Sep 10, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

Cek Fakta

MAROS — Kebakaran Gunung Bulu Saukang Sempat Jebak 68 Pendaki

Malam yang tenang di kawasan Pegunungan Karst Maros mendadak berubah menjadi kepanikan massal pada Minggu (6/9/2026). Kebakaran lahan hebat melanda lereng

MAROS — Kebakaran Gunung Bulu Saukang Sempat Jebak 68 Pendaki

Malam yang tenang di kawasan Pegunungan Karst Maros mendadak berubah menjadi kepanikan massal pada Minggu (6/9/2026). Kebakaran lahan hebat melanda lereng Gunung Bulu Saukang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, memicu kepungan kobaran api yang membakar vegetasi kering di sepanjang jalur pendakian. Berdasarkan data lapangan, sebanyak 337 pendaki tercatat sedang melakukan aktivitas kamping di area tersebut saat peristiwa terjadi. Tragisnya, 68 pendaki di antaranya sempat terjebak di zona bahaya setelah api memutus akses utama untuk turun.

Kepulan asap hitam pekat yang membumbung tinggi di tengah kegelapan malam memperburuk jarak pandang para pendaki. Kobaran api menjalar dengan sangat cepat, didorong oleh hembusan angin kencang serta kondisi vegetasi yang sangat mudah terbakar akibat musim kemarau. Kepanikan tak terhindarkan ketika rombongan pendaki yang berada di tingkatan atas menyadari bahwa jalur kepulangan mereka telah tertutup oleh benteng api yang terus membesar.

Malam Mencekam di Jalur Pendakian

Pengalaman traumatis dirasakan oleh puluhan pendaki yang tertahan di kawasan lereng atas. Akses penyelamatan menjadi sangat terbatas lantaran titik api memblokir koridor utama evakuasi. Beberapa pendaki berusaha mencari perlindungan di area berbatu yang minim vegetasi demi menghindari jilatan api dan paparan asap beracun yang mengancam saluran pernapasan mereka.

"Asap sangat pekat dan angin kencang membuat kobaran api cepat membesar menutupi jalur utama. Kami menginstruksikan para pendaki untuk tetap berada di titik aman dan tidak memaksakan diri menerobos api sembari tim evakuasi menyisir jalur alternatif," ungkap salah seorang petugas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Maros.

Respons cepat langsung dikerahkan oleh pihak berwenang begitu laporan darurat masuk. Sebanyak 21 personel Damkarmat Kabupaten Maros diterjunkan ke lokasi untuk melakukan upaya penyelamatan darurat sekaligus menaklukkan titik-titik api yang kian meluas. Namun, operasi penyelamatan malam itu tidak berjalan mudah akibat rintangan geografis yang ekstrem.

Medan Terjal dan Pemadaman Manual

Kendala utama yang dihadapi petugas di lapangan adalah kondisi topografi Gunung Bulu Saukang yang sangat terjal dan curam. Kendaraan armada pemadam kebakaran berkapasitas besar tertahan sepenuhnya di kaki bukit karena ketiadaan akses jalan roda empat menuju lereng gunung. Kondisi ini memaksa tim penyelamat memutar otak dan mengubah taktik secara drastis di lapangan.

  • Akses Kendaraan Terputus: Seluruh armada mobil pemadam kebakaran tertahan di area kaki bukit karena medan yang menyempit dan berbatu.
  • Pemadaman Manual: Petugas terpaksa mendaki medan terjal sambil menggendong pompa punggung (backpack pump) bermuatan air puluhan liter.
  • Alat Seadanya: Pemadaman lanjutan dilakukan secara fisik dengan alat pemukul api manual (gepyok) untuk memutus lidah api di semak belukar.
  • Ancaman Angin Kencang: Arah angin yang kerap berubah-ubah sewaktu-waktu berisiko melingkari dan menjebak posisi personel pemadam di lapangan.

Dengan perjuangan fisik yang luar biasa, para personel merayap naik menembus kegelapan dan kepulan asap. Penggunaan pompa punggung menjadi satu-satunya tumpuan untuk memadamkan kobaran api secara presisi di titik-titik sensitif yang mendekati posisi para pendaki. Perjuangan tanpa henti selama berjam-jam tersebut akhirnya membuahkan hasil ketika tim berhasil membuka celah evakuasi aman.

Investigasi Penyebab dan Evaluasi Prosedur

Tim investigasi kini menyoroti perlunya evaluasi mendalam terkait pemicu utama kebakaran di Gunung Bulu Saukang ini. Meski cuaca kering meningkatkan kerentanan gesekan vegetasi, potensi faktor kelalaian manusia—seperti sisa api unggun yang belum padam sempurna atau buangan puntung rokok sembarangan—tetap menjadi fokus perhatian utama otoritas setempat.

Kejadian ini menggarisbawahi pentingnya pengetatan pengawasan di pintu masuk pendakian (basecamp), terutama mengenai edukasi mitigasi bencana bagi para pendaki. Seluruh 68 pendaki yang sempat terjebak akhirnya berhasil dievakuasi turun secara bertahap dalam kondisi selamat, meski beberapa di antaranya mengalami dehidrasi, syok emosional, dan iritasi pernapasan ringan. Pihak Damkarmat bersama relawan hingga kini masih terus melakukan penyisiran untuk memastikan tidak ada sisa bara api yang berpotensi memicu kebakaran susulan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS hafiz-rahman

Data Journalist. Mengungkap fakta melalui data. Spesialisasi: analisis forensik digital.

Comments (0)

User