Aug 26, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

factcheck

Profil Sudaryono, Kepala BGN Baru Pengganti Nanik S Deyang

Pemerintah resmi menunjuk Sudaryono sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) yang baru, menggantikan pejabat sebelumnya, Nanik S Deyang. Keputusan ini diumumkan pada awal pekan ini melalui surat keput...

Profil Sudaryono, Kepala BGN Baru Pengganti Nanik S Deyang

Pemerintah resmi menunjuk Sudaryono sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) yang baru, menggantikan pejabat sebelumnya, Nanik S Deyang. Keputusan ini diumumkan pada awal pekan ini melalui surat keputusan presiden yang langsung berlaku efektif. Pengangkatan Sudaryono diharapkan mampu membawa angin segar dalam upaya percepatan perbaikan gizi masyarakat, terutama di tengah target penurunan angka stunting dan masalah gizi ganda yang masih menjadi pekerjaan rumah besar bangsa.

Latar Belakang dan Profil Singkat

Sudaryono lahir di Kebumen, Jawa Tengah pada 15 Maret 1968. Ia dikenal sebagai birokrat senior yang memiliki rekam jejak panjang di bidang kesehatan masyarakat dan ketahanan pangan. Sebelum menjabat sebagai Kepala BGN, pria berusia 56 tahun ini mendedikasikan lebih dari dua dekade kariernya untuk mengawal program-program gizi nasional, baik di tingkat daerah maupun pusat. Kolega-koleganya menggambarkan Sudaryono sebagai sosok pekerja keras, detail, dan sangat memahami kompleksitas persoalan gizi di Indonesia. Di luar pekerjaannya, Sudaryono juga aktif menulis artikel ilmiah tentang intervensi gizi berbasis komunitas yang banyak dirujuk oleh para peneliti muda. Penunjukannya sebagai Kepala BGN dinilai tepat mengingat pengalamannya yang menyeluruh, mulai dari perencanaan anggaran program gizi hingga implementasi di lapangan.

Riwayat Pendidikan

Sudaryono menempuh pendidikan dasar dan menengah di kampung halamannya, Kebumen. Ketertarikannya pada ilmu gizi mulai terlihat sejak ia memutuskan melanjutkan kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Aisyiyah Yogyakarta, tempat ia meraih gelar Sarjana Gizi pada tahun 1991. Tak berhenti di situ, ia kemudian melanjutkan studi pascasarjana di Universitas Indonesia dan memperoleh gelar Magister Kesehatan Masyarakat dengan konsentrasi Kebijakan dan Manajemen Kesehatan pada tahun 1998. Rasa ingin tahunya yang besar membawanya kembali ke bangku perkuliahan pada tahun 2005, kali ini ia meraih gelar Doktor dari Institut Pertanian Bogor dengan disertasi bertajuk “Model Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Pangan Lokal untuk Perbaikan Status Gizi Balita”. Disertasinya menjadi landasan bagi banyak program intervensi gizi spesifik yang diterapkan di daerah-daerah rawan stunting. Semasa berkuliah, Sudaryono juga aktif di organisasi kemahasiswaan dan beberapa kali menjadi asisten peneliti di proyek-proyek kajian gizi mikro yang didanai oleh lembaga internasional.

Jejak Karier di Pemerintahan

Karier Sudaryono di pemerintahan dimulai pada tahun 1993 sebagai tenaga teknis di Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah. Di sana ia bertugas menyusun panduan pemantauan pertumbuhan balita dan mengelola program pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil kurang energi kronis. Pada tahun 2000, ia dipromosikan menjadi Kepala Seksi Gizi Masyarakat di Dinas Kesehatan Kabupaten Kebumen, tempat ia berhasil menurunkan angka gizi buruk hingga 30 persen dalam lima tahun melalui inovasi dapur gizi desa. Keberhasilan itu menarik perhatian pemerintah pusat. Sudaryono kemudian ditarik ke Kementerian Kesehatan pada tahun 2006 untuk mengisi posisi sebagai Kepala Subdirektorat Gizi Makro. Di bawah kepemimpinannya, Subdit Gizi Makro merancang sejumlah kebijakan strategis seperti fortifikasi pangan wajib, biskuit ibu hamil, dan program multi-mikronutrien untuk remaja putri. Pada periode 2012, ia dipercaya sebagai Direktur Gizi Masyarakat di Kementerian Kesehatan dan menjabat hingga 2017. Salah satu terobosannya adalah memperkuat sistem surveilans gizi berbasis elektronik yang memungkinkan pemantauan status gizi secara real-time di lebih dari 500 kabupaten/kota. Setelah melewati masa tugas di Kemenkes, Sudaryono ditugaskan di Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) sebagai Deputi Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat, dan Kebudayaan. Di Bappenas, ia mengawal integrasi target penurunan stunting ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020–2024 dan memastikan alokasi anggaran untuk intervensi gizi spesifik dan sensitif tidak tergerus oleh efisiensi belanja. Pengalamannya di berbagai lini birokrasi inilah yang diyakini menjadi alasan utama di balik penunjukannya sebagai Kepala BGN.

Tantangan Menanti di Badan Gizi Nasional

Sebagai nakhoda baru BGN, Sudaryono langsung dihadapkan pada sejumlah pekerjaan rumah mendesak. Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2023 menunjukkan prevalensi stunting masih berada di angka 21,5 persen, jauh dari target 14 persen pada 2024. Selain stunting, BGN juga harus menangani peningkatan angka obesitas orang dewasa dan anemi pada ibu hamil yang masih tinggi. Sudaryono menyatakan akan meneruskan sekaligus memperkuat program-program yang telah dijalankan Nanik S Deyang, seperti pemberian makanan bergizi gratis untuk anak sekolah yang tengah menjadi pilot project di beberapa provinsi. Namun, ia juga menegaskan perlunya pendekatan yang lebih terintegrasi dengan kementerian dan lembaga lain, termasuk dengan Kementerian Sosial dan pemerintah daerah. “Sinergi lintas sektor bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Intervensi gizi tidak bisa berjalan sendiri tanpa perbaikan sanitasi, akses air bersih, dan pemberdayaan ekonomi keluarga,” begitu pernyataannya dalam serah terima jabatan yang digelar secara tertutup di kantor BGN. Selain itu, Sudaryono juga menekankan pentingnya penguatan data sebagai dasar pengambilan kebijakan. Ia berencana untuk menerapkan sistem dashboard gizi nasional yang transparan dan dapat diakses publik, sehingga setiap program bisa dipantau efektivitasnya secara terbuka. Di tengah dinamika anggaran negara yang ketat, Sudaryono juga akan berfokus pada optimalisasi dana desa untuk intervensi gizi di tingkat komunitas dan mendorong kemitraan dengan sektor swasta melalui skema tanggung jawab sosial perusahaan. Dengan rekam jejak dan visinya yang komprehensif, banyak pihak optimistis Sudaryono mampu membawa BGN lebih cekatan dan adaptif dalam merespons darurat gizi yang masih membelenggu jutaan anak Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User