Sep 10, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

Cek Fakta

Kekeringan Ekstrem, Warga Desa Gunung Putri Situbondo Rela Berburu Air Bersih

Krisis air bersih kembali mencekik kehidupan masyarakat di pelosok Jawa Timur saat musim kemarau mencapai puncaknya. Di Desa Gunung Putri, Kecamatan Suboh,

Kekeringan Ekstrem, Warga Desa Gunung Putri Situbondo Rela Berburu Air Bersih

Krisis air bersih kembali mencekik kehidupan masyarakat di pelosok Jawa Timur saat musim kemarau mencapai puncaknya. Di Desa Gunung Putri, Kecamatan Suboh, Kabupaten Situbondo, ratusan kepala keluarga harus menjalani rutinitas melelahkan setiap harinya: berjalan berkilo-kilo meter menembus perbukitan gersang demi mendapatkan beberapa jeriken air tawar layak konsumsi.

Sumur-sumur galian milik warga yang selama ini menjadi tumpuan utama telah mengering total sejak dua bulan terakhir. Dasar sumur hanya menyisakan tanah retak berdebu, memaksa warga mengandalkan ceruk-ceruk mata air rembesan (belik) di dasar sungai mati atau menunggu distribusi tangki bantuan yang jadwalnya kerap tidak menentu.

Perjuangan Menembus Medan Terjal demi Setetes Air

Sejak fajar belum merekah, antrean jeriken plastik warna-warni sudah mengular di titik-titik rembesan air di pinggir hutan. Kaum perempuan dan lansia terlihat mengangkut beban berat menggunakan pikulan kayu atau menaikkannya ke atas sepeda motor tua untuk melintasi jalanan setapak yang bergelombang dan berdebu tebal.

"Kalau tidak berangkat subuh, air rembesannya sudah habis diambil warga lain. Untuk minum dan memasak saja kami harus hemat luar biasa, apalagi untuk mandi atau ternak," tutur Siti Rokhayah (44), salah seorang warga yang ditemui saat menuntun motornya sarat jeriken air.

Kondisi ini bukan sekadar persoalan musiman, melainkan krisis struktural tahunan yang belum menemukan solusi permanen dari pemerintah daerah. Topografi Desa Gunung Putri yang berada di dataran tinggi berbatu membuat pengeboran air tanah mandiri memerlukan biaya puluhan juta rupiah—sebuah angka yang mustahil dijangkau oleh mayoritas warga yang berprofesi sebagai buruh tani dan peternak skala kecil.

Dampak Multi-Sektor dan Ancaman Sanitasi Buruk

Investigasi lapangan menunjukkan bahwa krisis air di kawasan ini telah memicu dampak berantai yang mengkhawatirkan:

  • Penurunan Kualitas Kesehatan: Warga terpaksa menggunakan air rembesan yang keruh untuk sanitasi harian, meningkatkan risiko penyakit kulit dan diare.
  • Beban Pengeluaran Ekstra: Sebagian warga yang memiliki sedikit tabungan terpaksa merogoh kocek hingga Rp30.000–Rp50.000 per drum untuk membeli air dari pihak swasta.
  • Terganggunya Produktivitas Pertanian: Hewan ternak mulai mengalami dehidrasi dan penurunan berat badan drastis akibat minimnya pasokan air minum dan pakan hijau.

Solusi Darurat vs Komitmen Jangka Panjang

Selama ini, respons Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan instansi terkait kerap berkutat pada dropping air bersih menggunakan mobil tangki. Meski membantu meredakan dahaga sesaat, bantuan darurat tersebut ibarat membalut luka terbuka dengan plester tipis tanpa mengobati infeksinya secara menyeluruh.

"Droping air tangki hanya bertahan satu sampai dua hari. Yang kami butuhkan adalah pipanisasi dari sumber mata air pegunungan yang debitnya stabil, atau pembangunan sumur bor dalam dengan instalasi penampungan terpusat," tegas salah seorang tokoh pemuda desa setempat.

Masyarakat Desa Gunung Putri kini mendesak Pemerintah Kabupaten Situbondo bersama dinas teknis terkait untuk segera merealisasikan proyek infrastruktur air bersih permanen. Tanpa langkah konkret dan berani dari pemangku kebijakan, pemandangan warga memikul jeriken di bawah terik matahari akan terus menjadi potret kemiskinan struktural yang berulang setiap musim kemarau datang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS khrisna-pertiwi

Reporter Kebijakan Publik. Menganalisis dampak kebijakan terhadap masyarakat.

Comments (0)

User