Tekanan diplomatik internasional kini beralih ke pundak Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa menjelang perhelatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS. Sejumlah diplomat barat bersama Duta Besar Ukraina di Pretoria secara terbuka mendesak Ramaphosa agar memanfaatkan hubungan bilateralnya guna menekan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk segera mengakhiri agresi militer di Ukraina.
Harapan ini mencuat setelah kepemimpinan global menyaksikan bagaimana Perdana Menteri India Narendra Modi sebelumnya secara berani menegur Putin secara langsung di hadapan publik internasional dengan menyatakan bahwa "era saat ini bukanlah era peperangan". Langkah Modi tersebut kini dipandang sebagai preseden nyata bagi anggota blok ekonomi berkembang lainnya untuk mengambil posisi moral yang lebih tegas.
Kronologi Manuver Diplomatik dan Eskalasi Tekanan
Pemerintah Afrika Selatan telah lama berada dalam posisi canggung di panggung geopolitik global sejak invasi skala penuh Rusia meletus pada Februari 2022. Rangkaian dinamika yang melatarbelakangi desakan ini mencakup:
- Sikap Non-Blok Pretoria: Afrika Selatan berulang kali memilih abstain dalam berbagai pemungutan suara resolusi Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mengecam agresi Kremlin.
- Kritik Tajam Komunitas Diplomatik: Duta Besar Ukraina untuk Afrika Selatan, Liubov Abravitova, secara berkala menyampaikan keprihatinan atas hubungan mesra Pretoria-Moskow di tengah penderitaan jutaan warga sipil Ukraina.
- Peluang Pertemuan Bilateral: Agenda pertemuan puncak BRICS membuka ruang negosiasi tertutup yang dinilai paling krusial bagi Ramaphosa untuk menunjukkan taji diplomasinya.
"Dunia menunggu apakah Afrika Selatan akan tetap berlindung di balik retorika netralitas atau berani menggunakan pengaruh historisnya untuk mendorong gencatan senjata permanen," ungkap seorang diplomat senior di Pretoria.
Menakar Dilema Geopolitik Afrika Selatan
Bagi Ramaphosa, mengambil langkah agresif terhadap Putin bukan tanpa risiko. Hubungan historis antara partai berkuasa African National Congress (ANC) dan Uni Soviet telah terjalin puluhan tahun sejak masa perjuangan melawan rezim Apartheid. Hubungan emosional dan strategis ini membuat Pretoria kerap dipandang condong ke Moskow meskipun secara formal mendeklarasikan status non-blok.
Di sisi lain, ketergantungan ekonomi Afrika Selatan terhadap pasar Barat—khususnya Amerika Serikat dan Uni Eropa—jauh lebih besar dibandingkan nilai perdagangannya dengan Rusia. Ketidaktegasan Ramaphosa dinilai dapat mengancam preferensi dagang penting seperti AGOA (African Growth and Opportunity Act) yang menopang ribuan lapangan kerja di sektor manufaktur dan pertanian Afrika Selatan.
- Nilai Perdagangan: Pasar ekspor Afrika Selatan ke AS dan Eropa mencapai puluhan miliar dolar per tahun, jauh melampaui neraca dagang dengan Rusia.
- Dampak Kemanusiaan Global: Terganggunya pasokan gandum dan pupuk dari Laut Hitam telah memicu lonjakan inflasi pangan di berbagai negara kawasan Afrika.
- Tuntutan Perdamaian: Ramaphosa sebelumnya sempat memimpin delegasi pemimpin Afrika ke Kyiv dan Moskow, namun inisiatif tersebut dinilai belum menghasilkan komitmen gencatan senjata yang konkret.
Investigasi diplomatik menunjukkan bahwa ruang gerak Ramaphosa kian sempit. Publik internasional kini menanti apakah sang presiden akan mengambil momentum KTT ini untuk meniru keberanian Modi atau justru kembali mempertahankan diplomasi pasif yang kian menuai kritik.
Comments (0)