Sep 11, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

Cek Fakta

Pertamina Peringatkan Harga Pertamax Berpotensi Tembus Rp20.000 Per Liter

Ancaman lonjakan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi membayang di depan mata masyarakat Indonesia. PT Pertamina (Persero) mengidentifikasi skenario t

Pertamina Peringatkan Harga Pertamax Berpotensi Tembus Rp20.000 Per Liter

Ancaman lonjakan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi membayang di depan mata masyarakat Indonesia. PT Pertamina (Persero) mengidentifikasi skenario terburuk di mana harga BBM jenis Pertamax (RON 92) berpeluang melambung tinggi hingga menyentuh angka Rp20.000 per liter. Skenario krusial ini mengemuka apabila ketegangan geopolitik yang terus membara di kawasan Timur Tengah memicu disrupsi pasokan minyak mentah dunia secara berlarut-larut.

Eskalasi konflik bersenjata di kawasan Teluk tak sekadar menciptakan krisis kemanusiaan, melainkan meretakkan rantai pasok energi global. Harga minyak mentah acuan dunia, seperti Brent dan West Texas Intermediate (WTI), melonjak melebihi batas normal akibat kekhawatiran gangguan distribusi di jalur vital seperti Selat Hormuz.

"Jika harga minyak mentah global bertahan di atas kriteria batas aman akibat konflik geopolitik, penyesuaian harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax menjadi keniscayaan matematis untuk menjaga keekonomian korporasi," ungkap sumber internal di lingkungan industri energi nasional.

Dampak Domino Terhadap APBN dan Konsumen

Sebagai negara net oil importer, Indonesia berada dalam posisi rentan terhadap fluktuasi harga energi global. Ketika Indonesian Crude Price (ICP) merangkak naik melampaui asumsi Makro APBN, skema beban anggaran negara dan daya beli masyarakat langsung berada di persimpangan jalan.

Para analis energi independen mengingatkan bahwa lonjakan harga Pertamax hingga Rp20.000 per liter akan memicu efek domino yang sangat destruktif bagi perekonomian nasional:

  • Migrasi Massal Pengguna BBM: Konsumen Pertamax diprediksi akan beralih secara masif ke BBM subsidi jenis Pertalite (RON 90) yang saat ini harganya ditahan di angka Rp10.000 per liter.
  • Pembengkakan Kompensasi APBN: Migrasi tersebut dipastikan menekan kuota BBM bersubsidi dan memaksa pemerintah menambah alokasi kompensasi energi hingga ratusan triliun rupiah.
  • Tekanan Inflasi Sistemik: Kenaikan biaya operasional transportasi barang dan jasa akan mendorong lonjakan harga kebutuhan pokok secara menyeluruh.

Simulasi Perbandingan Harga BBM dan Proyeksi Pasara

Berikut adalah perbandingan antara harga BBM nonsubsidi saat ini dengan proyeksi skenario lonjakan akibat krisis geopolitik global:

Jenis BBM Harga Saat Ini (Rata-Rata) Proyeksi Skenario Kenaikan Status Subsidi
Pertamax (RON 92) Rp12.950 - Rp13.400 / liter Rp20.000 / liter Non-Subsidi
Pertamax Turbo (RON 98) Rp14.400 - Rp15.000 / liter Rp22.500 - Rp24.000 / liter Non-Subsidi
Pertalite (RON 90) Rp10.000 / liter Rp10.000 / liter (Ditekan Subsidi) Subsidi APBN

Kronologi Eskalasi Tekanan Harga Minyak Dunia

Proyeksi lonjakan harga BBM hingga Rp20.000 per liter ini disusun berdasarkan perkembangan kondisi pasar komoditas dunia melalui beberapa fase berikut:

  1. Eskalasi Konflik Timur Tengah: Ketegangan militer di wilayah lintasan tanker minyak memicu kepanikan pasar komoditas mentah.
  2. Melonjaknya Harga Minyak Mentah Dunia: Harga acuan Brent menembus angka psikologis akibat ancaman penutupan pasokan dari produsen utama OPEC+.
  3. Peningkatan Nilai Keekonomian BBM: Formula harga dasar BBM nonsubsidi yang diatur Kementerian ESDM merespons kenaikan *Mean of Platts Singapore* (MOPS) serta pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS.
  4. Dilema Kebijakan Badan Usaha: Pertamina harus memikul beban berat untuk menyeimbangkan stabilitas ekonomi publik dengan kesehatan finansial perusahaan.

"Pemerintah dan Pertamina berada dalam posisi dilematis. Menahan harga Pertamax terlalu jauh dari harga keekonomian akan membebankan keuangan BUMN, sementara melepasnya ke angka Rp20.000 akan meruntuhkan daya beli masyarakat kelas menengah," ujar Kholid Syeirazi, pengamat ekonomi energi nasional.

Hingga saat ini, pemerintah terus memantau pergerakan harga minyak mentah internasional dan dinamika kurs valuta asing. Langkah mitigasi darurat, seperti pengetatan pembatasan penyaluran Pertalite agar tepat sasaran, diperkirakan akan dipercepat jika tren harga minyak dunia tidak menunjukkan tanda-tanda mereda dalam beberapa pekan ke depan.

Ketegangan di Timur Tengah mengancam pasokan minyak mentah global. Indonesia sebagai net oil importer dihadapkan pada dilema pembengkakan subsidi atau penurunan daya beli masyarakat. Baca selengkapnya di Lurusin.com!

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS khrisna-pertiwi

Reporter Kebijakan Publik. Menganalisis dampak kebijakan terhadap masyarakat.

Comments (0)

User