Muhammad Senanatha Nahkodai Bidang Kemahasiswaan PB SEMMI
Estafet Kepemimpinan dan Fokus StrategisPengurus Besar Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (PB SEMMI) menetapkan Muhammad Senanatha sebagai pemegang kendali Bidang Kemahasiswaan dan Kepemudaan. Penem...
Estafet Kepemimpinan dan Fokus Strategis
Pengurus Besar Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (PB SEMMI) menetapkan Muhammad Senanatha sebagai pemegang kendali Bidang Kemahasiswaan dan Kepemudaan. Penempatan ini bukan sekadar rotasi struktur, melainkan pernyataan sikap bahwa organisasi ingin memperkuat mesin penggerak di lini paling dasar: kampus dan komunitas muda. Dalam pernyataan perdananya, Senanatha menegaskan bahwa agenda utama bidangnya adalah mengubah paradigma mahasiswa Muslim dari sekadar pencari ijazah menjadi aktor perubahan sosial yang berakar pada nilai keislaman dan keindonesiaan.
Langkah ini mendapat sorotan karena SEMMI secara historis merupakan salah satu organisasi mahasiswa Islam tertua yang konsisten menyuarakan moderasi beragama dan kebangsaan. Dengan dinamika generasi muda yang kian kompleks, Senanatha dihadapkan pada ekspektasi besar untuk meramu program yang relevan bagi mahasiswa era digital tanpa kehilangan roh gerakan.
Peta Jalan Bidang: Digitalisasi, Inkubasi, Advokasi
Berdasarkan verifikasi terhadap dokumen rencana strategis yang beredar di kalangan internal, Bidang Kemahasiswaan dan Kepemudaan PB SEMMI akan bertumpu pada tiga pilar. Pertama, digitalisasi pembinaan kader melalui platform belajar jarak jauh yang memadukan materi keislaman, kepemimpinan, dan literasi digital. Senanatha menyebut bahwa banyak mahasiswa Muslim yang aktif di media sosial namun minim pemahaman tentang etika bermedia dan keamanan digital, sehingga platform ini dirancang untuk menutup celah tersebut.
Kedua, inkubasi inovasi sosial mahasiswa. Bidang ini akan membuka ruang bagi kelompok mahasiswa di berbagai daerah untuk mengajukan proposal program pemberdayaan masyarakat berbasis masjid atau komunitas. Proposal terpilih akan menerima pendampingan dan dana stimulus yang dihimpun melalui kemitraan dengan lembaga zakat, wakaf, serta CSR. Senanatha menekankan bahwa pendekatan ini bukan hanya melatih kepekaan sosial, melainkan juga membangun kemandirian ekonomi mahasiswa sejak dini.
Ketiga, advokasi kebijakan kampus dan negara yang berdampak pada mahasiswa. Isu kenaikan Uang Kuliah Tunggal (UKT), akses beasiswa, hingga perlindungan bagi mahasiswa yang menjadi korban kekerasan di lingkungan pendidikan menjadi perhatian serius. Bidang ini berencana membentuk posko pengaduan yang terhubung dengan jaringan LBH dan lembaga bantuan hukum kampus.
Tantangan Radikalisme dan Gen Z yang Apolitis
Dalam diskusi terbatas yang disampaikan melalui konferensi daring beberapa waktu lalu, Senanatha mengurai dua tantangan besar yang dihadapi mahasiswa Muslim Indonesia. Pertama, godaan radikalisme yang menyasar mahasiswa melalui jalur keagamaan yang sempit. Ia menyatakan bahwa pencegahan tidak bisa hanya dengan melarang, tetapi harus dengan menyediakan alternatif narasi Islam yang cerdas, terbuka, dan membumi. Bidangnya akan menggiatkan halaqah kritis dan program tadabur sosial yang mengaitkan teks suci dengan kenyataan empiris kemasyarakatan.
Kedua, fenomena Gen Z yang cenderung apolitis dan mengekspresikan kepedulian hanya lewat petisi daring atau unggahan sesaat. Menurut Senanatha, hal ini tidak cukup untuk mendorong perubahan sistemik. Maka, SEMMI harus hadir sebagai ruang belajar politik kebangsaan yang menggembirakan—bukan sekadar aksi jalanan, tetapi juga melalui riset, debat kebijakan, dan kolaborasi dengan elemen sipil lain.
Faktanya, data dari sejumlah survei nasional menunjukkan bahwa minat mahasiswa terhadap organisasi kemahasiswaan menurun dalam satu dekade terakhir. Namun, Senanatha optimistis bahwa jika organisasi mampu menawarkan ruang aktualisasi yang nyata dan berdampak—seperti program inkubasi yang sudah disiapkan—maka mahasiswa akan kembali tertarik bergabung dan berkontribusi.
Sinergi dengan Pemerintah dan Dunia Industri
Bidang yang dipimpin Muhammad Senanatha juga tak ingin berjalan sendirian. Ia menyampaikan akan menjalin komunikasi intensif dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, serta Badan Nasional Penanggulangan Terorisme untuk program deradikalisasi dan peningkatan kompetensi pemuda. Selain itu, kerja sama dengan dunia industri dan startup juga akan dibuka agar program magang dan sertifikasi kompetensi bisa diakses oleh anggota SEMMI di seluruh Indonesia.
"Kita ingin mencetak alumni yang tidak hanya saleh secara ritual, tetapi juga unggul secara profesional dan peka terhadap ketimpangan sosial," ujar Senanatha dalam sebuah paparan di forum internal. Ia menambahkan, mahasiswa Muslim harus mampu menjadi jembatan antara masjid dan pasar, antara pesantren dan perusahaan teknologi.
Target dan Akuntabilitas
Untuk memastikan seluruh program tidak berhenti di atas kertas, Bidang Kemahasiswaan dan Kepemudaan PB SEMMI akan menerapkan sistem laporan berkala secara terbuka. Senanatha menegaskan bahwa transparansi adalah bagian dari akhlak organisasi. Setiap tiga bulan akan dirilis laporan singkat mengenai capaian program, jumlah mahasiswa yang terlibat, serta dana yang dikelola. Ini sekaligus menjadi alat kontrol publik agar kepercayaan tetap terjaga.
Langkah-langkah yang dirancang Muhammad Senanatha memang ambisius, namun ia meyakini bahwa dengan jaringan SEMMI yang tersebar di puluhan provinsi, serta semangat kolaborasi yang sudah menjadi DNA organisasi, target-target tersebut dapat dicapai secara bertahap. Kini, publik menanti bukti nyata dari estafet kepemimpinan yang baru berjalan ini.
Baca juga:
Comments (0)