Sep 16, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

Sains

Pyongyang — 100 Ribu Buruh Korut Diduga Bantu Produksi Drone Rusia

Di balik dinding kerahasiaan rezim yang tertutup rapat, skema pengiriman tenaga kerja ilegal skala besar oleh Pyongyang kembali terkuak ke permukaan. Berda

Pyongyang — 100 Ribu Buruh Korut Diduga Bantu Produksi Drone Rusia

Di balik dinding kerahasiaan rezim yang tertutup rapat, skema pengiriman tenaga kerja ilegal skala besar oleh Pyongyang kembali terkuak ke permukaan. Berdasarkan laporan intelijen dan pemantauan hak asasi manusia terbaru yang dirilis di Seoul, Korea Utara diperkirakan telah memobilisasi hingga 100.000 pekerja ke luar negeri. Lebih mengkhawatirkan lagi, investigasi mengindikasikan bahwa sebagian dari para pekerja ini secara langsung diintegrasikan ke dalam rantai pasokan dan manufaktur militer Rusia, termasuk dalam fasilitas perakitan pesawat nirawak (drone) tempur.

Operasi pemindahan manusia secara masif ini tidak hanya menjadi napas buatan bagi perekonomian Pyongyang yang sedang dihantam sanksi berat, tetapi juga mempertegas aliansi taktis yang kian erat antara Presiden Vladimir Putin dan Pemimpin Tertinggi Kim Jong-un. Para pekerja Korea Utara ini dilaporkan ditempatkan di situs-situs industri strategis, bekerja di bawah pengawasan ketat aparat keamanan negara mereka sendiri serta dikawal oleh personel intelijen Rusia.

Jaringan Buruh Gelap dan Industri Pertahanan Rusia

Berdasarkan analisis data migrasi dan laporan lembaga kajian Asia Timur, pengiriman tenaga kerja ini tersebar di beberapa negara tetangga, dengan konsentrasi terbesar berada di wilayah Federasi Rusia dan Tiongkok. Di Rusia, keterlibatan pekerja Korea Utara tidak lagi terbatas pada sektor tradisional seperti penebangan kayu atau konstruksi, melainkan telah merambah ke sektor manufaktur pertahanan sensitif.

Salah satu lokasi penempatan yang disorot adalah kawasan industri khusus di wilayah Tatarstan, tempat fasilitas perakitan drone tempur berbasis teknologi asing beroperasi. Keterampilan teknis para pekerja Korut yang terbiasa dengan disiplin militer dimanfaatkan untuk mengejar target produksi drone hibrida yang dibutuhkan Moskow dalam medan pertempuran di Ukraina.

“Mereka bukan sekadar pekerja migran biasa yang mencari penghidupan, melainkan sekrup-sekrup manusia yang dipaksa menggerakkan roda industri perang tanpa memiliki hak untuk menolak,” ungkap seorang analis senior bidang geopolitik Asia-Pasifik.

Pelanggaran Sanksi PBB dan Eksploitasi Terstruktur

Praktik penempatan buruh ini merupakan bentuk pelanggaran terbuka terhadap Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 2397 yang disahkan pada tahun 2019. Resolusi tersebut mewajibkan seluruh negara anggota PBB untuk memulangkan semua pekerja Korea Utara guna menghentikan pasokan valuta asing yang digunakan Pyongyang membiayai program senjata nuklir dan misil balistiknya.

Namun, pihak Moskow dan Pyongyang disinyalir memanipulasi sistem imigrasi dengan mengeluarkannya visa non-kerja, seperti visa pelajar, visa pertukaran kebudayaan, hingga visa kunjungan bisnis komersial palsu. Di dalam kompleks manufaktur, kondisi para pekerja digambarkan sangat jauh dari standar kemanusiaan.

"Sebagian besar gaji bulanan kami disita langsung oleh pejabat partai untuk apa yang mereka sebut sebagai 'dana loyalitas negara'. Kami bekerja hingga 16 jam sehari, hidup di barak tertutup tanpa akses komunikasi ke luar, dan diawasi seolah-olah kami adalah tahanan perang,"
Indikator Operasional Rincian Temuan Laporan
Estimasi Total Pekerja 80.000 hingga 100.000 orang
Destinasi Utama Federasi Rusia (Tatarstan, Timur Jauh) & Tiongkok
Sektor Industri Perakitan Drone/Amunisi, Konstruksi, Tekstil
Estimasi Retribusi Rezim US$ 200 Juta – US$ 500 Juta per tahun

Simpul Aliran Dana dan Implikasi Keamanan Global

Skema eksploitasi tenaga kerja ini menjadi salah satu mesin pencetak uang tunai terbesar bagi rezim Korea Utara. Pendapatan berupa mata uang asing yang diperkirakan mencapai ratusan juta dolar AS per tahun tersebut dialirkan langsung ke kantong devisa terlarang rezim untuk menopang ambisi militer domestik.

Sebaliknya, bagi Rusia, kehadiran puluhan ribu tenaga kerja berbiaya rendah dan berkedisiplinan tinggi ini menjadi solusi atas krisis defisit tenaga kerja akibat mobilisasi militer internal dan dampak sanksi Barat. Kolaborasi ini menandai babak baru transaksi terlarang: pertukaran antara komoditas tenaga kerja murah untuk industri perang dengan pasokan valuta asing serta dukungan teknologi.

Investigasi ini memperingatkan bahwa selama celah pengawasan internasional tidak ditutup rapat dan sanksi tegas tidak dijatuhkan kepada pihak penampung, jaringan buruh gelap ini akan terus memperpanjang eskalasi konflik geopolitik global sekaligus memperparah penderitaan manusia di bawah rezim otoriter.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS khrisna-pertiwi

Reporter Kebijakan Publik. Menganalisis dampak kebijakan terhadap masyarakat.

Comments (0)

User