Oct 14, 2026
Cek Fakta

Pekerja Dewasa dan Gadget: Ketergantungan Digital di Tempat Kerja Meningkat

Ilustrasi orang dewasa bekerja menggunakan komputer bukan lagi sekadar gambar pelengkap. Di balik layar itu, sebuah pergeseran besar sedang terjadi di duni

Pekerja Dewasa dan Gadget: Ketergantungan Digital di Tempat Kerja Meningkat

Ilustrasi orang dewasa bekerja menggunakan komputer bukan lagi sekadar gambar pelengkap. Di balik layar itu, sebuah pergeseran besar sedang terjadi di dunia kerja: gadget kini menjadi tulang punggung operasional harian. Dari ponsel pintar hingga laptop, perangkat digital telah berubah dari alat bantu menjadi kebutuhan primer yang menentukan produktivitas, komunikasi, hingga identitas profesional seseorang.

Data terbaru menunjukkan tren yang mengkhawatirkan sekaligus menarik. Survei terhadap 2.500 pekerja dewasa di kawasan perkotaan menemukan bahwa 87 persen mengaku tidak dapat menyelesaikan pekerjaan tanpa setidaknya dua perangkat digital. Angka ini naik dari 61 persen lima tahun lalu. Sementara itu, 42 persen responden mengaku memeriksa ponsel kerja dalam lima menit pertama setelah bangun tidur.

Analisis: Gadget sebagai Alat Produksi Baru

Fenomena ini bukan sekadar soal gaya hidup. Dalam kerangka ekonomi digital, gadget telah bertransformasi menjadi alat produksi. Pekerja lepas, karyawan kantoran, hingga pelaku usaha mikro kini menggantungkan penghasilan pada perangkat yang mereka genggam. Namun, ketergantungan ini menciptakan paradoks: semakin efisien, semakin sulit lepas.

Tahun Rata-rata Perangkat per Pekerja Jam Layar Harian Keluhan Kelelahan Digital
2019 1,8 6,2 jam 34%
2022 2,4 8,1 jam 51%
2025 3,1 9,4 jam 67%

"Kita menyaksikan pergeseran dari pekerja yang menggunakan gadget menjadi pekerja yang dikendalikan gadget. Batas antara jam kerja dan waktu pribadi nyaris hilang," ujar Dr. Ratna Wijaya, pengamat psikologi industri dari Universitas Indonesia.

Menariknya, peningkatan jumlah perangkat tidak berbanding lurus dengan kepuasan kerja. Survei yang sama mencatat 58 persen pekerja merasa lebih tertekan karena harus selalu siaga di berbagai platform. Notifikasi email, pesan instan, dan panggilan video menciptakan apa yang disebut "attention residue"—sisa kognitif yang mengganggu fokus bahkan setelah pekerjaan selesai.

Dari sisi ekonomi, ketergantungan gadget juga membuka celah baru. Pasar aksesori dan perangkat pendukung kerja tumbuh 23 persen tahun ini. Namun, di sisi lain, kesenjangan digital masih menjadi persoalan. 31 persen pekerja dengan pendapatan rendah mengaku kesulitan memperbarui perangkat, sementara tuntutan kerja menuntut spesifikasi tinggi.

Pertanyaan besarnya: apakah perusahaan dan pekerja siap mengelola hubungan ini secara sehat? Beberapa korporasi mulai menerapkan kebijakan "right to disconnect", melarang komunikasi kerja setelah jam tertentu. Namun, kebijakan ini masih langka di Indonesia. Tanpa regulasi yang jelas, gadget yang seharusnya memudahkan justru berpotensi menjadi beban baru.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sinta-pradana

Fact-Check Editor. Verifikator bersertifikasi IFCN. Memeriksa klaim viral dan disinformasi.

Comments (0)

User