Aug 25, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

factcheck

Khutbah Jumat Safar Sunda Bahas Makna Spiritual Rebo Wekasan

Memasuki bulan Safar dalam kalender Hijriah, sejumlah masjid di wilayah Jawa Barat dan komunitas Sunda lainnya mulai mengangkat tema-tema khutbah yang berkaitan dengan tradisi keagamaan lokal. Salah s...

Khutbah Jumat Safar Sunda Bahas Makna Spiritual Rebo Wekasan

Memasuki bulan Safar dalam kalender Hijriah, sejumlah masjid di wilayah Jawa Barat dan komunitas Sunda lainnya mulai mengangkat tema-tema khutbah yang berkaitan dengan tradisi keagamaan lokal. Salah satu topik yang kerap mengemuka adalah tentang Rebo Wekasan, sebuah peringatan yang jatuh pada hari Rabu terakhir di bulan Safar. Para khatib menyampaikan khutbah Jumat dalam bahasa Sunda untuk mengupas hikmah di balik tradisi ini serta meluruskan pemahaman masyarakat agar tetap sesuai dengan tuntunan syariat Islam.

Akar Historis dan Spiritual Rebo Wekasan

Rebo Wekasan bukanlah sekadar ritual warisan leluhur tanpa dasar. Dalam catatan sejumlah ulama klasik, bulan Safar dipandang sebagai salah satu bulan yang di dalamnya Allah menurunkan berbagai cobaan dan bala. Keyakinan ini bersumber dari keterangan bahwa dalam bulan tersebut terdapat 320.000 jenis bencana yang turun ke bumi, dan puncaknya terjadi pada hari Rabu terakhir. Para ulama terdahulu, termasuk di antaranya Syekh Ahmad bin Abdul Lathif al-Minangkabawi dan beberapa tokoh pesantren di tanah Jawa, menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak doa tolak bala serta melaksanakan shalat sunnah tertentu pada hari itu. Khutbah Jumat berbahasa Sunda yang mengangkat tema ini biasanya mengawali penjelasannya dengan merujuk pada pendapat para ulama muktabar tersebut, bukan sekadar mitos atau kepercayaan yang tidak berdasar.

Dalam penyampaiannya menggunakan bahasa Sunda, para khatib memiliki keleluasaan untuk menjelaskan secara lebih mendalam dan menyentuh hati jamaah. Penggunaan bahasa ibu ini memungkinkan pesan-pesan keagamaan tersampaikan dengan nuansa kultural yang kuat, sehingga jamaah tidak hanya memahami secara akal, tetapi juga secara rasa. Istilah-istilah seperti "tolak balai" (tolak bala), "nyalametkeun diri" (menyelamatkan diri), dan "ngajagi kaimanan" (menjaga keimanan) menjadi jembatan linguistik yang menghubungkan ajaran Islam dengan kearifan lokal Sunda.

Hikmah di Balik Tradisi yang Sarat Makna

Khutbah bertema Rebo Wekasan yang disampaikan dalam bahasa Sunda biasanya menekankan beberapa hikmah utama. Pertama, peringatan ini mengajarkan umat untuk senantiasa meningkatkan kewaspadaan spiritual terhadap segala bentuk musibah yang mungkin datang. Bukan berarti bulan Safar atau hari Rabu terakhirnya membawa sial secara dzatiyah, melainkan sebagai momentum untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Para khatib kerap mengutip ayat-ayat Al-Qur'an yang menegaskan bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini adalah atas kehendak-Nya dan tidak ada daya upaya kecuali dengan pertolongan-Nya.

Hikmah kedua adalah penguatan solidaritas sosial. Dalam tradisi Rebo Wekasan, masyarakat biasanya berkumpul untuk berdoa bersama, membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an, dan saling mendoakan keselamatan. Ini menjadi sarana perekat sosial yang efektif di tengah masyarakat Sunda yang dikenal dengan filosofi silih asah, silih asih, dan silih asuh. Jamaah yang mendengarkan khutbah dalam bahasa Sunda akan lebih mudah meresapi pesan kebersamaan ini karena disampaikan dalam bahasa yang akrab dengan keseharian mereka.

Ketiga, peringatan ini menjadi momentum introspeksi diri di penghujung bulan Safar. Para khatib mengajak jamaah untuk mengevaluasi amal ibadah selama bulan tersebut dan mempersiapkan diri menyambut bulan-bulan berikutnya dengan semangat yang lebih baik. Dalam bahasa Sunda yang halus dan penuh tata krama, pesan ini disampaikan dengan cara yang tidak menggurui melainkan merangkul.

