Sep 13, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

Sains

NEW YORK — Fotografer 9/11 Kenang Detik Mencekam Menembus Bahaya Teror

Dua puluh lima tahun setelah peristiwa yang mengubah lanskap geopolitik dunia selamanya, memori pagi kelabu 11 September 2001 masih membekas tajam dalam in

NEW YORK — Fotografer 9/11 Kenang Detik Mencekam Menembus Bahaya Teror

Dua puluh lima tahun setelah peristiwa yang mengubah lanskap geopolitik dunia selamanya, memori pagi kelabu 11 September 2001 masih membekas tajam dalam ingatan para pewarta foto yang bertugas saat itu. Ketika ribuan warga New York berlari menyelamatkan diri menjauhi kobaran api di menara World Trade Center, para jurnalis foto justru memacu langkah ke arah sebaliknya. Naluri profesi mendorong mereka mendekati pusat bahaya demi merekam detik-detik kehancuran yang kini tercatat dalam lembaran sejarah modern.

Pewarta foto Spencer Platt dan rekannya sesama fotografer Getty Images, Mario Tama, membagikan kesaksian investigatif mengenai atmosfer mencekam di garis depan Ground Zero. Bagi mereka, lensa kamera bukan sekadar alat dokumentasi, melainkan instrumen saksi bisu atas kepanikan massal, tragedi kemanusiaan, dan runtuhnya simbol kekuatan ekonomi Amerika Serikat.

Naluri Visual di Tengah Disonansi Kognitif

Kala serangan teror terjadi, Mario Tama baru bekerja sekitar dua bulan di Getty Images. Panggilan darurat dari redaktur penugasan langsung memaksanya keluar dari apartemennya di kawasan Lower East Side dengan membawa perlengkapan kamera. Berjalan kaki menuju lokasi, pemandangan ganjil dan mengerikan langsung menyambut indra penglihatannya.

"Terjadi disonansi kognitif yang nyata—semuanya benar-benar di luar nalar. Saat saya mendekat dengan berjalan kaki, saya berpapasan dengan seorang pekerja kantor yang sedang dirawat di tanah dalam kondisi linglung dan berlumuran darah. Melihat darah mengalir dari telinganya membuat dampak korban manusia dari apa yang sedang terjadi terasa begitu nyata dan menakutkan," kenang Tama.

Bagi Spencer Platt, situasi tersebut memicu kesadaran historis yang luar biasa di balik lensa. "Ini adalah sejarah, ini adalah sejarah," bisik Platt dalam benaknya saat membidik rentetan frame visual di tengah kepulan asap hitam yang membubung ke langit Manhattan.

Barikade Penyelamat Nyawa dan Runtuhnya Menara

Insting jurnalisme foto menuntut kedekatan maksimal dengan objek berita. Tama bersama sejumlah fotografer lain berupaya merangsek sedekat mungkin ke dasar menara kembar. Namun, tindakan tegas petugas Kepolisian Kota New York (NYPD) menjadi faktor krusial yang menyelamatkan nyawa mereka dari maut.

"NYPD kemungkinan besar menyelamatkan banyak nyawa hari itu, termasuk nyawa saya sendiri, dengan memblokade kami agar tidak mendekat ke area dasar menara," ungkap Tama.

Penahanan posisi oleh barikade polisi terjadi hanya beberapa saat sebelum Menara Selatan runtuh total. Tama menyaksikan langsung momen struktural ketika gedung pencakar langit itu menyerah pada gravitasi.

"Saya mendengar semacam suara robekan logam yang keras, lalu mendongak. Sungguh mengerikan, saya ingat menara itu sempat miring sedikit lalu mulai runtuh bertingkat ke bawah. Pada momen itu, saya berubah dari seorang jurnalis foto menjadi warga New York biasa yang berlari demi menyelamatkan nyawa sendiri," tambahnya.

Bertahan Hidup dalam Gelap Total

Saat menara runtuh, awan debu pekat, puing, dan material asbes menyelimuti Lower Manhattan dalam kondisi gelap gulita total. Tama bersama sejumlah orang asing terpaksa berlindung di samping area parkir bertingkat, saling berpegangan tangan di tengah pekatnya debu reruntuhan sebelum akhirnya ia kembali mendokumentasikan wajah-wajah korban yang selamat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS oky-pratista

Reporter Hukum. Fokus pada mafia peradilan, judicial corruption, dan reformasi hukum.

Comments (0)

User