Oct 14, 2026
factcheck

Polisi Palembang Diduga Pukul Anak, Korban Alami Sakit Kepala dan Trauma

Sebuah insiden kekerasan yang melibatkan seorang anggota kepolisian di Palembang mencuat ke publik setelah keluarga korban melaporkan adanya dugaan pemukulan terhadap seorang anak yang sedang bermain ...

Polisi Palembang Diduga Pukul Anak, Korban Alami Sakit Kepala dan Trauma

Sebuah insiden kekerasan yang melibatkan seorang anggota kepolisian di Palembang mencuat ke publik setelah keluarga korban melaporkan adanya dugaan pemukulan terhadap seorang anak yang sedang bermain layang-layang. Korban, yang identitasnya dirahasiakan dengan inisial LK, kini dikabarkan mengalami sejumlah gangguan kesehatan fisik maupun psikologis akibat perbuatan oknum polisi tersebut. Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian setempat belum memberikan pernyataan resmi terkait kasus yang sudah ramai menjadi perbincangan.

Pengakuan Pihak Keluarga

Berdasarkan keterangan yang dihimpun, keluarga korban mengungkapkan bahwa LK mengeluhkan rasa nyeri hebat di bagian kepala. Keluhan itu muncul tidak lama setelah ia berurusan dengan seorang polisi diduga bertindak di luar prosedur. Seorang kerabat dekat menceritakan bahwa anak tersebut sempat menangis dan memegangi kepalanya sesaat setelah kejadian. "LK seketika mengadu pusing yang luar biasa, bahkan sampai sulit berdiri," ujar salah satu anggota keluarga yang enggan disebut namanya. Mereka menduga kuat bahwa rasa sakit itu timbul akibat pukulan atau benturan yang dilakukan oleh oknum aparat tersebut.

Keluarga juga menyatakan bahwa peristiwa itu terjadi saat LK sedang asyik menerbangkan layang-layang di area terbuka dekat pemukiman mereka. Tanpa peringatan yang jelas, seorang pria berseragam polisi mendatangi dan langsung melakukan tindakan fisik terhadap LK. Motif dari tindakan tersebut hingga kini masih belum terang. Namun, dugaan sementara mengarah pada upaya pengusiran anak-anak yang dianggap mengganggu atau melanggar aturan tertentu. Pihak keluarga membantah bahwa LK melakukan kesalahan yang sepadan dengan hukuman kekerasan.

Kondisi Kesehatan Korban

Setelah insiden, LK segera dibawa ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan medis. Hasil awal menunjukkan bahwa korban mengalami gejala yang mengarah pada trauma kepala ringan. Dokter menyarankan observasi lebih lanjut mengingat keluhan pusing berat yang tak kunjung reda. Keluarga juga diminta untuk waspada terhadap tanda-tanda gegar otak, seperti mual, muntah, atau penurunan kesadaran yang mungkin muncul dalam 24 hingga 48 jam pasca kejadian.

Yang lebih mengkhawatirkan, dampak psikologis mulai terlihat pada diri LK. Berdasarkan penuturan orang tua, anak tersebut kini sering terbangun tengah malam dengan ketakutan dan menolak untuk keluar rumah. "Dia selalu bertanya apakah polisi akan datang lagi. Kami sangat khawatir kondisi ini akan mengganggu tumbuh kembangnya," kata ibu korban dengan nada cemas. Trauma tersebut membuat LK menjadi pendiam dan kehilangan minat untuk bermain di luar ruangan, aktivitas yang sebelumnya sangat ia sukai.

Respons dan Tindakan Lanjutan

Keluarga korban telah melaporkan kejadian ini ke Propam (Profesi dan Pengamanan) Polrestabes Palembang untuk menempuh jalur hukum dan etik. Mereka berharap agar oknum polisi yang terlibat segera diperiksa dan diberikan sanksi setimpal. Sayangnya, hingga saat ini belum ada konfirmasi resmi dari kepolisian mengenai status penanganan laporan tersebut. Beberapa upaya konfirmasi ke bagian humas kepolisian belum membuahkan hasil.

Seorang pengamat kepolisian yang dimintai pendapat menekankan bahwa setiap tindakan kekerasan terhadap anak merupakan pelanggaran berat, terlebih jika pelakunya adalah aparat penegak hukum. "Ini bukan hanya soal pelanggaran disiplin, tapi juga menyangkut hak asasi anak yang dilindungi undang-undang," katanya. Ia menambahkan bahwa transparansi dalam penanganan kasus sangat penting untuk menjaga kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian.

Dukungan Publik dan Desakan Keadilan

Berita mengenai dugaan pemukulan ini dengan cepat menyebar di media sosial, memicu reaksi kemarahan dari warganet. Banyak yang menyuarakan solidaritas untuk LK dan mendesak pihak berwenang untuk bertindak tegas. Tagar #JusticeForLK sempat menggema di beberapa platform, menjadi ruang bagi publik untuk mengawal kasus ini. Sejumlah lembaga perlindungan anak juga dikabarkan siap memberikan pendampingan hukum dan psikologis bagi korban dan keluarganya.

Di sisi lain, situasi ini mengingatkan kembali pada sederet kasus penyalahgunaan wewenang oleh oknum polisi yang kerap menimpa kelompok rentan, termasuk anak-anak. Masyarakat berharap agar peristiwa di Palembang ini menjadi titik balik bagi institusi kepolisian untuk lebih ketat dalam mengawasi anggotanya di lapangan dan memastikan tidak ada lagi warga sipil yang menjadi korban arogansi.

Hingga laporan ini disusun, LK masih dalam pemulihan. Pihak keluarga berkomitmen untuk terus memperjuangkan keadilan meski dihadapkan pada berbagai rintangan. Sementara itu, publik menunggu langkah pasti dari Kepolisian Daerah Sumatera Selatan untuk mengusut tuntas perkara yang telah mencoreng nama baik institusi itu.

Dinamika kasus ini diperkirakan akan terus berkembang seiring dengan desakan dari berbagai elemen masyarakat agar kebenaran segera terungkap dan korban memperoleh hak pemulihan yang layak.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User