Panduan Ibadah dan Doa di Hari Rebo Wekasan

Khutbah Jumat berbahasa Sunda dengan tema Rebo Wekasan juga umumnya dilengkapi dengan penjelasan tentang amalan-amalan yang dianjurkan pada hari tersebut. Di antaranya adalah melaksanakan shalat sunnah tolak bala sebanyak empat rakaat dengan dua kali salam. Setiap rakaat setelah membaca Al-Fatihah, dianjurkan membaca Surat Al-Kautsar sebanyak 17 kali, Surat Al-Ikhlas sebanyak 5 kali, dan Surat Al-Falaq serta An-Nas masing-masing satu kali. Amalan ini didasarkan pada ijazah dari para ulama yang sanadnya bersambung hingga ke generasi salaf.

Selain itu, para khatib juga membacakan doa-doa khusus yang biasa diamalkan pada Rebo Wekasan. Doa tersebut berisi permohonan perlindungan dari segala macam bencana, penyakit, dan malapetaka yang mungkin diturunkan di bulan Safar. Jamaah diajak untuk mengaminkan doa tersebut dengan penuh keyakinan. Penyampaian doa dalam bahasa Arab kemudian dijelaskan maknanya dalam bahasa Sunda agar jamaah dapat menghayati setiap bait permohonan yang dipanjatkan. Praktik ini menunjukkan bagaimana kearifan lokal dan ajaran Islam dapat berjalan beriringan tanpa saling menegasikan.

Tidak ketinggalan, khutbah ini juga menekankan pentingnya bersedekah pada hari Rebo Wekasan. Tradisi masyarakat Sunda yang menyebutnya sebagai "sidekah Rebo Wekasan" menjadi cerminan dari ajaran Islam tentang keutamaan sedekah dalam menolak bala. Para khatib biasanya menganjurkan jamaah untuk menyisihkan sebagian rezekinya dan memberikannya kepada fakir miskin, anak yatim, atau siapa pun yang membutuhkan. Dalam perspektif Islam, sedekah memiliki kekuatan untuk meredam murka Allah dan menjadi perisai dari berbagai musibah.

Menjaga Keseimbangan Antara Tradisi dan Tauhid

Aspek krusial yang selalu ditekankan dalam khutbah berbahasa Sunda tentang Rebo Wekasan adalah pemurnian akidah. Para khatib dengan tegas menjelaskan bahwa keyakinan terhadap kesialan bulan Safar atau hari Rabu terakhir tidak boleh mengarah pada kemusyrikan atau tathayyur (anggapan sial terhadap sesuatu). Islam mengajarkan bahwa semua hari dan bulan adalah baik, dan yang membedakan hanyalah amal ibadah yang dilakukan di dalamnya. Penjelasan ini disampaikan dengan bahasa Sunda yang lugas agar jamaah dari berbagai lapisan pendidikan dapat memahaminya dengan baik.

Para khatib juga mengutip hadits-hadits shahih yang membantah anggapan sial pada bulan Safar. Rasulullah SAW bersabda bahwa tidak ada penyakit menular dengan sendirinya tanpa kehendak Allah, tidak ada kesialan pada bulan Safar, dan tidak ada kesialan pada burung. Penjelasan ini menjadi koreksi terhadap kepercayaan masyarakat Arab Jahiliyah yang menganggap bulan Safar sebagai bulan sial. Dengan demikian, Rebo Wekasan dalam perspektif Islam yang benar adalah momentum ibadah, bukan pelestarian mitos.

Melalui penyampaian dalam bahasa Sunda yang santun dan penuh hikmah, khutbah Jumat di bulan Safar ini diharapkan dapat menjadi sarana edukasi keagamaan yang efektif. Tradisi dan ajaran Islam dipadukan secara proporsional sehingga masyarakat dapat menjalankan ibadah dengan pemahaman yang benar, tanpa harus meninggalkan kekayaan kultural yang dimiliki. Inilah sesungguhnya esensi dari peringatan Rebo Wekasan: bukan sekadar ritual tahunan, melainkan perjalanan spiritual yang memperkaya batin dan memperkuat ikatan sosial di tengah komunitas Muslim Sunda.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User