Pada hari Jumat, 24 Juli 2026, sejumlah masjid di Tanah Air akan mengumandangkan khutbah dengan tema yang mengusung pesan penting: Bulan Safar bukanlah bulan sial. Pemilihan tema ini bukan tanpa alasan. Di tengah masyarakat, masih beredar anggapan turun-temurun yang mengaitkan bulan kedua dalam kalender Hijriah tersebut dengan kesialan, bala, dan berbagai bentuk malapetaka. Khutbah ini hadir untuk menepis keyakinan keliru tersebut dengan landasan syariat yang kokoh, sekaligus mengajak umat untuk kembali bersandar kepada akidah yang lurus.
Akar Sejarah Mitos Bulan Safar
Kepercayaan bahwa Safar adalah bulan pembawa sial sejatinya telah ada jauh sebelum Islam datang. Masyarakat Arab Jahiliah meyakini bahwa bulan Safar adalah waktu yang penuh dengan nasib buruk. Mereka sering menunda haji dari bulan Dzulhijjah yang telah ditetapkan ke bulan Safar dengan alasan menghindari keramaian atau mencari keberuntungan. Bahkan, sebagaian dari mereka merasa tidak aman untuk melakukan perjalanan atau transaksi penting ketika bulan Safar tiba. Tak hanya itu, ritual-ritual tertentu digelar demi menangkal bencana yang diyakini akan turun pada bulan tersebut.
Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam membantah keras pandangan ini. Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah bersabda: "Tidak ada ‘adwa, tiyarah, hammah, dan Safar." Hadits ini secara tegas menghapus anggapan bahwa setiap bulan—termasuk Safar—memiliki pengaruh buruk terhadap nasib manusia. Keyakinan semacam ini merupakan sisa-sisa peninggalan masa jahiliah yang harus dibersihkan dari umat Islam.
Dalil Syar'i yang Membantah Kesialan Bulan
Islam mengajarkan bahwa seluruh bulan—dari Muharram hingga Dzulhijjah—diciptakan Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa ada satu pun yang lebih sial dari yang lain. Al-Qur’an dalam Surah At-Taubah ayat 36 menegaskan bahwa bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan sejak Dia menciptakan langit dan bumi, dan di antaranya ada empat bulan haram yang dimuliakan. Tidak ada ayat yang menyebut Safar sebagai bulan nahas. Justru, gagasan sial atau beruntungnya suatu waktu bergantung sepenuhnya pada takdir Allah, bukan pada bulan tertentu.
Dalam ranah akidah, meyakini bahwa suatu bulan membawa pengaruh buruk secara independen dapat menjerumuskan pelakunya ke dalam kesyirikan. Ulama menjelaskan bahwa termasuk syirik kecil adalah tathayyur, yaitu sikap pesimis dengan melihat tanda-tanda tertentu dari alam, termasuk menganggap sebuah waktu sebagai pembawa sial. Karena itu, khutbah Jumat kali ini menjadi momentum vital untuk mengingatkan kembali umat agar tidak terjerumus dalam lubang keyakinan yang telah dikubur oleh cahaya tauhid.
Pesan Utama Khutbah: Kembali kepada Tawakal
Khutbah bertema "Bulan Safar: Bukan Bulan Sial" mengajak jamaah untuk memperbaiki cara pandang terhadap takdir. Para khatib diharapkan menekankan bahwa semua kejadian—baik atau buruk menurut manusia—datang dari Allah sebagai ujian atau berkah, bukan karena sebulan tertentu. Bulan Safar sama seperti bulan-bulan lain, di mana amal saleh tetap akan dilipatgandakan pahalanya dan pintu taubat selalu terbuka. Tidak ada satu hari pun yang perlu ditakuti secara irasional.
Khatib juga diharapkan mengutip teladan Rasulullah yang justru tidak pernah mengistimewakan atau mengucilkan bulan Safar. Dalam sejarah Islam, beberapa peristiwa besar terjadi pada bulan ini tanpa menunjukkan adanya kesialan. Misalnya, pernikahan Nabi dengan Siti Khadijah pada beberapa riwayat disebut terjadi di Safar, dan tidak satu pun menunjukkan bahwa peristiwa tersebut divonis sebagai nahas. Dengan demikian, memposisikan Safar sebagai bulan sial adalah bentuk penyimpangan dari sunnah.
Relevansi Khutbah di Era Modern
Di era modern, ketika informasi menyebar begitu cepat melalui media sosial, mitos tentang bulan Safar kerap mendapatkan tempat. Tidak jarang muncul konten yang mengaitkan Safar dengan larangan-larangan tertentu seperti pantang menikah, membuka usaha, atau bepergian. Khutbah ini menjadi penawar yang diharapkan bisa mengikis mitos tersebut secara massif. Umat Islam perlu berpegang pada ilmu yang sahih, bukan pada cerita turunan tanpa dasar.
Di sisi lain, khutbah ini juga menegaskan bahwa Islam adalah agama yang sangat rasional dan berbasis pada tauhid. Islam tidak membiarkan umatnya dikungkung oleh mitos yang menghalangi produktivitas dan kemajuan. Menolak mitos kesialan bulan Safar adalah bagian dari menjaga kemurnian iman. Dengan mengikuti khutbah ini, umat diharapkan mampu membedakan antara adat istiadat yang bertentangan dengan syariat dan ajaran murni yang berasal dari Al-Qur’an dan Hadits.
Penutup: Wujudkan Jumat Penuh Berkah
Karena itu, pelaksanaan khutbah Jumat pada 24 Juli 2026 ini bukan sekadar seremonial keagamaan, melainkan gerakan pencerahan akidah secara luas. Para jamaah yang mendengarkannya diharapkan meninggalkan masjid dengan keyakinan baru bahwa Safar bukanlah penghalang untuk meraih keberkahan. Sebaliknya, setiap Jumat di bulan Safar adalah kesempatan emas untuk memperbaiki diri, memperbanyak istighfar, dan memohon perlindungan Allah dari segala keburukan yang bisa terjadi kapan saja, tanpa terbelenggu oleh keyakinan bulan sial. Khutbah ini sekaligus mempertegas bahwa akidah Islam tidak memberikan ruang bagi tahayul yang melemahkan umat. Semoga pesan ini terpatri kuat dalam sanubari setiap Muslim dan membawa perubahan positif dalam kehidupan beragama di masyarakat.
Comments (0)