Sep 17, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

Sains

JAKARTA — Rupiah Melemah ke Rp17.746 Usai Suku Bunga The Fed Naik

Layar pergerakan harga di pasar valuta asing menunjukkan riak merah yang kian pekat pada pembukaan perdagangan Kamis pagi. Nilai tukar rupiah terhadap dola

JAKARTA — Rupiah Melemah ke Rp17.746 Usai Suku Bunga The Fed Naik

Layar pergerakan harga di pasar valuta asing menunjukkan riak merah yang kian pekat pada pembukaan perdagangan Kamis pagi. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali tersungkur cukup dalam, terseret oleh gelombang kejutan kebijakan moneter global yang berpusat dari Washington. Sentimen pasar yang kian rapuh memicu tekanan jual secara masif terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah yang terus tertekan hingga menembus level psikologis baru.

Berdasarkan data Bloomberg pada Kamis, 17 September 2026, rupiah dibuka melemah sebesar 0,28 persen atau merosot 50 poin ke level Rp17.746 per dolar AS. Penurunan tajam ini melanjutkan tren pelemahan dari hari sebelumnya, di mana rupiah ditutup terkoreksi pada posisi Rp17.696 per dolar AS.

Periode Perdagangan Nilai Tukar (USD/IDR) Perubahan
Rabu (Penutupan) Rp17.696 -0,01% (-2 poin)
Kamis (Pembukaan) Rp17.746 -0,28% (-50 poin)

Tekanan Sentimen Global dan Sinyal Hawkish The Fed

Pemicu utama dari terjerembabnya mata uang Garuda ini tidak lepas dari pengumuman mengejutkan bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), pada Kamis dini hari waktu Indonesia. The Fed secara resmi menaikkan suku bunga acuan mereka untuk meredam inflasi AS yang masih membandel. Langkah keras ini langsung menyuntikkan tenaga baru bagi indeks dolar AS yang kembali melonjak menembus level tertinggi mingguan, sementara aset-aset berisiko di pasar berkembang ditinggalkan investor.

Analisis mendalam dari pelaku pasar mengonfirmasi betapa rentannya posisi rupiah saat ini di tengah ketidakpastian geopolitik dan perbedaan arah kebijakan moneter antarnegara.

"Pergerakan nilai tukar rupiah saat ini kami perkirakan masih rawan melemah terhadap dolar AS. Kenaikan suku bunga The Fed memperlebar ketimpangan imbal hasil dan memicu pelarian modal menuju aset berdenominasi dolar," ujar Analis Pasar Uang dari MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana.

Dilema Kebijakan Bank Indonesia di Persimpangan Jalan

Kini, perhatian seluruh pelaku ekonomi dan investor tertuju pada gedung Bank Indonesia (BI). Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang dijadwalkan berlangsung pekan ini menjadi panggung ujian krusial bagi otoritas moneter domestik. Keputusan yang diambil BI akan menentukan arah pergerakan pasar keuangan nasional dalam jangka menengah.

Para analis mencermati ada beberapa skenario taktis yang berpotensi diambil oleh Bank Indonesia guna menahan laju penurunan rupiah tanpa mengorbankan stabilitas ekonomi makro secara keseluruhan.

"Kami mencermati ada beberapa skenario yang memungkinkan untuk BI menghadapi kenaikan suku bunga The Fed. Ada kemungkinan BI menaikkan suku bunga acuan, namun opsi ini menyimpan konsekuensi negatif terhadap likuiditas domestik dan kinerja pasar modal," terang Herditya.

Jika BI memilih menaikkan suku bunga, biaya pinjaman di tingkat perbankan dipastikan melambung, yang pada akhirnya membebani laju ekspansi dunia usaha. Sebaliknya, pada skenario alternatif, BI diprediksi akan mengoptimalkan instrumen moneter non-suku bunga.

Penggunaan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) menjadi kartu kunci yang dapat dimainkan untuk menyerap likuiditas dan memberikan imbal hasil menarik bagi investor asing tanpa harus secara formal mengubah suku bunga acuan BI-Rate.

Dampak Sistemik dan Bayang-Bayang Inflasi Impor

Terus merosotnya rupiah hingga mendekati batas Rp17.800 per dolar AS memicu keprihatinan luas mengenai potensi lonjakan imported inflation (inflasi barang impor). Komoditas pangan vital, bahan baku industri, serta beban utang luar negeri berdenominasi valas berisiko membengkak signifikan jika tekanan tidak kunjung mereda.

Para pelaku industri manufaktur domestik kini harus berhitung ulang mengenai biaya operasional mereka. Di sisi lain, pasar obligasi pemerintah juga berpotensi mengalami tekanan jual jika imbal hasil (yield) tidak disesuaikan untuk mengimbangi daya tarik obligasi AS.

Masyarakat dan pelaku usaha kini menanti dengan cermat sejauh mana amunisi cadangan devisa serta ketegasan transmisi kebijakan moneter Bank Indonesia mampu menghentikan pendarahan rupiah di tengah badai penguatan mata uang Paman Sam tersebut.

Pasar valuta asing bergolak setelah The Fed menaikkan suku bunga. Rupiah terkoreksi 50 poin pada pembukaan Kamis pagi. Bank Indonesia kini dihadapkan pada skenario krusial jelang Rapat Dewan Gubernur. Baca analisis lengkapnya di website Lurusin.com.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sinta-pradana

Fact-Check Editor. Verifikator bersertifikasi IFCN. Memeriksa klaim viral dan disinformasi.

Comments (0)

User