Sep 09, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

Sains

Mali — Perempuan Mali Melawan Gelombang Dukungan Pemotongan Genital Wanita

BAMAKO — Di tengah pesatnya penetrasi media sosial di Afrika Barat, sebuah narasi lama yang membahayakan kembali mencuat ke permukaan dengan kemasan modern

Mali — Perempuan Mali Melawan Gelombang Dukungan Pemotongan Genital Wanita

BAMAKO — Di tengah pesatnya penetrasi media sosial di Afrika Barat, sebuah narasi lama yang membahayakan kembali mencuat ke permukaan dengan kemasan modern. Kampanye digital terkini di Mali secara agresif membela praktik pemotongan genital wanita (Female Genital Mutilation/FGM). Para penyokong gerakan ini membingkai tindakan kontroversial tersebut bukan lagi sekadar tradisi kuno, melainkan sebagai bentuk "perlindungan moral" dan cara menjaga kesucian anak perempuan. Namun, kebangkitan kembali norma patriarki ekstrem ini memicu perlawanan sengit dari kaum perempuan dan aktivis hak asasi manusia setempat.

Investigasi terhadap dinamika media sosial di negara tersebut menunjukkan adanya lonjakan konten terstruktur yang memengaruhi opini publik. Konten-konten ini mengklaim bahwa menghentikan FGM adalah bentuk ketundukan pada pengaruh budaya Barat yang dianggap merusak moralitas lokal. Dengan memanfaatkan narasi perlindungan dan keagamaan, para pendukung berusaha meyakinkan para orang tua agar tetap menjalankan prosedur ini pada anak perempuan mereka.

Kondisi ini makin diperkeruh oleh status hukum di negara tersebut. Praktik FGM di Mali masih sangat masif karena tidak adanya undang-undang nasional yang secara eksplisit melarang atau mempidanakan pemotongan genital wanita. Hal ini menempatkan Mali sebagai salah satu dari sedikit negara di Afrika Barat di mana FGM tetap legal dan dipraktikkan secara terbuka di tengah masyarakat.

"Ada penyesatan opini yang sangat berbahaya di media sosial saat ini. Mereka menjual narasi seolah-olah menghentikan khitan perempuan sama saja dengan merusak nilai budaya dan moral keluarga. Ini adalah manipulasi yang mengancam keselamatan serta nyawa anak-anak perempuan kami," tegas Aminata Traore, seorang aktivis hak perempuan berbasis di Bamako.

Jurang Hukum dan Realita Medis yang Mematikan

Meskipun organisasi kesehatan global dan PBB telah berulang kali mengecam FGM sebagai pelanggaran berat terhadap hak asasi manusia, celah hukum di Mali terus dimanfaatkan oleh kelompok konservatif. Data lembaga kesehatan mencatat bahwa mayoritas anak perempuan di Mali telah mengalami pemotongan genital sebelum mencapai usia remaja, sebuah tindakan tanpa indikasi medis yang membawa trauma fisik dan psikologis jangka panjang.

Para pakar medis menegaskan bahwa FGM sama sekali tidak memberikan manfaat kesehatan. Sebaliknya, prosedur ini menimbulkan ancaman keselamatan yang sangat tinggi, antara lain:

  • Pendarahan hebat dan infeksi sistemik: Prosedur sering kali dilakukan oleh juru sunat tradisional tanpa alat steril dan tanpa pembius.
  • Komplikasi persalinan ekstrem: Kerusakan jaringan vagina meningkatkan risiko robekan parah, komplikasi saat melahirkan, hingga kematian ibu dan bayi baru lahir.
  • Trauma psikologis seumur hidup: Dampak berupa kecemasan berat, depresi, serta rasa sakit kronis saat melakukan hubungan seksual di kemudian hari.

Perlawanan di Garis Depan Digital dan Komunitas

Menghadapi gelombang propaganda baru ini, kelompok perempuan Mali tidak tinggal diam. Mereka melancarkan re-kampanye dengan memobilisasi tenaga medis, hukum, serta tokoh agama moderat untuk mengedukasi masyarakat secara langsung. Fokus utama mereka adalah mematahkan mitos bahwa FGM diwajibkan oleh ajaran agama atau efektif menjaga moralitas anak.

Perjuangan ini dipenuhi risiko tinggi. Para perempuan yang bersuara nyaring menolak FGM sering kali menjadi sasaran perundungan siber (cyberbullying), pengucilan sosial, hingga ancaman keamanan dari kelompok tradisionalis. Kendati demikian, gerakan akar rumput ini terus mendesak parlemen Mali untuk segera mengesahkan undang-undang pidana yang melarang total praktik tersebut.

"Kami tidak akan mundur selangkah pun. Budaya seharusnya melindungi anak-anak, bukan melukai fisik mereka. Memotong organ tubuh anak perempuan atas nama kehormatan adalah bentuk kekerasan berbasis gender yang nyata dan harus segera dihentikan," pungkas Traore.

Pertarungan narasi di Mali kini memuncak antara dominasi konservatisme tradisional dan semangat penegakan hak asasi manusia. Keberanian kaum perempuan Mali dalam melawan balik arus propaganda digital ini menjadi pilar utama untuk menyelamatkan generasi masa depan dari praktik pemotongan genital yang mematikan.

Praktik FGM yang masih legal di Mali kini mendapat amunisi baru lewat propaganda media sosial. Tak tinggal diam, para aktivis perempuan pasang badan mendesak pelarangan hukum dan menghentikan bahaya medis pada anak-anak. Baca investigasi selengkapnya di Lurusin.com!

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS hafiz-rahman

Data Journalist. Mengungkap fakta melalui data. Spesialisasi: analisis forensik digital.

Comments (0)

User