JK: Rachmat Gobel Hampir Sama dengan Saya, Luthfi: Ikan Busuk dari Kepala

Dua peristiwa dalam beberapa waktu terakhir sama-sama menyoroti makna kepemimpinan dan tanggung jawab pejabat publik. Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla (JK) menyampaikan kenangan mendalam ten...

Jul 11, 2026 - 11:29
0 0

Dua peristiwa dalam beberapa waktu terakhir sama-sama menyoroti makna kepemimpinan dan tanggung jawab pejabat publik. Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla (JK) menyampaikan kenangan mendalam tentang sosok Rachmat Gobel yang wafat pada 7 Agustus 2024. Di sisi lain, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi memberikan tanggapan tajam atas operasi tangkap tangan (OTT) yang menjerat Bupati Sukoharjo Etik Suryani. Dua wajah kepemimpinan Indonesia hadir dalam satu pekan: satu penuh keteladanan, satu lagi menjadi peringatan keras tentang bahaya penyalahgunaan kekuasaan.

Kenangan JK: Rachmat Gobel, Pemimpin Berpengetahuan Luas dan Berjasa

Jusuf Kalla mengenang Rachmat Gobel sebagai pribadi yang ramah, memiliki pengetahuan yang sangat luas, dan berjasa besar bagi negara. Dalam sebuah kesempatan, JK menyebut almarhum hampir sama dengan dirinya—bukan hanya karena sama-sama berasal dari Sulawesi dan berlatar belakang pengusaha, tetapi juga dalam semangat dan komitmen membangun bangsa. “Dia hampir sama dengan saya. Pengetahuannya luas, ramah, dan banyak berbuat untuk negara,” ujar JK seperti dikutip dari kenangannya.

Rachmat Gobel memang bukan tokoh sembarangan. Lahir di Gorontalo, ia mewarisi dan mengembangkan Panasonic Gobel, perusahaan elektronik legendaris milik ayahnya, Thayeb Mohammad Gobel. Dari dunia usaha, ia melangkah ke politik dan pemerintahan. Gobel pernah menjabat Menteri Perdagangan dalam Kabinet Indonesia Bersatu II era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, lalu kembali dipercaya sebagai Menteri Perdagangan pada awal pemerintahan Jokowi. Puncak karier politiknya terjadi saat ia menjadi Wakil Ketua DPR RI Bidang Industri dan Perdagangan periode 2019-2024. JK menilai, dedikasi Gobel di lintas sektor—bisnis, birokrasi, dan parlemen—menunjukkan ketulusan mengabdi, bukan sekadar mengejar jabatan.

Bagi JK, kepergian Rachmat Gobel adalah kehilangan besar. “Beliau sosok yang rendah hati meski pengetahuannya luas. Banyak yang bisa kita teladani dari caranya memimpin tanpa banyak bicara,” imbuh JK. Sosok seperti Gobel menjadi contoh bahwa kepemimpinan sejati lahir dari kompetensi, integritas, dan kerja nyata—bukan pencitraan.

Gubernur Luthfi: Ikan Busuk dari Kepala, Jabatan Tak Kebal Hukum

Di Jawa Tengah, publik dikejutkan oleh operasi tangkap tangan KPK terhadap Bupati Sukoharjo Etik Suryani pada Oktober 2023. Etik ditangkap bersama sejumlah pejabat lainnya atas dugaan suap pengurusan proyek dan gratifikasi. Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, yang baru beberapa bulan menjabat, angkat bicara dengan nada tegas. “Ikan busuk dari kepala. Kalau pemimpinnya tidak beres, jangan harap bawahannya bisa baik,” ujarnya dalam sebuah wawancara.

Luthfi menekankan bahwa jabatan publik bukanlah tameng untuk kebal hukum. Menurutnya, justru semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar tanggung jawabnya untuk menjaga amanah. “Korupsi di tingkat bupati adalah pengkhianatan terhadap rakyat. Jangan ada lagi yang merasa aman di balik kursi jabatan,” tegasnya. Ia juga meminta seluruh jajaran birokrasi di Jawa Tengah untuk melakukan introspeksi dan memperkuat sistem pengawasan internal.

