Sep 18, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

Sains

Prambanan Kembali Gelar Sendratari Ramayana Kolosal Malam Ini

Di bawah pendar cahaya lampu yang menerangi siluet megah Candi Prambanan, dentang gamelan Jawa kembali bersahut-sahutan menembus keheningan malam Yogyakart

Prambanan Kembali Gelar Sendratari Ramayana Kolosal Malam Ini

Di bawah pendar cahaya lampu yang menerangi siluet megah Candi Prambanan, dentang gamelan Jawa kembali bersahut-sahutan menembus keheningan malam Yogyakarta. Pagelaran seni pertunjukan kolosal Sendratari Ramayana dijadwalkan mentas kembali pada Selasa malam, 15 September 2026, mulai pukul 19.30 WIB. Panggung terbuka (Open Air Outdoor Stage) yang berlatar belakang arsitektur batu situs warisan dunia abad ke-9 tersebut kembali menjadi arena pembuktian bagaimana mahakarya budaya klasik mampu bertahan melintasi zaman.

Ribuan pasang mata, baik wisatawan domestik maupun mancanegara, dipastikan memadati area tribun untuk menyaksikan dinamika perselisihan antara Rama dan Rahwana demi menyelamatkan Shinta. Namun, di balik panggung yang memukau tersebut, terdapat narasi panjang tentang konsistensi pelestarian seni, tata kelola pariwisata budaya, serta perjuangan para maestro seni tradisional di tengah arus modernisasi yang kian kencang.

Menjaga Marwah Warisan Seni Kolosal

Tradisi mentaskan Sendratari Ramayana di pelataran Prambanan bukanlah hal baru. Sejak pertama kali dipentaskan secara beruntun pada tahun 1961, pagelaran ini telah berevolusi dari sekadar pementasan lokal menjadi ikon kebudayaan nasional yang diakui dunia. Lebih dari 200 seniman—meliputi penari, pengrawit (pemusik gamelan), hingga penyanyi latar (pesinden)—dikerahkan untuk menghidupkan setiap adegan tanpa jeda dialog vokal, melainkan murni mengandalkan bahasa tubuh dan ekspresi gerak tari (mudra).

"Menari di panggung terbuka dengan latar belakang candi asli memberikan getaran magis yang tidak mungkin direplikasi di gedung pertunjukan manapun. Ini bukan sekadar pertunjukan komersial, melainkan persembahan jiwa untuk memastikan roh kebudayaan Jawa tetap berdenyut," ujar Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Pujaningrat, pengamat budaya sekaligus kurator seni pertunjukan daerah.

Evaluasi Ekonomi dan Infrastruktur Pementasan

Penelusuran Lurusin.com menunjukkan bahwa dinamika penonton Sendratari Ramayana sangat dipengaruhi oleh faktor musim dan kesiapan infrastruktur panggung. Pengelola kompleks Candi Prambanan membagi pementasan ke dalam dua kategori arena utama berdasarkan kalender cuaca tahunan. Panggung terbuka (Open Air Stage) menjadi primadona selama musim kemarau karena menyajikan lanskap candi yang diterangi tata cahaya khusus secara dramatis.

Aspek Komparasi Panggung Terbuka (Outdoor) Panggung Gedung (Tri Murti)
Periode Pentas Mei – Oktober (Musim Kemarau) November – April (Musim Hujan)
Kapasitas Penonton 1.500 Kursi 500 Kursi
Daya Tarik Visual Latar Candi Asli & Lampu Sorot Tata Panggung Digital & Efek Khusus
Target Audiens Utama Wisatawan Mancanegara & Rombongan Besar Wisatawan Domestik & Penikmat Seni Khusus

Keberadaan pagelaran ini secara langsung menggerakkan ekosistem ekonomi kreatif lokal di kawasan Sleman dan Klaten. Mulai dari penyedia jasa transportasi, pemandu wisata, perajin kostum tradisional, hingga pelaku UMKM kuliner mendapatkan dampak ekonomi berganda (multiplier effect) dari setiap pementasan yang digelar secara berkala.

Tantangan Regenerasi dan Eksistensi di Era Digital

Meskipun tiket pertunjukan kerap habis terjual menjelang akhir pekan, tantangan terbesar bagi pengelola dan sanggar tari adalah regenerasi penari muda serta efektivitas pemasaran digital. Di tengah serbuan hiburan pop modern, upaya mengenalkan nilai-nilai epik Ramayana kepada generasi muda membutuhkan pendekatan yang lebih adaptif tanpa merusak struktur dasar seni ketradisian.

Strategi pemanfaatan media sosial dan saluran reservasi tiket secara daring kini terus dioptimalkan demi menjangkau audiens yang lebih luas. Diharapkan, pementasan malam ini tidak hanya menjadi hiburan visual semata, tetapi juga pemantik kesadaran kolektif akan pentingnya merawat warisan sejarah bangsa di tengah arus globalisasi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS ramadiansyah

Editor Investigasi. Pemenang penghargaan jurnalisme investigasi. Spesialisasi: korupsi, kolusi, dan maladministrasi.

Comments (0)

User