Sep 18, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

Cek Fakta

Jejakin Kembangkan Sensor Bioakustik Pantau 11.000 Spesies Burung

Rimba tropis Indonesia menyimpan riuh rendah kehidupan yang kerap tak kasat mata. Selama berpuluh-puluh tahun, para peneliti dan konservasionis mengandalka

Jejakin Kembangkan Sensor Bioakustik Pantau 11.000 Spesies Burung

Rimba tropis Indonesia menyimpan riuh rendah kehidupan yang kerap tak kasat mata. Selama berpuluh-puluh tahun, para peneliti dan konservasionis mengandalkan kamera pengintai (camera traps) serta dokumentasi foto manual untuk memetakan kekayaan hayati. Namun, di balik lebatnya tajuk pohon dan pekatnya malam, jutaan sinyal keanekaragaman hayati luput dari pengamatan visual. Metode konvensional ini kini dinilai tak lagi memadai untuk menjawab tantangan krisis iklim yang makin mendesak.

Mengatasi celah besar tersebut, perusahaan climate-tech asal Indonesia, Jejakin, melangkah lebih jauh dengan menghadirkan terobosan teknologi berbasis suara. Founder & CEO Jejakin, Arfan Arlanda, mengonfirmasi bahwa pihaknya tengah mengembangkan teknologi sensor bioakustik mutakhir. Perangkat cerdas ini dirancang khusus untuk merekam, memproses, dan menganalisis gelombang suara alam, dengan target pemantauan yang sangat ambisius: mencapai 11.000 spesies burung di seluruh dunia.

Keterbatasan Visual dan Terobosan Sinyal Suara

Dalam forum Katadata SAFE, Arfan Arlanda membeberkan alasan mendasar di balik pergeseran fokus teknologi ini. Menurutnya, pengumpulan data keanekaragaman hayati yang hanya mengandalkan fotografi memiliki keterbatasan fisik dan geografis yang signifikan. Banyak spesies satwa, terutama burung dan amfibi, tersembunyi di balik kanopi tinggi, aktif hanya pada malam hari (nokturnal), atau sengaja menghindari presensi manusia dan kamera.

“Suara hutan adalah sidik jari ekosistem yang paling jujur,” ungkap Arfan Arlanda dalam paparannya. Melalui pemanfaatan sensor bioakustik yang terintegrasi dengan algoritma kecerdasan buatan (artificial intelligence), perangkat ini mampu menangkap frekuensi vokal terkecil sekalipun. AI kemudian mencocokkan pola gelombang suara tersebut dengan basis data bioakustik global untuk memverifikasi keberadaan spesies secara real-time tanpa merusak atau mengganggu habitat alami.

Komparasi Metode Pemantauan Keanekaragaman Hayati

Perubahan paradigma dari pemantauan berbasis visual menuju bioakustik memberikan efisiensi yang sangat drastis dalam inventarisasi hutan tropis. Berikut adalah perbandingan teknis antara metode dokumentasi visual konvensional dengan sensor bioakustik cerdas:

Parameter Pemantauan Dokumentasi Foto Konvensional Sensor Bioakustik AI Jejakin
Jangkauan Area Terbatas pada garis pandang lensa kamera Cakupan audit suara 360 derajat dalam radius luas
Deteksi Spesies Nokturnal Sangat terbatas dan bergantung pada lampu kilat Sangat tinggi melalui pemetaan frekuensi malam
Kecepatan Analisis Data Manual, memakan waktu mingguan hingga bulanan Otomatis berbasis AI dalam hitungan detik
Target Pemetaan Spesies Terbatas pada fauna berukuran besar/sedang Hingga 11.000 spesies burung dan fauna vokal

Implikasi pada Pasar Karbon dan Pengukuran ESG

Inovasi bioakustik ini tidak hanya berdampak pada dunia sains murni, tetapi juga menjadi instrumen krusial dalam ekosistem ekonomi hijau, khususnya pada validasi proyek berbasis alam (Nature-based Solutions). Selama ini, integritas kredit karbon sering kali dipertanyakan karena minimnya data pendukung yang membuktikan peningkatan kualitas keanekaragaman hayati di area konservasi.

"Pengumpulan data keanekaragaman hayati melalui dokumentasi foto memiliki keterbatasan mendasar. Dengan sensor bioakustik, kita dapat mendengarkan denyut ekosistem secara presisi, mengukur indeks keanekaragaman hayati secara kuantitatif, serta menyajikan data sains yang tak terbantahkan bagi audit hijau dunia," tegas Arfan Arlanda.

Dengan adanya kepastian data dari 11.000 spesies burung ini, korporasi yang menerapkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dapat mengukur dampak investasi lingkungan mereka secara transparan. Kehadiran spesies burung tertentu berfungsi sebagai indikator utama (bio-indicator) kesehatan sebuah hutan. Langkah Jejakin ini menandai babak baru di mana teknologi akustik menjadi tulang punggung bagi akuntabilitas pemulihan lingkungan di Indonesia dan skala global.

Mengatasi keterbatasan kamera konvensional, Jejakin memanfaatkan sinyal suara dan AI untuk merekam denyut keanekaragaman hayati hutan tropis. Simak laporan lengkapnya di Lurusin.com!

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS hafiz-rahman

Data Journalist. Mengungkap fakta melalui data. Spesialisasi: analisis forensik digital.

Comments (0)

User