Aug 26, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

factcheck

Muktamar NU di Jombang Momentum Uji Gagasan Calon Ketua Umum

Menjelang penyelenggaraan Muktamar Nahdlatul Ulama di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, perhatian warga nahdliyin tertuju pada deretan kandidat yang akan bertarung memperebutkan kursi Ketua Umum Pengurus...

Muktamar NU di Jombang Momentum Uji Gagasan Calon Ketua Umum

Menjelang penyelenggaraan Muktamar Nahdlatul Ulama di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, perhatian warga nahdliyin tertuju pada deretan kandidat yang akan bertarung memperebutkan kursi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Ajang tertinggi organisasi itu kali ini dinilai mengemban tanggung jawab sejarah yang besar. Pasalnya, para calon tidak cukup bermodal popularitas atau dukungan politik semata, melainkan dituntut membawa kerangka pikir yang utuh untuk menjawab berbagai persoalan yang tengah berkembang di tubuh organisasi.

Jombang sendiri memiliki makna simbolis dalam perjalanan NU. Daerah yang dikenal sebagai tempat lahir sejumlah tokoh besar organisasi ini kerap disebut sebagai salah satu titik penting sejarah kebangkitan jam'iyah. Penyelenggaraan muktamar di kota tersebut pun dinilai membawa pesan tersendiri, yakni ajakan untuk merenungkan kembali akar perjuangan organisasi sebelum melangkah ke masa depan yang semakin kompleks.

Dinamika Internal yang Menuntut Arah Baru

Dalam beberapa tahun terakhir, NU dihadapkan pada berbagai perubahan yang berlangsung cepat. Mulai dari pergeseran gaya kepemimpinan, meluasnya keterlibatan kader dalam politik praktis, hingga tantangan organisasi dalam mempertahankan independensinya di tengah arus kepentingan. Kondisi ini membuat muktamar tidak lagi sekadar rutinitas pergantian pengurus, melainkan menjadi panggung penentu arah perjalanan organisasi untuk lima tahun ke depan.

Para kandidat ketua umum pun dihadapkan pada pekerjaan rumah yang tidak ringan. Mereka dituntut mampu memetakan persoalan secara jujur dan menawarkan solusi yang realistis, bukan janji yang bersifat retorik. Gagasan yang diajukan harus lahir dari pemahaman mendalam terhadap realitas di lapangan, termasuk bagaimana NU menjaga perannya sebagai jam'iyah yang melayani umat sekaligus hadir di ruang-ruang kebangsaan. Tanpa pemetaan yang akurat, program yang ditawarkan hanya akan menjadi daftar keinginan tanpa arah implementasi yang jelas.

Reorganisasi dan Kembali ke Khittah

Salah satu isu yang mengemuka dalam diskursus menjelang muktamar adalah kebutuhan reorganisasi di tubuh PBNU. Struktur organisasi yang berjalan selama ini dinilai sebagian kalangan perlu ditata ulang agar lebih efektif dan tidak tumpang tindih. Reorganisasi dimaknai bukan sekadar merombak susunan pengurus, tetapi juga menghidupkan kembali fungsi-fungsi organisasi yang selama ini berjalan setengah hati, termasuk dalam hal kaderisasi, penguatan lembaga pendidikan, dan pelayanan sosial kepada masyarakat.

Wacana kembalinya NU ke khittah 1926 turut menjadi sorotan. Khittah dimaknai sebagai komitmen organisasi untuk kembali pada garis perjuangan awal, yakni menjaga kemaslahatan umat dan memperjuangkan nilai-nilai keislaman yang moderat tanpa terseret menjadi alat kepentingan kelompok tertentu. Dalam konteks ini, calon ketua umum dituntut memiliki keberanian menegaskan sikap organisasi, termasuk menjaga jarak yang sehat dari kekuasaan. Pertanyaannya kemudian, sejauh mana para kandidat berani mengambil posisi tegas atas persoalan tersebut. Sebab, kembali ke khittah bukanlah slogan yang mudah diwujudkan. Ia menuntut konsistensi dalam pengambilan keputusan, ketegasan dalam mengelola perbedaan, serta kesediaan menempatkan kepentingan jamaah di atas kepentingan sesaat.

Gagasan sebagai Modal Utama

Ukuran kelayakan seorang calon ketua umum tidak lagi ditentukan semata oleh besarnya dukungan politik yang mengiringi pencalonannya. Ukuran utamanya adalah kedalaman gagasan yang dibawa. Sebab, tanpa gagasan, seorang pemimpin hanya akan berjalan mengikuti arus, dan organisasi berisiko kehilangan arah ketika menghadapi gelombang perubahan zaman. Karena itu, ruang dialog dan uji publik terhadap visi para calon menjadi penting untuk digelar sebelum pemilihan berlangsung.

Muktamar seyogianya tidak berhenti pada hitung-hitungan suara, tetapi menjadi forum tempat visi diuji, program diperdebatkan, dan komitmen dibuktikan. Para pemilih dalam muktamar, yakni para kiai dan pengurus yang memiliki hak suara, diharapkan menjatuhkan pilihan berdasarkan rekam jejak dan gagasan, bukan atas dasar pertemanan atau imbalan. Keputusan yang lahir dari pertimbangan yang matang akan menentukan kualitas kepemimpinan yang terbentuk.

Harapan Warga Nahdliyin

Di tengah segala dinamika itu, warga nahdliyin di akar rumput menaruh harapan besar pada muktamar di Jombang. Mereka berharap lahir kepemimpinan yang mampu menjaga marwah organisasi, mengayomi semua kelompok, dan tetap berpijak pada tradisi yang menjadi jati diri NU. Harapan itu sederhana, tetapi menuntut tanggung jawab besar dari para calon dan seluruh peserta muktamar.

Muktamar kali ini karenanya menjadi momentum untuk menegaskan kembali peran NU sebagai organisasi yang mandiri, dinamis, dan relevan. Keputusan yang diambil dalam forum tertinggi organisasi tersebut akan menentukan wajah NU di masa depan, sekaligus menjadi jawaban atas pertanyaan besar tentang bagaimana organisasi bertahan di tengah perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS ramadiansyah

Editor Investigasi. Pemenang penghargaan jurnalisme investigasi. Spesialisasi: korupsi, kolusi, dan maladministrasi.

Comments (0)

User