Langkah konkret pengembangan salah satu proyek gas alam cair terbesar di Indonesia akhirnya memasuki babak baru. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama pemangku kepentingan hulu migas resmi membuka fase Front-End Engineering Design (FEED) untuk Proyek LNG Abadi di Wilayah Kerja (WK) Masela.
Peresmian penting yang digelar di Hotel Mulia, Jakarta, tersebut dihadiri oleh jajaran petinggi sektor energi, termasuk Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Tri Winarno, perwakilan SKK Migas, serta konsorsium operator yang dipimpin oleh Inpex Corporation bersama Pertamina Hulu Energi dan Petronas.
Kronologi dan Babak Baru Pengembangan Lapangan Abadi
Perjalanan Lapangan Gas Abadi di Laut Arafura, Maluku Barat Daya, menempuh rute panjang nan berliku sebelum tiba pada fase desain teknis mendalam saat ini:
- Tahun 2000: Inpex menemukan cadangan gas raksasa di Lapangan Abadi, Blok Masela.
- Tahun 2019: Pemerintah menyetujui revisi Rencana Pengembangan Lapangan (PoD I) dengan skema kilang LNG di darat (onshore).
- Tahun 2023: Konsorsium baru terbentuk pasca masuknya Pertamina Hulu Energi (PHE) dan Petronas menggantikan Shell, disusul revisi PoD yang mengintegrasikan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS).
- Tahun 2025: Pelaksanaan fase FEED secara serentak dimulai untuk fasilitas terapung (FPSO), kilang LNG darat, pipa gas bawah laut, dan sistem injeksi CO2.
"Pelaksanaan FEED adalah titik tolak krusial sebelum kontraktor mengambil Keputusan Akhir Investasi (FID). Proyek Masela tidak hanya vital untuk pasokan energi nasional, tetapi juga menjadi pionir proyek gas bersih dengan integrasi penangkapan karbon di kawasan timur Indonesia," ungkap perwakilan otoritas hulu migas di sela peresmian.
Tahapan Krusial Menuju Keputusan Akhir Investasi (FID)
Fase FEED merupakan tahapan rancang bangun teknis awal yang menentukan estimasi biaya, spesifikasi peralatan, dan metodologi operasional proyek sebelum konsorsium menetapkan Final Investment Decision (FID). Tahap ini akan menjadi fondasi utama dalam memitigasi risiko teknis maupun finansial di perairan dalam Laut Arafura.
Pekerjaan desain rekayasa ini mencakup beberapa paket utama secara terintegrasi:
- Fasilitas Produksi, Penyimpanan, dan Pembongkaran Terapung (FPSO).
- Kilang LNG Darat (Onshore LNG Plant) dengan kapasitas 9,5 juta ton per tahun (MTPA).
- Pipa penyalur gas bawah laut (Gas Export Pipeline) sepanjang ratusan kilometer menuju darat.
- Fasilitas pipa gas domestik sebesar 150 MMSCFD untuk kebutuhan industri lokal.
- Fasilitas penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS) guna menekan jejak emisi operasional.
Dampak Ekonomi dan Signifikansi Strategis Lapangan Abadi
Dengan total estimasi investasi melampaui USD 20,9 miliar (setara lebih dari Rp320 triliun), Proyek Abadi Masela diproyeksikan menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi di kawasan Maluku dan Indonesia Timur. Selain mengamankan ketahanan energi nasional selama masa transisi, proyek ini diharapkan mampu menyerap ribuan tenaga kerja lokal serta menumbuhkan ekosistem industri petrokimia baru di daerah.
Comments (0)