Sep 13, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

Sains

Kanada — Praktik 'Trademark Squatting' Kata 'Bruh' Rugikan Penjual Etsy

LURUSIN.COM — Praktik penyerobotan merek dagang atau trademark squatting kembali memakan korban di kalangan pelaku usaha mikro dan kreator independen. Seju

Kanada — Praktik 'Trademark Squatting' Kata 'Bruh' Rugikan Penjual Etsy

LURUSIN.COM — Praktik penyerobotan merek dagang atau trademark squatting kembali memakan korban di kalangan pelaku usaha mikro dan kreator independen. Sejumlah penjual di platform e-commerce global Etsy mengeluhkan penghapusan massal produk kaos bertuliskan istilah bahasa gaul populer, "bruh", menyusul klaim pelanggaran merek dagang yang didaftarkan di Kanada.

Kasus ini mencuat setelah pemilik hak merek dagang atas kata "bruh" di Canadian Intellectual Property Office (CIPO) melayangkan laporan pelanggaran hak kekayaan intelektual (HAKI) kepada manajemen Etsy. Akibatnya, sistem otomatisasi Etsy langsung menghapus berbagai katalog busana milik penjual kecil tanpa memberi ruang negosiasi atau verifikasi kontekstual.

Kronologi Sengketa dan Penindakan Produk

Berdasarkan penelusuran reportase atas rantai sengketa hak cipta ini, berikut adalah urutan kejadian yang memicu polemik di kalangan penjual daring:

  1. Pendaftaran Merek Kata Slang: Pihak pelapor secara resmi mendaftarkan kata percakapan umum "bruh" untuk kategori produk pakaian di lembaga kekayaan intelektual Kanada guna memperoleh hak monopoli komersial.
  2. Pengajuan Laporan Pelanggaran Massal: Pemegang sertifikat merek melayangkan klaim Intellectual Property Infringement kepada pihak Etsy terhadap ribuan penjual yang menggunakan kata tersebut pada desain kaos mereka.
  3. Penghapusan Produk Tanpa Kurasi: Manajemen platform Etsy menindaklanjuti laporan tersebut dengan menghapus etalase (takedown) produk para kreator kecil demi menghindari risiko liabilitas hukum platform.
  4. Resistensi Pedagang Independen: Para penjual menyuarakan protes dan menuding tindakan tersebut sebagai bentuk manipulasi hukum yang memanfaatkan istilah bahasa sehari-hari demi memeras kompetitor.
"Sistem penegakan hukum hak cipta daring saat ini sangat timpang. Pelaku usaha kecil langsung dijatuhi sanksi penghapusan lapak hanya karena menggunakan bahasa tutur umum yang dimonopoli oleh oknum pemegang merek," ungkap laporan investigatif para kreator independen.

Dilema Regulasi dan Tingginya Biaya Litigasi

Pakar hukum kekayaan intelektual menyoroti celah regulasi yang kerap dimanfaatkan oknum pemburu rente merek dagang. Seharusnya, istilah generik atau slang budaya pop yang telah digunakan secara luas tidak dapat didaftarkan sebagai hak eksklusif sebuah entitas bisnis.

Namun, kendala utama terletak pada proses pembatalan merek yang sangat mahal dan berbelit-belit. Berikut adalah sejumlah faktor struktural yang merugikan pelaku usaha mikro:

  • Biaya Sengketa Hukum yang Fantastis: Mengajukan petisi pembatalan merek dagang di pengadilan atau kantor paten membutuhkan biaya ribuan dolar, nilai yang mustahil dijangkau oleh pedagang berskala rumahan.
  • Algoritma Platform yang Kaku: Platform seperti Etsy lebih memilih melakukan sensor otomatis terhadap barang dagangan daripada memfasilitasi audit legal yang komprehensif.
  • Monopoli Bahasa Publik: Fenomena ini menciptakan preseden berbahaya di mana kata-kata sehari-hari diprivatisasi untuk mematikan persaingan pasar kreatif.

Kini, komunitas penjual mendesak otoritas pendaftaran merek dagang internasional serta manajemen platform daring untuk mengevaluasi prosedur pendaftaran dan penyelesaian sengketa, agar ruang publik dan perdagangan kreatif tidak disandera oleh segelintir pihak.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS dina-aulia

Reporter Investigasi. Meliput isu lingkungan, tambang ilegal, dan deforestasi.

Comments (0)

User