Jakarta — Kelas menengah selama ini dianggap sebagai penopang utama konsumsi domestik sekaligus cermin keberhasilan mobilitas sosial. Namun, berdasarkan verifikasi data statistik nasional, kelompok ini justru menunjukkan tanda-tanda penyusutan dalam lima tahun terakhir. Melemahnya daya tahan ekonomi kelompok menengah berpotensi merambat ke aktivitas usaha dan belanja rumah tangga, dua mesin utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Gambaran Kelas Menengah yang Menyusut
Berdasarkan data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) yang dipublikasikan dalam Statistik Indonesia 2025, klaim bahwa kelas menengah Indonesia mengalami penurunan jumlah terkonfirmasi. BPS mencatat jumlah kelas menengah pada 2024 sebanyak 47,85 juta orang atau sekitar 17,13 persen dari total penduduk. Angka ini menyusut dibandingkan posisi 2019 yang mencapai 57,33 juta orang atau sekitar 21,45 persen.
Kelompok yang disebut 'menuju kelas menengah' atau calon kelas menengah juga ikut menciut, dari 128,85 juta orang pada 2019 menjadi sekitar 119,36 juta orang pada 2024. BPS mendefinisikan kelas menengah berdasarkan pengeluaran per kapita per bulan antara Rp2,04 juta hingga Rp9,9 juta, sementara kelompok menuju kelas menengah berada pada rentang pengeluaran Rp1,2 juta hingga Rp2,04 juta.
Faktanya adalah penurunan tersebut tidak terjadi dalam satu tahun, melainkan berlangsung bertahap sejak pandemi Covid-19. Pada 2023, jumlah kelas menengah tercatat 51,88 juta orang atau 18,61 persen dari populasi, sebelum kembali turun pada 2024. Data menunjukkan sekitar 9,48 juta orang tercatat keluar dari kategori kelas menengah dalam kurun 2019–2024.
Dampak terhadap Konsumsi Domestik
Konsekuensi dari penyusutan ini tidak berhenti pada angka statistik. Kelas menengah dan kelompok menuju kelas menengah secara bersama-sama menyumbang lebih dari 80 persen dari total konsumsi rumah tangga nasional. Ketika dua kelompok ini menyusut, basis belanja domestik ikut mengerut, dan efeknya langsung terasa pada permintaan barang serta jasa.
Berbagai indikator yang dirilis lembaga resmi menunjukkan perlambatan. Survei konsumen Bank Indonesia (BI) pada periode-periode tertentu mencatat penurunan keyakinan konsumen, sementara Indeks Penjualan Ritel juga menunjukkan pertumbuhan yang melambat di tengah melemahnya daya beli kelompok menengah. Konsumsi rumah tangga, yang selama ini menyumbang lebih dari separuh produk domestik bruto (PDB), menjadi segmen yang paling rentan terhadap pergeseran status ekonomi kelompok ini.
Perilaku belanja pun berubah. Kelompok yang baru saja turun kelas cenderung memangkas pengeluaran diskresioner, seperti makan di luar, transportasi, dan rekreasi, sebelum akhirnya menekan kebutuhan pokok. Perubahan pola ini, menurut analisis berbagai lembaga, dapat memperlambat sektor perdagangan, makanan minuman, dan jasa lainnya yang mengandalkan konsumsi kelas menengah.
Tekanan pada Aktivitas Usaha
Pelemahan konsumsi rumah tangga pada akhirnya menekan aktivitas usaha, terutama usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menggantungkan omzet pada pasar domestik. Ketika permintaan menurun, penjualan turun, arus kas mengetat, dan sebagian pelaku usaha menunda ekspansi atau bahkan mengurangi tenaga kerja.
Temuan ini sejalan dengan catatan Bank Dunia dalam laporan Aspiring Indonesia: Expanding the Middle Class (2020), yang menyoroti bahwa ekspansi kelas menengah telah melambat bahkan sebelum pandemi. Laporan tersebut menekankan bahwa kelompok rentan yang gagal naik kelas atau justru jatuh ke bawah akan memperbesar risiko kemiskinan struktural dan menghambat mobilitas sosial antargenerasi.
Dampak fiskal juga patut dicermati. Sebagian besar penerimaan pajak penghasilan ditopang oleh kelompok menengah. Jika daya tahan kelompok ini terus melemah, basis penerimaan negara ikut tertekan di saat belanja perlindungan sosial justru meningkat. Kombinasi ini, berdasarkan verifikasi terhadap data fiskal dan statistik konsumsi, menempatkan pemerintah pada posisi yang sulit: memperkuat jaring pengaman tanpa menggerus ruang fiskal.
Kesimpulan: Ancaman terhadap Mobilitas Sosial
Berdasarkan verifikasi atas data BPS, catatan Bank Dunia, serta indikator konsumsi dan ritel yang dirilis BI, klaim bahwa kelas menengah tengah tergelincir dari tangga mobilitas sosial dapat dikatakan akurat secara statistik. Jumlah dan proporsi kelompok ini menurun nyata sejak 2019, dan penurunan tersebut terjadi bersamaan dengan melambatnya pertumbuhan konsumsi serta aktivitas usaha domestik.
Yang patut diwaspadai bukan hanya angka kemiskinan, melainkan meluasnya kelompok rentan yang berada tepat di garis batas kelas menengah. Kelompok inilah yang paling cepat jatuh ketika terjadi guncangan ekonomi, dan paling lambat naik kembali ketika kondisi membaik. Selama daya tahan kelas menengah belum pulih, risiko perambatan pelemahan ke sektor usaha dan konsumsi domestik akan tetap membayangi.
Pemulihan tidak cukup hanya dengan menjaga pertumbuhan ekonomi agregat. Dibutuhkan kebijakan yang secara khusus memperkuat daya beli dan produktivitas kelompok menengah serta calon kelas menengah, karena merekalah penopang utama konsumsi domestik dan pijakan mobilitas sosial yang paling nyata. Tanpa intervensi yang tepat sasaran, tangga mobilitas sosial berisiko semakin curam bagi generasi berikutnya.
Comments (0)