Lurusin.com, Paris — Pengadilan Prancis kembali menggelar sidang lanjutan terkait kasus penembakan brutal yang menewaskan mantan pemain tim nasional rugbi Argentina (Los Pumas), Federico Martín Aramburú. Sidang yang kini memasuki agenda pemeriksaan saksi dan bukti mempertegas dugaan bahwa aksi pembunuhan berdarah dingin di pusat kota Paris pada Maret 2022 tersebut bukanlah sebuah ketidaksengajaan atau pembelaan diri belaka.
Fokus utama majelis hakim tertuju pada latar belakang dua terdakwa utama, yakni Loïk Le Priol dan Romain Bouvier. Berdasarkan laporan investigasi serta kutipan dari media terkemuka Prancis L’Equipe, kedua tersangka diketahui memiliki keahlian dan riwayat panjang dalam penggunaan senjata api. Hal ini sekaligus mematahkan alibi tim pembela yang mencoba mengklaim insiden itu sebagai "kesalahan amatir" atau kepanikan sesaat.
Jejak Kekerasan dan Ekstremisme Sayap Kanan
Hasil penelusuran rekam jejak kriminal para terdakwa mengungkap keterlibatan mendalam mereka dalam gerakan ekstremis. Keduanya merupakan mantan anggota kelompok sayap kanan radikal Groupe Union Défense (GUD). Kelompok tersebut dikenal kerap menggunakan aksi kekerasan jalanan dan intimidasi politik di Prancis.
Berikut adalah catatan rekam jejak terdakwa yang diungkap dalam persidangan:
- Keahlian Taktis: Baik Le Priol maupun Bouvier terlatih secara intensif dalam menangani senjata api berkaliber tinggi.
- Vonis Pidana Masa Lalu: Keduanya pernah dijatuhi hukuman pengadilan atas keterlibatan dalam kasus penyiksaan brutal terhadap mantan presiden organisasi mereka sendiri pada tahun 2015.
- Ketiadaan Perlawanan Korban: Bukti forensik dan rekaman video menunjukkan bahwa saat kejadian, Federico Martín Aramburú berada dalam kondisi sama sekali tanpa senjata dan tidak membawa benda apa pun yang bisa digunakan untuk bertahan hidup.
Kronologi Malam Penembakan di Boulevard Saint-Germain
Dalam persidangan ke-4, jaksa penuntut memaparkan visualisasi detik-detik sebelum dan sesudah penembakan melalui rekaman kamera pengawas (CCTV) di sekitar lokasi:
- Pertikaian di Bar: Dimulai dari perselisihan verbal antara kelompok terdakwa dan Aramburú bersama rekannya di teras bar Mabillon, Boulevard Saint-Germain.
- Intervensi Petugas: Penjaga keamanan setempat sempat melerai perselisihan tersebut dan meminta kedua kelompok untuk bubar dari area bar.
- Pengejaran Berencana: Alih-alih meninggalkan lokasi, Le Priol dan Bouvier diduga mengambil senjata api lalu melacak pergerakan Aramburú yang sedang berjalan kaki.
- Eksekusi Mematikan: Para terdakwa melepaskan sejumlah tembakan terarah dari jarak dekat yang langsung merenggut nyawa pria berusia 42 tahun tersebut di tempat.
"Fakta bahwa para terdakwa memiliki pengalaman matang dengan senjata api menegaskan bahwa aksi penembakan ini dilakukan dengan kesadaran penuh tanpa justifikasi pembelaan diri," tegas pihak penuntut di hadapan majelis hakim.
Keluarga korban, termasuk janda Aramburú yang hadir mendampingi jalannya sidang, terus menuntut keadilan maksimal atas tindakan kekerasan berencana yang telah menghilangkan nyawa sang atlet legendaris.
Comments (0)