Aug 27, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

factcheck

Kebakaran Melanda Rumah Adat Desa Sade, Warisan Arsitektur Sasak Terancam

Kawasan Desa Wisata Sade di Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, dilaporkan dilanda kebakaran yang menjangkiti sejumlah bangunan rumah adat suku Sasak. Peristiwa itu menimpa salah satu...

Kebakaran Melanda Rumah Adat Desa Sade, Warisan Arsitektur Sasak Terancam

Kawasan Desa Wisata Sade di Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, dilaporkan dilanda kebakaran yang menjangkiti sejumlah bangunan rumah adat suku Sasak. Peristiwa itu menimpa salah satu permukiman budaya tertua di Pulau Lombok yang telah lama menjadi ikon pariwisata berbasis masyarakat.

Api diketahui berkembang dengan cepat karena dominasi material mudah terbakar pada konstruksi rumah adat, mulai dari rangka kayu, dinding berbahan bambu, hingga atap jerami alang-alang. Warga sempat berupaya memadamkan nyala secara swadaya sebelum petugas pemadam kebakaran tiba di lokasi.

Proses evakuasi berlangsung tergesa-gesa. Penduduk memprioritaskan menyelamatkan dokumen keluarga, perlengkapan upacara adat, serta hasil tenun yang menjadi mata pencaharian sebagian penghuni. Belum tersedia konfirmasi resmi mengenai jumlah bangunan yang musnah maupun kondisi korban sampai kabar ini disusun.

Permukiman Rapat Menyulitkan Penanganan Api

Faktanya adalah, tata ruang Desa Sade tersusun padat dengan lorong-lorong sempit yang menjadi ciri khas hunian tradisional Sasak. Susunan tersebut menyimpan nilai historis sekaligus menyulitkan akses kendaraan pemadam saat kebakaran terjadi. Petugas diduga menerapkan pendekatan manual dengan memanfaatkan jalur pejalan kaki dan peralatan ringan guna menjangkau titik api.

Data menunjukkan pola serupa kerap muncul pada kebakaran di kawasan permukiman tua: jarak antarbangunan yang minim membuat api mudah melompat dari satu atap ke atap lainnya. Saat angin bertiup kencang, penjalaran bisa berlangsung dalam hitungan menit sehingga upaya penyelamatan bergeser pada evakuasi daripada pemadaman.

Warisan Arsitektur Sasak Bernilai Tinggi

Reputasi Desa Sade melekat pada bentuk bangunan tradisionalnya yang memadukan unsur seni rupa dan pengetahuan turun-temurun masyarakat Sasak. Bangunan bernama Bale Lumbung atau lumbung padi menjadi contoh konstruksi yang dirakit tanpa paku, memakai tali ijuk serta teknik sambung kayu yang diwariskan lintas generasi.

Setiap elemen bangunan membawa fungsi filosofis. Lantai tanah liat yang digosok dengan limbah gula merah menghasilkan kilau khas, sementara pembagian ruang mencerminkan struktur sosial keluarga. Nilai-nilai itulah yang menjadikan desa ini tujuan edukasi budaya sekaligus penopang ekonomi lokal melalui kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara.

Hilangnya satu unit rumah adat berarti hilangnya dokumen hidup peradaban Sasak, sebab pengetahuan membangunnya hanya dikuasai segelintir tukang tradisional. Rekonstruksi tidak cukup dengan mendirikan bangunan baru; ia menuntut pelibatan komunitas adat agar teknik asli tetap terjaga.

Dampak Ekonomi dan Sosial bagi Penghuni

Sebagian besar warga Desa Sade menggantungkan penghidupan pada sektor pariwisata, baik sebagai pengelola atraksi budaya, perajin kain, maupun pemandu wisata. Terhambatnya aktivitas kawasan pascakebakaran berpotensi menekan pendapatan rumah tangga dalam jangka pendek.

Pengelola desa wisata bersama pemerintah daerah diperkirakan melakukan pendataan kerugian serta penyaluran bantuan bagi kepala keluarga terdampak. Skema pemulihan semacam ini pernah ditempuh pada bencana sebelumnya di wilayah Lombok dengan pelibatan dinas sosial dan lembaga kebudayaan.

Imbauan Mitigasi Kawasan Tradisional

Peristiwa ini kembali menyoroti urgensi mitigasi kebakaran pada permukiman berbahan organik. Beberapa langkah dasar dinilai relevan diterapkan, antara lain penyediaan titik air cadangan di beberapa sudut kawasan, pelatihan respons cepat bagi karang taruna, serta pemeriksaan rutin area dapur yang lazim menjadi titik awal kebakaran rumah tangga.

Dokumentasi digital atas struktur rumah adat juga direkomendasikan agar proses restorasi memiliki acuan teknis yang akurat. Kolaborasi antara pemerintah, kalangan akademisi arsitektur, dan komunitas adat dipandang sebagai kunci menjaga kelestarian kawasan tanpa mengorbankan keselamatan penghuninya.

Pemantauan lanjutan masih berlangsung untuk memastikan data pasti mengenai luas dampak, kondisi warga, serta estimasi kerugian materi. Pembaruan akan disampaikan begitu informasi resmi diterbitkan otoritas setempat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS hafiz-rahman

Data Journalist. Mengungkap fakta melalui data. Spesialisasi: analisis forensik digital.

Comments (0)

User