Sep 03, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

factcheck

Sampah Makanan Dominasi TPA, Publik Lebih Sibuk Soal Plastik

Persoalan sampah di Indonesia menyimpan ironi yang jarang disadari. Jenis limbah yang paling banyak memenuhi tempat pembuangan akhir justru bukan yang paling sering diperbincangkan. Perdebatan publik ...

Sampah Makanan Dominasi TPA, Publik Lebih Sibuk Soal Plastik

Persoalan sampah di Indonesia menyimpan ironi yang jarang disadari. Jenis limbah yang paling banyak memenuhi tempat pembuangan akhir justru bukan yang paling sering diperbincangkan. Perdebatan publik selama ini lebih banyak tersedot pada soal kantong plastik, sedotan, dan kemasan sekali pakai. Padahal, sisa makanan yang menumpuk setiap hari menyumbang porsi terbesar dari volume sampah yang berakhir di TPA.

Porsi terbesar yang luput dari pemberitaan

Berdasarkan berbagai kajian pengelolaan sampah, komposisi timbunan di TPA dihuni mayoritas oleh sampah organik, terutama sisa makanan. Angka tersebut kerap menjadi bukti bahwa prioritas pengelolaan sampah belum sepenuhnya berpihak pada akar persoalan. Sampah makanan tidak hanya menyangkut volume, tetapi juga dampak lanjutan. Ketika sisa makanan membusuk di TPA, proses dekomposisinya menghasilkan gas metana, salah satu gas rumah kaca yang jauh lebih kuat dibanding karbon dioksida dalam menjebak panas bumi.

Namun, perhatian publik terhadap persoalan ini masih jauh di bawah isu plastik. Padahal, sampah makanan hadir setiap hari di rumah tangga, pasar tradisional, hingga restoran. Ia adalah sampah yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari, tetapi justru paling jarang dibicarakan dalam diskursus publik maupun kampanye lingkungan.

Plastik yang mencuri perhatian

Berbeda dengan sisa makanan, sampah plastik memiliki keunggulan visual. Kantong plastik yang beterbangan, sedotan yang menyumbat saluran air, hingga mikroplastik yang ditemukan di lautan adalah gambaran yang mudah ditangkap kamera dan cepat menyebar di media sosial. Narasi tentang plastik lebih mudah dibentuk menjadi gerakan, mulai dari kampanye menolak kantong plastik hingga imbauan membawa botol minum sendiri.

Ada alasan psikologis di balik ketimpangan ini. Sampah plastik meninggalkan jejak yang bertahan lama dan terlihat nyata, baik di pantai, di sungai, maupun di perut hewan laut. Sisa makanan, sebaliknya, menghilang dari pandangan begitu masuk ke TPA, seolah-olah masalahnya ikut terkubur. Manusia cenderung merespons ancaman yang terlihat lebih cepat dibanding ancaman yang tak kasat mata.

Kemudahan ini bukan berarti isu plastik tidak penting. Pencemaran plastik nyata dan membutuhkan penanganan serius. Namun, ketika perhatian hanya berpusat pada satu jenis sampah, persoalan lain yang volumenya jauh lebih besar bisa terus berjalan tanpa penyelesaian yang memadai.

Risiko kebijakan yang timpang

Ketimpangan perhatian ini pada akhirnya berpotensi melahirkan kebijakan yang tidak seimbang. Regulasi soal plastik sekali pakai, misalnya, cukup sering muncul di tingkat daerah maupun nasional. Mulai dari larangan kantong plastik di ritel hingga pajak kemasan, berbagai instrumen kebijakan diarahkan untuk menekan konsumsi plastik.

Sementara itu, penanganan sampah makanan jarang mendapat regulasi seketat itu. Padahal, tanpa intervensi yang setara, pengurangan sampah plastik hanya menyelesaikan sebagian kecil dari persoalan timbunan di TPA. Kebijakan yang timpang berisiko menciptakan kesan bahwa persoalan sampah sedang ditangani, padahal akar masalahnya belum tersentuh.

Menuju penanganan yang seimbang

Sejumlah negara maju telah mulai menggeser fokusnya. Pemisahan sampah organik di sumber, pengolahan sisa makanan menjadi kompos, hingga pemanfaatan gas metana dari TPA menjadi energi adalah contoh langkah yang menempatkan sampah makanan pada posisi yang semestinya. Pendekatan seperti ini menunjukkan bahwa sampah makanan bukan sekadar masalah, melainkan potensi yang bisa diolah kembali.

Di Indonesia, kesadaran terhadap persoalan ini mulai tumbuh, meski belum merata. Sebagian kota telah mengembangkan program pengolahan sampah organik, tetapi cakupannya masih terbatas dibandingkan skala timbunan yang ada. Padahal, dari sisi biaya, mengelola sampah di sumber jauh lebih murah dibanding mengangkut dan menimbunnya di TPA. Diperlukan keseriusan yang sama seperti yang selama ini diberikan kepada isu plastik.

Kesimpulannya, perhatian yang tidak seimbang antara sampah plastik dan sampah makanan bukan sekadar soal persepsi. Ia memengaruhi arah kebijakan, alokasi anggaran, hingga gerakan masyarakat. Jika hanya plastik yang terus menjadi sorotan, maka porsi terbesar sampah di TPA akan tetap menjadi persoalan yang diam-diam membesar. Penanganan sampah yang adil harus dimulai dari pengakuan bahwa masalah terbesar bukan selalu yang paling terlihat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS ramadiansyah

Editor Investigasi. Pemenang penghargaan jurnalisme investigasi. Spesialisasi: korupsi, kolusi, dan maladministrasi.

Comments (0)

User