Sep 10, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

Cek Fakta

JAKARTA — Kedelai Impor Melonjak, Perajin Tahu Tempe Terancam Gulung Tikar

Suasana dini hari di salah satu sentra produksi tahu dan tempe di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, tak lagi dipenuhi dengan gelak tawa kehangatan par

JAKARTA — Kedelai Impor Melonjak, Perajin Tahu Tempe Terancam Gulung Tikar

Suasana dini hari di salah satu sentra produksi tahu dan tempe di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, tak lagi dipenuhi dengan gelak tawa kehangatan para pekerja. Bau khas kedelai rebus yang membumbung tinggi kini menyelimuti rasa cemas yang mendalam. Di tengah ketukan papan cetakan kayu dan deru mesin penggilingan, para perajin lokal bertarung melawan kenyataan pahit: harga bahan baku kedelai impor yang terus melambung tinggi tanpa kepastian kapan akan melandai.

Indonesia, negara yang menempatkan tahu dan tempe sebagai sumber protein utama rakyatnya, masih tersandera oleh ketergantungan pasokan luar negeri. Ketika fluktuasi harga komoditas global dan pelemahan nilai tukar rupiah menghantam pasokan kedelai dari Amerika Serikat dan Brasil, guncangannya langsung dirasakan di dapur-dapur warga miskin hingga menengah di pelosok Nusantara.

Beban Berat di Sentra Produksi Lokal

Penelusuran Lurusin.com di lapangan menunjukkan bahwa kenaikan harga kedelai impor telah berlangsung secara bertahap selama beberapa pekan terakhir. Dari harga semula yang berkisar di angka Rp10.500 per kilogram, kini lonjakannya menembus angka Rp13.800 per kilogram. Kenaikan sebesar hampir 30 persen ini menekan margin keuntungan para perajin hingga ke titik paling kritis.

"Kami berada di posisi yang sangat serba salah. Kalau harga tahu dan tempe kami naikkan drastis, pembeli di pasar langsung protes dan lari. Tapi kalau harga tetap, kami yang tekor dan tidak bisa bayar pekerja serta listrik," ungkap Supardi (54), seorang perajin tempe senior di kawasan Jakarta Selatan.

Dilema Siasat Strategi: Memangkas Ukuran demi Bertahan

Demi menjaga kelangsungan usaha tanpa kehilangan pelanggan setia, mayoritas perajin terpaksa mengambil langkah kompromi yang menyakitkan. Strategi memotong ukuran tempe dan tahu menjadi lebih tipis atau lebih pendek menjadi pilihan paling realistis, meski langkah ini acap kali menuai keluhan dari pedagang eceran dan konsumen akhir.

Berikut adalah gambaran estimasi perubahan biaya produksi dan harga jual di tingkat perajin dalam kurun waktu tiga bulan terakhir:

Komponen Produksi Harga Lama (Per Kg/Papan) Harga Sekarang (Per Kg/Papan) Persentase Kenaikan
Kedelai Impor (Bahan Baku) Rp 10.500 / kg Rp 13.800 / kg 31,4%
Biaya Operasional (Gas/Listrik) Rp 2.500 / kg Rp 3.000 / kg 20,0%
Harga Jual Tempe (Papan Standard) Rp 5.000 / papan Rp 6.000 / papan 20,0%

Ketahanan Pangan yang Rapuh dan Ketergantungan Impor

Kenaikan harga ini membongkar kembali persoalan klasik ketahanan pangan nasional. Data Kementerian Pertanian dan asosiasi perdagangan menunjukkan bahwa lebih dari 80 hingga 90 persen kebutuhan kedelai nasional masih dipenuhi melalui jalur impor. Diskontinuitas pasokan global, kenaikan biaya logistik laut, serta dinamika cuaca ekstrem di negara produsen utama secara instan menyengat pasar domestik tanpa ada jaring pengaman yang memadai.

"Pemerintah tidak boleh terus-menerus menutup mata terhadap rapuhnya tata kelola komoditas kedelai nasional. Tanpa adanya insentif konkrit bagi petani lokal untuk menanam kedelai dan intervensi harga bahan baku impor, usaha mikro tahu-tempe yang menyerap jutaan tenaga kerja ini akan gulung tikar secara massal," tegas seorang analis ekonomi pertanian saat dihubungi.

Jika kondisi lonjakan bahan baku ini terus dibiarkan tanpa adanya intervensi harga atau subsidi pakan dari pemerintah, tahu dan tempe—lauk kerakyatan yang bergizi tinggi dan murah meriah—berpotensi berubah menjadi barang mewah yang kian sulit dijangkau oleh masyarakat berpenghasilan rendah.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS dina-aulia

Reporter Investigasi. Meliput isu lingkungan, tambang ilegal, dan deforestasi.

Comments (0)

User