-kota padat penduduk, tempat ventilasi buruk dan kemiskinan menjadi lahan subur bagi penularan. Di tengah situasi itu, kawasan pegunungan berudara sejuk mulai dilirik sebagai lokasi pemulihan, dan salah satu jawabannya hadir di Pacet, Mojokerto, Jawa Timur.
Sanatorium Sebagai Bentuk Respons Kesehatan Publik
Berdasarkan verifikasi catatan sejarah kesehatan kolonial, sanatorium didirikan sebagai respons terhadap melonjaknya jumlah penderita TBC yang membutuhkan perawatan jangka panjang. Konsep pengobatan saat itu bertumpu pada udara bersih, istirahat total, dan makanan bergizi — pendekatan yang diyakini mampu memperlambat perkembangan penyakit sebelum obat antibiotik ditemukan. Pacet dipilih karena ketinggiannya yang memberikan suhu dingin dan udara yang dianggap lebih sehat dibandingkan dataran rendah yang lembap dan panas.
Fasilitas ini bukan satu-satunya di Hindia Belanda, tetapi keberadaannya menandai perubahan cara pandang penguasa kolonial terhadap TBC: dari sekadar penyakit individual menjadi persoalan yang membutuhkan institusi khusus. Para dokter kolonial mencatat bahwa angka kematian akibat TBC sangat tinggi, terutama di kalangan pekerja perkotaan dan mereka yang hidup berdesakan di rumah-rumah sempit. Sanatorium hadir sebagai instrumen pengendalian penyakit yang diharapkan memutus rantai penularan lewat isolasi dan perawatan.
Layanan untuk Berbagai Golongan, Namun Tidak untuk Semua
Faktanya adalah, sanatorium ini dirancang untuk melayani berbagai golongan masyarakat, tidak hanya orang Eropa. Catatan menunjukkan bahwa pasien dari kelompok etnis yang berbeda ditempatkan di bagian-bagian tersendiri, mencerminkan struktur sosial yang berlaku pada masa itu. Kehadiran fasilitas ini sempat disambut sebagai langkah maju karena membuka kemungkinan perawatan bagi pribumi yang selama ini nyaris tanpa akses layanan kesehatan modern.
Namun, keterbatasan jumlah tempat tidur menjadi persoalan yang tidak bisa diabaikan. Kapasitas sanatorium yang kecil berbanding terbalik dengan jumlah penderita yang terus bertambah, sehingga antrean panjang menjadi pemandangan yang lazim. Bagi mereka yang berhasil mendapatkan tempat, perawatan membutuhkan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun, sementara tempat tidur yang tersedia hanya mampu menampung sebagian kecil dari total penderita yang terdata.
Biaya Perawatan dan Tembok Sosial yang Menghalangi
Selain keterbatasan tempat, biaya menjadi penghalang kedua yang sama beratnya. Perawatan di sanatorium menuntut pengeluaran yang tidak terjangkau oleh mayoritas penduduk, yang sebagian besar bekerja sebagai buruh dengan upah harian. Data menunjukkan bahwa biaya tersebut mencakup akomodasi, makanan khusus, hingga pengawasan medis yang rutin — semua komponen yang sulit dipenuhi oleh keluarga miskin yang justru paling rentan tertular.
Akibatnya, sanatorium lebih mudah diakses oleh golongan yang memiliki kemampuan finansial memadai, baik orang Eropa maupun priyayi dan pedagang pribumi yang relatif mampu. Ketimpangan ini membuat tujuan awal pendirian sanatorium — yaitu menekan laju wabah secara menyeluruh — tidak sepenuhnya tercapai. Mereka yang tidak mampu membayar harus bergantung pada perawatan di rumah atau fasilitas yang jauh lebih sederhana, dengan harapan kesembuhan yang jauh lebih tipis.
Warisan yang Tersisa
Sanatorium Pacet tetap beroperasi sepanjang masa kolonial dan meninggalkan jejak yang bertahan lama. Bangunannya menjadi saksi bisu dari satu babak panjang pergulatan melawan TBC di Nusantara, lengkap dengan segala keberhasilan dan kekurangannya. Dari perspektif sejarah medis, keberadaan sanatorium membuktikan bahwa wabah TBC pernah menjadi krisis kesehatan publik yang serius, bukan sekadar isu pinggiran.
Pelajaran yang dapat ditarik adalah bahwa fasilitas kesehatan tidak akan efektif jika hanya mengandalkan gedung dan peralatan, tanpa disertai kebijakan yang menjamin akses bagi semua lapisan. Kombinasi antara keterbatasan kapasitas dan tingginya biaya membuat perlindungan terhadap masyarakat justru timpang: mereka yang paling membutuhkan menjadi yang paling sulit menjangkaunya. Catatan sejarah ini tetap relevan sebagai pengingat bahwa keadilan akses kesehatan adalah syarat mutlak dalam setiap upaya pengendalian wabah, di masa lalu maupun masa kini.
Kesimpulannya, Sanatorium Pacet merupakan bukti nyata respons kolonial terhadap wabah TBC, tetapi efektivitasnya terbatas oleh kapasitas tempat tidur yang kecil dan biaya perawatan yang mahal — dua faktor yang membuat layanan ini tidak mampu menjangkau seluruh penderita yang membutuhkan.
Comments (0)