Sep 10, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

Cek Fakta

PBB Sahkan Resolusi Uni Afrika Hapus Peta Mercator

Sebuah keputusan bersejarah yang mengubah cara dunia memandang dirinya sendiri baru saja diketok di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Melalui

PBB Sahkan Resolusi Uni Afrika Hapus Peta Mercator

Sebuah keputusan bersejarah yang mengubah cara dunia memandang dirinya sendiri baru saja diketok di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Melalui voting yang dinilai sebagai kemenangan diplomasi budaya terbesar benua selatan, PBB resmi menyetujui resolusi bertajuk "Correct the Map". Resolusi yang diusulkan oleh Uni Afrika ini menuntut penghentian penggunaan Peta Mercator dalam dokumen resmi internasional dan menggantinya dengan proyeksi yang lebih presisi, yaitu Equal Earth.

Keputusan ini mengakhiri dominasi visual Peta Mercator yang telah melanggengkan bias geopolitik selama lebih dari lima abad. Proyeksi Mercator, yang dibuat oleh kartografer Flandria Gerardus Mercator pada tahun 1569, selama ini menguntungkan negara-negara di belahan bumi utara dengan menampilkan ukuran wilayah mereka jauh lebih besar dari luas sebenarnya, sementara memangkas proporsi benua Afrika, Amerika Latin, dan kawasan Asia-Pasifik.

Bias Kartografi dan Distorsi Geopolitik Lima Abad

Investigasi atas implikasi Peta Mercator menunjukkan bahwa peta bukan sekadar alat navigasi, melainkan instrumen kekuasaan dan pembentukan persepsi publik. Pada proyeksi Mercator, Greenland terlihat memiliki ukuran yang hampir sama besar dengan Benua Afrika. Padahal, secara data geografis riil, luas daratan Afrika mencapai 30,37 juta kilometer persegi, atau sekitar 14 kali lebih besar dibandingkan Greenland yang hanya memiliki luas 2,16 juta kilometer persegi.

Kondisi serupa terjadi pada kawasan Asia Tenggara dan Eropa. Negara-negara Eropa Barat tampak mendominasi ruang visual global, sementara wilayah luas seperti Indonesia—yang membentang sepanjang 5.120 kilometer—terlihat mengecil secara tidak proporsional.

"Kartografi tidak pernah bebas dari kepentingan politik. Peta Mercator dirancang untuk navigasi pelayaran abad ke-16, bukan untuk mencerminkan keadilan spasial. Mempertahankan peta tersebut di ruang kelas dan lembaga global adalah bentuk imperialisme pengetahuan yang terus dipelihara," tegas Dr. Amara Diallo, pakar geopolitik dari Universitas Dakar.

Berikut adalah perbandingan nyata antara data geografis sebenarnya dengan representasi visual pada kedua sistem proyeksi:

Wilayah / Wilayah Daratan Luas Sebenarnya (Km²) Visual Proyeksi Mercator Visual Proyeksi Equal Earth
Benua Afrika 30.370.000 Tampak setara dengan Greenland Proposional (14x Greenland)
Greenland 2.166.000 Sangat Besar (Distorsi Kutub) Sesuai Ukuran Asli
Amerika Selatan 17.840.000 Tampak seukuran Eropa Barat Hampir 2x Luas Eropa
Benua Eropa 10.180.000 Diberi Bobot Visual Dominan Sesuai Proporsi Sebenarnya

Kronologi Perjuangan Resolusi "Correct the Map"

Perubahan ini tidak terjadi dalam semalam. Diplomasi kebudayaan dan sains yang dilancarkan oleh Uni Afrika membutuhkan proses panjang hingga akhirnya diterima oleh konsensus global di sidang PBB:

  1. Tahun 1569: Gerardus Mercator menciptakan proyeksi silinder untuk membantu navigator kapal Eropa berlayar dengan garis lurus (rhumb line), tanpa memperhitungkan kelengkungan bumi secara adil terhadap luas daratan.
  2. Tahun 2018: Kartografer Bojan Šavrič, Tom Patterson, dan Bernhard Jenny merilis proyeksi Equal Earth, sebuah alternatif modern yang mempertahankan keakuratan luas wilayah sekaligus menjaga estetika visual peta dunia.
  3. Tahun 2023: Uni Afrika secara resmi mengadopsi kampanye "Correct the Map" sebagai agenda diplomasi kebudayaan utama untuk mengikis bias kolonialisme dalam pendidikan global.
  4. Tahun 2026: Majelis Umum PBB secara resmi memutus resolusi pengadopsian peta Equal Earth untuk seluruh badan, dokumen, dan kurikulum pendidikan di bawah naungan PBB.

Dekolonisasi Pengetahuan di Ruang Publik Global

Keputusan PBB ini diperkirakan akan memicu efek domino pada sistem pendidikan nasional di berbagai negara anggota. Penggunaan peta yang akurat di sekolah-sekolah dinilai penting untuk membangun kesadaran kolektif generasi muda mengenai bobot riil suatu negara dalam demografi dan sumber daya alam global.

Dengan disahkannya resolusi ini, seluruh lembaga di bawah PBB seperti UNESCO dan UNICEF diwajibkan memperbarui seluruh materi visual mereka. Langkah ini dinilai bukan sekadar koreksi teknis kartografi, melainkan kemenangan besar dalam upaya dekolonisasi ilmu pengetahuan dunia.

Dominasi visual peta ciptaan Gerardus Mercator selama 500 tahun resmi berakhir di PBB. Majelis Umum menyetujui pengadopsian proyeksi "Equal Earth" yang menampilkan luas daratan dunia secara nyata dan adil. Mengapa perubahan ini sangat krusial bagi peta geopolitik dunia? Baca analisis lengkapnya hanya di Lurusin.com.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS hafiz-rahman

Data Journalist. Mengungkap fakta melalui data. Spesialisasi: analisis forensik digital.

Comments (0)

User