Kasus Sukoharjo menambah panjang daftar kepala daerah yang terjerat KPK. Data Indonesia Corruption Watch menunjukkan bahwa sepanjang 2010-2023, lebih dari 60 bupati/wali kota menjadi tersangka korupsi. Luthfi berharap momentum ini menjadi pembelajaran kolektif. “Saya tidak akan melindungi siapa pun yang terlibat korupsi. Hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu,” janjinya.

Pelajaran tentang Kepemimpinan

Dua peristiwa ini layaknya cermin bagi para pemimpin dan calon pemimpin negeri. Di satu kutub, ada Rachmat Gobel yang meninggalkan jejak pengabdian, pengetahuan, dan keramahan yang dikenang oleh tokoh sekaliber Jusuf Kalla. Di kutub lainnya, kasus OTT Sukoharjo menunjukkan betapa godaan kekuasaan bisa menghancurkan karier dan menjerumuskan seorang bupati ke balik jeruji besi.

Perbedaan tajam itu terletak pada integritas. Gobel memilih membangun industri dan memperkuat parlemen sebagai jalan pengabdian. Sementara Etik Suryani (berdasarkan dakwaan KPK) justru menggunakan kewenangannya untuk keuntungan pribadi. Ahmad Luthfi, dengan pernyataan “ikan busuk dari kepala”-nya, mengingatkan bahwa akar masalah korupsi sering kali berada di level pimpinan. Maka pemberantasan harus dimulai dari penegakan hukum yang tegas kepada para “kepala ikan”.

JK dan Luthfi, meski dengan konteks berbeda, memberi pesan yang sama: negeri ini membutuhkan pemimpin yang bersih, berilmu, dan rendah hati. Rachmat Gobel adalah contoh nyata, sementara takdir Etik Suryani adalah peringatan bagi siapa saja yang mencoba mempermainkan jabatan publik.

[TAGS]: Jusuf Kalla, Rachmat Gobel, Ahmad Luthfi, OTT, Bupati Sukoharjo, Etik Suryani, KPK, kepemimpinan, integritas, korupsi [SOCIAL_TWEET]: JK: Rachmat Gobel hampir sama dengan saya—pribadi ramah, berpengetahuan luas, berjasa bagi bangsa. Sementara Gubernur Jateng Luthfi soal OTT Bupati Sukoharjo: ikan busuk dari kepala. Dua sisi kepemimpinan Indonesia dalam sepekan. Baca selengkapnya. [SOCIAL_FB]: Dua kabar yang sama-sama bicara soal kepemimpinan: Jusuf Kalla mengenang mendiang Rachmat Gobel sebagai sosok rendah hati, berilmu luas, dan berjasa besar. Di hari yang lain, Gubernur Jateng Ahmad Luthfi bereaksi keras atas OTT Bupati Sukoharjo oleh KPK. “Ikan busuk dari kepala,” ujarnya, mengingatkan bahwa jabatan bukan jaminan kebal hukum. Seperti apa benang merah keduanya? Simak refleksinya di sini. [SOCIAL_TG]: Refleksi kepemimpinan: JK kenang Rachmat Gobel yang “hampir sama” dengannya, sementara Ahmad Luthfi kecam OTT Bupati Sukoharjo sebagai “ikan busuk dari kepala”. Pelajaran integritas dari dua peristiwa. [SOCIAL_THREADS]: Dua muka kepemimpinan muncul bersamaan: kenangan Jusuf Kalla akan Rachmat Gobel, sosok berpengetahuan luas dan berjasa bagi negara, dan tanggapan Gubernur Jateng Ahmad Luthfi soal OTT Bupati Sukoharjo yang menekankan bahwa korupsi harus dilawan dari akarnya. Sebuah refleksi tajam tentang makna jabatan publik yang sesungguhnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User