Di tengah jurang ketimpangan ekonomi yang kian melebar di tingkat global, gagasan mengenai meritokrasi—sebuah sistem yang menjanjikan posisi sosial dan ekonomi berdasarkan kemampuan serta usaha individu—mengalami krisis identitas yang amat tajam. Gagasan yang dulunya dipuja sebagai antitesis terhadap sistem aristokrasi dan nepotisme kini kerap dihujat oleh kelompok progresif karena dianggap sekadar menjadi alat legitimasi bagi kaum elite kapitalis. Namun, di tengah gelombang ketidakpercayaan tersebut, sebuah seruan provokatif muncul dari kalangan akademisi keadilan distributif.
Jahel Queralt, seorang pakar filsafat politik dan keadilan distributif, melontarkan kritik menohok terhadap kecenderungan kelompok kiri dan progresif yang dinilai terlalu cepat menyerah dan membuang konsep meritokrasi. Dalam karya esai terbarunya, Queralt mengajak dunia politik modern untuk merebut kembali meritokrasi dari cengkeraman moralitas kesuksesan kapitalistik dan tatanan ekonomi neoliberal yang eksploitatif.
Pembajakan Meritokrasi oleh Kapitalisme Modern
Queralt menyoroti bagaimana narasi meritokrasi saat ini telah mengalami penyimpangan fungsi yang masif. Dalam beberapa dekade terakhir, sistem yang seharusnya menjamin kesetaraan kesempatan ini justru kerap dijadikan tameng untuk membenarkan ketimpangan ekstrem. Siapa pun yang berhasil mencapai puncak hirarki sosial dianggap sepenuhnya berhak atas kekayaannya, sementara mereka yang tertinggal distigma secara moral sebagai pihak yang kurang berusaha.
"Meritokrasi tidak boleh dibiarkan menjadi sekadar alat perpecahan sosial atau moralitas yang menghakimi mereka yang kurang beruntung dalam struktur ekonomi pasar," tegas Queralt dalam analisis keadilan distributifnya.
Penelusuran tim analitis menunjukkan bahwa skeptisisme publik terhadap meritokrasi dipicu oleh kegagalan sistem pendidikan dan pasar kerja dalam menyediakan arena bermain yang benar-benar adil. Bagi kelompok progresif, fenomena ini memicu gerakan untuk meninggalkan narasi meritokrasi secara total. Langkah penyerahan ini dinilai Queralt sebagai kekeliruan strategis yang justru memperkuat posisi kelompok konservatif.
Untuk memahami pergeseran paradigma ini, berikut adalah perbandingan antara penerapan meritokrasi dalam model kapitalisme konvensional dengan gagasan rekonstruksi meritokrasi yang ditawarkan oleh Queralt:
| Indikator Evaluasi | Meritokrasi Kapitalis Neoliberal | Meritokrasi Rekonstruksi (Queralt) |
|---|---|---|
| Fokus Utama | Hasil akhir (*outcome*) dan akumulasi kekayaan materi. | Kesetaraan kesempatan (*equal opportunity*) sejak awal kehidupan. |
| Pandangan pada Kegagalan | Dianggap sebagai kelalaian atau kurangnya kerja keras individu. | Diakui sebagai akibat dari hambatan struktural dan ketimpangan awal. |
| Faktor Keberuntungan (*Azar*) | Diabaikan atau dianggap murni sebagai keunggulan bakat pribadi. | Diakui secara eksplisit sebagai elemen acak yang wajib dikompensasi negara. |
| Peran Negara | Minimalis, menyerahkan mekanisme nilai pada pasar bebas. | Intervensi aktif melalui redistribusi kekayaan dan fasilitas publik. |
Faktor Keberuntungan dan Rekonstruksi Keadilan Distributif
Salah satu poin paling krusial dalam tesis Queralt adalah pengakuan tegas terhadap faktor keberuntungan (*azar*) dalam pencapaian hidup seseorang. Keberhasilan seseorang di dunia modern tidak pernah murni berdiri di atas kerja keras pribadi semata. Tempat seseorang dilahirkan, kondisi finansial orang tua, akses pada jejaring sosial, bakat genetis, hingga dinamika ekonomi global saat seseorang tumbuh dewasa adalah variabel acak yang tidak dapat dikontrol oleh individu.
Dalam pandangan keadilan distributif, menyamakan keberhasilan finansial dengan moralitas keberhakan (*desert*) adalah sebuah kekeliruan fatal. Oleh karena itu, Queralt mendesak agar kelompok progresif tidak menghapus meritokrasi, melainkan menyaring dan merekonstruksinya melalui beberapa langkah kunci:
- Memisahkan Merit dari Moralitas Kekayaan: Seseorang yang berhasil mengumpulkan modal besar tidak secara otomatis lebih bermoral atau lebih layak dihormati daripada pekerja sektor informal.
- Mengintegrasikan Kompensasi Ketimpangan Alami: Negara harus hadir mengompensasi individu yang kurang beruntung dalam lotere acak kehidupan melalui jaminan sosial yang kokoh.
- Membangun Arena Bermain yang Setara: Menjamin akses pendidikan tinggi, layanan kesehatan, dan fasilitas publik berkualitas tanpa memandang latar belakang kelas sosial.
Merebut Kembali Narasi Kesetaraan Sosial
Jika kelompok progresif sepenuhnya meninggalkan gagasan meritokrasi, mereka berisiko kehilangan landasan paling persuasif dalam memperjuangkan mobilitas sosial. Tanpa prinsip dasar meritokrasi yang dibersihkan dari dominasi kapital, kebijakan publik akan sangat mudah bergeser kembali ke arah oligarki murni atau sistem kekerabatan nepotis yang jauh lebih merusak.
"Menyerahkan meritokrasi kepada kelompok kanan hanya akan melanggengkan mitos bahwa sistem saat ini sudah adil. Tinjauan kritis harus dilakukan bukan untuk membunuh meritokrasi, melainkan menyembuhkannya dari penyakit kapitalisme," ungkap Queralt.
Langkah rekonstruksi ini membutuhkan keberanian politik untuk menata ulang kebijakan pajak, reformasi pendidikan, serta penguatan perlindungan tenaga kerja. Hanya dengan mengakui batasan ketimpangan struktural dan peran keberuntungan, meritokrasi dapat kembali menjadi instrumen keadilan sosial yang sejati—bukan sekadar mantra kosong penutup mata masyarakat kelas pekerja.
Comments (0)